Tulisan Tentang Saya

Ilma Alifia Mahardika

Sebuah tulisan mengenai saya dan hanya saya. Berawal dari sebuah tugas, namun setelah dipikir-pikir lagi, ini adalah refleksi saya di umur yang sudah mencapai dua dasawarsa.

Inilah saya, di umur 20 tahun 157 hari.


Nama saya Ilma Alifia Mahardika. Sebagian orang memanggil saya dengan sebutan Ilma, sebagian lain memanggil saya dengan sebutan Mail. Menurut banyak orang saya adalah seseorang yang pendiam. Tidak sepenuhnya salah, tetapi saya akan menjadi tidak pendiam apabila berada di saat yang tepat bersama orang yang tepat. Saya dari dulu tidak terbiasa mengungkapkan apa yang saya rasakan secara leluasa. Selain tidak terbiasa, saya juga merasa tidak bisa menyampaikannya dengan �seru�. Berpura-pura menjadi pendiam akhirnya menjadi pilihan saya. Namun saat ini, saya sudah mencoba beralih ke media lain untuk menyampaikan apa yang tidak bisa saya utarakan melalui lisan. Agak takut karena katanya memendam perasaan bisa menyebabkan penyakit, akhirnya saya menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan di blog. Dan saya merasa lebih jago menceritakan apapun dalam bentuk tulisan. Selain itu, saya juga merupakan seseorang yang kurang bisa mencari bahan obrolan. Saya orangnya tidak kepo dengan urusan orang lain. Urusan menjadi pendiam ini juga didukung oleh sifat saya lain yaitu introver. Saya percaya semua orang memiliki sisi introver maupun ekstrover, hanya saja berbeda levelnya. Saya mengidentifikasi diri sendiri sebagai pemilik kecenderungan introver lebih tinggi daripada ekstrover. Momen-momen ketika saya merasa membutuhkan kesendirian lebih banyak daripada sebaliknya. Meskipun sifat asli saya seperti ini, saya merasa memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Bahkan saya dipercaya sebagai ketua divisi dari subbidang eksternal yang berarti saya sering sekali presentasi di depan banyak orang maupun berbincang empat mata. Sejauh yang saya rasakan, selama ada konteks yang menuntut saya untuk menjadi approachable, berbicara banyak, maupun berkomunikasi baik dalam bentuk apapun, saya yakin saya mampu menyesuaikan diri.
Mengenai etika, saya terbiasa untuk selalu menghormati guru-guru saya. Saya selalu berusaha untuk menjadi sopan jika itu berurusan dengan guru. Karena ibu saya adalah seorang guru, saya mengharapkan murid-muridnya juga berlaku seperti ini terhadap ibu saya. Salah satu kebiasaan lain saya ketika berbicara dengan orang lain adalah memberikan ungkapan tolong, terima kasih, dan maaf. Hal sepele, tapi jika tidak terbiasa, maka tidak akan otomatis terucap di mulut. Saya bersyukur karena hal ini sangat ditanamkan saat saya sekolah di asrama dulu.

Semenjak saya masuk bangku kuliah, saya jadi merasa semakin kalem dalam menghadapi apapun. Menengok jaman sekarang yang banyak orang mudah tersulut amarah karena satu dan lain hal, saya merasa prihatin. Semakin dewasa saya, saya semakin menekankan esensi �berbeda itu tidak apa-apa�. Ya, prinsip saya adalah �berbeda itu tidak apa-apa�. Salah satu blogger mengajari saya hal ini melalui tulisan-tulisannya. Ambil contoh, misalnya ada orang yang jauh mementingkan kegiatan kemahasiswaannya daripada akademiknya. Mungkin sebagian orang akan menganggap dia tidak bertanggung jawab terhadap perkuliahannya. Tapi menurut saya, �Who are we to judge?�. Saya tidak pernah tau bagaimana orang tersebut menjalani kehidupannya dari dulu. Saya meyakini, yang mana yang benar, yang mana yang salah, itu datang dari hati nurani masing-masing manusia. Dan masing-masing manusia adalah individu yang paling tahu tentang dirinya. Singkatnya saya percaya humanisme. Karena hal ini, saya menjadi orang kalem dan cenderung berpikiran positif terhadap orang lain. Selalu mencoba melihat dari kacamata orang lain. Saya rasa hal ini sangat berguna bagi diri saya sendiri karena pikiran menjadi jauh dari hal-hal negatif.
Sebagaimana permasalahan manusia Asia, saya masih memiliki kecenderungan model minority stereotype. Stereotip ini secara sederhana adalah konsep untuk selalu menjadi model utama, hal ini diraih dengan cara misalnya selalu mendapat nilai terbaik di semua pelajaran. Saya akan merasa sangat sedih jika saya bukan yang terbaik. Di satu sisi stereotip ini menguntungkan karena mungkin bisa memacu saya untuk berusaha lebih keras lagi, lebih giat lagi. Namun di sisi lain, saya mungkin bisa terlalu larut dalam kekecewaan terhadap diri sendiri dan malah tidak menghasilkan apapun. Tapi sejauh ini, saya merasa efek buruknya terlalu terasa. Dan saya berusaha untuk menekan stereotip tersebut dari diri saya. Saya banyak belajar tentang self-love. Sebuah gerakan yang sangat positif. Apresiasi untuk diri sendiri penting karena ternyata banyak orang yang tidak mampu memandang sisi positif dari dirinya. Berkat keyakinan ini, ketika saya kecewa, baiklah saya boleh kecewa. Tapi saya akan selalu ingat bahwa saya sudah berusaha dan sudah selayaknya saya mengapresiasi diri sendiri. Karena kalau bukan diri sendiri, siapa lagi?

Baca: Terjebak Dalam Model Minority Stereotype

Berbicara mengenai kehidupan di Informatika, saya memandang diri sebagai orang yang ingin selalu berpartisipasi. Dalam konteks tugas kelompok, saya menuntut diri saya untuk selalu ambil bagian. Pernah suatu ketika teman satu kelompok saya tiba-tiba sudah mengerjakan semua tugas. Di situ saya bener-bener merasa sedih. Enak memang tidak perlu mengerjakan apapun. Tapi entah kenapa, saya selalu merasa tidak terima. Saya menjadi mempertanyakan diri saya. Apakah saya terlalu tidak terpercaya untuk mengerjakan hal tersebut? Saya memegang prinsip, saya pasti bisa, saya akan berusaha, saya mau berkontribusi juga. Sifat ini pun berpengaruh juga ke konteks lain. Dulu saya terbiasa mengerjakan desain di kepanitiaan. Namun, saya berhenti. Kenapa? Karena desain saya tidak digunakan. Saya mempunyai pemikiran, ganggu saya untuk revisi tidak apa-apa, asal desain saya tetap digunakan. Bagi saya, tidak diberi ruang untuk berpartisipasi maupun dicampakkannya usaha saya itu jauh lebih menyakitkan.

Baca: Teknik Informatika ITB: A Snippet of Informatics Student Life #1 (Semester 3)

Demikianlah Ilma, dengan segala lebih dan kurangnya.