Tentang Politik: Sebuah Refleksi

Tentang Politik: Sebuah Refleksi

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk bisa ngobrol dengan salah satu dedengkot dunia sosial politik di KM ITB. Apa hasilnya? Yeah, saya semakin pesimis dengan negeri ini.

Let's make it fast karena sekarang adalah bulan April dan April adalah bulan chaos dalam timeline perkuliahan saya. Huhu.

Kalau ditanya apasih yang kerasa banget bedanya sekarang sama dulu, jawabannya adalah persoalan tentang agama. Saat ini rasanya perbedaan dalam beragama menjadi sangat sensitif. Penyebabnya? Tak lain dan tak bukan adalah masalah politik. Bermula dari ucapan pimpinan ibukota dalam rangka kampanye, namun justru ucapan tersebut menyulut api kemarahan banyak massa. Masyarakat terpolarisasi menjadi pengikut agama ini dan pengikut agama itu. Kita adalah seorang ini, kalau begitu mereka adalah kafir. Vice versa. Bahkan di internal pengikut agama ini terjadi polarisasi pula menjadi yang disebut 'radikal' dan 'apatis'. 'Apatis' menyebut si 'radikal' terlalu lebay. 'Radikal' menyebut si 'apatis' tidak peduli. Gejolak ini bisa jadi susah sembuhnya. Sebuah beban sejarah.

Sekarang rasanya agak gimana gitu dengan keberagaman dalam beragama. Padahal dulu biasa aja. Politik berujung gesekan yang menimbulkan ketidaknyamanan di antara pemeluk-pemeluk agama terkait.

Baca: Provokatif Pada Tempatnya

Hal penting lain, akhirnya saya mengetahui dengan jelas kenapa calon pemimpin pilihan mama saya dan kakek saya berbeda. Tampilan 'merakyat' dari pemimpin terpilih saat ini sukses membuat pemilih yang tidak sempat mengenyam bangku pendidikan terpengaruh. Bobrok-bobrok rencana dan janji beliau ternyata sungguh banyak. Oh tidak, sepertinya saya juga termakan framing yang dilakukan oleh media tentang sosok beliau. Yah media. Penguasa media adalah penguasa yang sebenarnya. Manusia-manusia polos dan naif adalah senjata terkuat dan utama saat ini. Setir sana setir sini agar tujuan poilitis yang terselip bisa meluncur mulus bak di jalan tol pas bukan musim mudik. Semakin jelaslah kenapa guru saya pun menyuarakan tidak akan memilih beliau yang saat ini di tahta.

Dan sekarang sebentar lagi masuk tahun pemilu. Saya diberi pesan supaya hati-hati. Hati-hati terhadap interpretasi-interpretasi tidak jelas saat masa kampanye. Di tahun politik, apa yang sebenernya biasa aja, bisa disulut jadi luar biasa. Imajinasi manusia semakin liar bila memasuki tahun-tahun ini. Jadi satu hal intinya, kalau dalam bahasa Jawa 'ojo gumunan', nggak perlu terlalu amaze jika seseorang ngelakuin apa. Tahun politik, dukungan harus digali sebanyak-banyaknya, dengan cara apa saja. Catat itu.

Dimanakah saya bila ada dua kubu yang muncul dalam dunia perpolitikan? Entahlah. Di tengah-tengah saya rasa. Saya belum bisa mengambil sikap. Saya belum banyak tau. Saya belum 'main' terlalu jauh. Saya masih dalam proses membentuk apa yang saya yakini menjadi sebuah prinsip. Saya tidak mau menjadi kaum polos yang bisa dikontrol kepentingan lain. Saya ingin bebas, tidak ada bias.

Baca: Sepenggal Kisah Adipati Engeka

Tentang menjadi medioker. Sebuah pertanyaan besar yang masih belum saya temukan jawabannya. Akan ke arah manakah saya nanti? Masuk ke korporasi yang kapitalis dan menyandang sebuah gelar 'budak korporat'? Menjalani kehidupan medioker? Sepertinya menyedihkan sekali. Tapi beranikah saya jika tidak meniti jalan itu? Memilih jalur perjuangan mungkin? Beranikah saya untuk meletakkan nasib masa depan saya bukan di tempat yang 'aman'? Ah, pusing sekali memikirkannya.

Satu hal yang dapat saya petik dari kerandoman obrolan ini adalah BACA, BACA, dan BACA. Baca banyak muatan. Baca semua sudut pandang. Harus kritis. Kalau perlu skeptis terhadap jutaan aliran informasi. Jangan sampai hanya melihat satu sisi tanpa memberi kesempatan sisi lain untuk berbicara. Gampangnya nih, jangan cuma follow beliau yang saya sebut-sebut tadi tanpa follow lawan mainnya. Ya, saya kecele di sini. Saya termakan media di bagian ini. Dan sekarang rasanya mata saya baru terbuka lebar. Kesadaran ini baru terpantik.

Pemilu sebentar lagi. Selamat mencari tau, selamat kepo, dan selamat menjadi pemilih cerdas. Jangan naif karena kalau naif bisa dibego-begoin. Jangan apatis karena ya mau dibawa kemana bangsa ini kalau pada apatis elah.

Baca: Golput?

System.out.println("Yaudah gitu aja.");
/* Mabok nugas */