BISMILLAH, saya mulai bedah kasus #FaktaKM50, sebuah penyelidikan langsung dilihat dari perspektif saksi kunci utama sekaligus tersangka Fikri Ramadhan. Kita akan mengikuti alur cerita dengan cara logika kewajaran tanpa melihat faktor suka atau tidak suka.
Briptu Fikri Ramadhan Tawainela lahir di Jakarta Maret 1994. Dia berasal dari Ambon, tepatnya di Tulehu, anak dari keluarga taat beragama. Apalagi, sejak konflik sektarian di Ambon pada 1999, keluarga mewajibkan anak-anak fokus dalam menjalankan ajaran agama.
Fikri pernah tercatat sebagai salah satu anggota Majelis Rasullullah sebuah pengajian di bawah asuhan Habib Munzir. Mengapa hal ini penting perlu disampaikan, agar tidak ada dugaan di awal faktor x, beliau adalah personal pembenci kelompok FPI.
"Saya melihat FPI sama seperti melihat ormas lainnya, sama seperti aksi mahasiswa saat mereka demo jadi sama sekali tidak ada faktor kebencian kepada mereka. Apalagi sejak saya menjadi anggota Polri, penugasan dari pimpinan semua didasarkan atas aturan hukum yang ada."
"Saya begitu sedih karena saat ini saya dituduh seolah melakukan kejahatan dengan label "Unlawful Killing", pembunuhan tanpa hukum dan difitnah karena faktor subjektifitas kebencian personal kepada anggota/ormas FPI. Semua berita dan postingan menyudutkan saya."
"Saya tetap kuat dan tabah menghadapi tuduhan ini. Semua karena faktor support keluarga dan saudara, baik di Tulehu maupun Jakarta yang percaya bahwa yang saya lakukan adalah profesional sebuah tindakan prosedural, yang terpaksa harus saya jalani saat itu."
Standing position Fikri ini penting saya buka di awal agar bisa satu frekuensi dalam melihat cerita kejadian-kejadian di lapangan nanti saat #FaktaKM50 dibuka secara detail. Ada banyak cerita dan foto-foto versi sebelah sana yang menurut Fikri penuh rekayasa dan dibuat-buat.
Lalu ada pertanyaan, kenapa hanya Fikri Ramadhan seorang yang saya tampilkan di #FaktaKM50 ini? Jawabannya, ada di tengah perjalanan #sinetwit ini. Dia sendirian yang melihat jelas semua kejadian saat di TKP, sudut pandang matanya ibarat CCTV yang menangkap semua momen.
Dua tersangka lainnya, polisi yaitu Ipda mohammad Yusmin Ohorella dan almarhum Ipda Elwira Priadi, saya anggap melihat kejadian di #FaktaKM50 sebagai pelengkap saja karena sudut pandang mereka saat kejadian lebih sedikit dibanding Fikri.
Kita mulai cerita bagaimana asal muasal #FaktaKM50 ini terjadi. Bermula dari kasus surat pemanggilan polisi kepada pemimpin FPI, Muhammad Rizieq Shihab (MRS) yang begitu sulit karena dihalangi/dihambat oleh anggota mereka di lapangan. Sangat sulit dipahami mengapa mereka resisten?
Pada 29 November 2020, penyidik Polda Metro hendak menyampaikan surat pemanggilan kepada MRS di kediamannya Petamburan, namun penyidik dihalau dan diusir oleh pendukung MRS. Hoax yang beredar, MRS akan dihabisi jika hadir. Aneh, hoax ini dipercaya, padahal MRS sudah terbiasa.
Panggilan pertama 1 Desember 2020 gagal. MRS tidak datang lalu keluarlah surat panggilan kedua, 2 Desember 2020. Euforia keberhasilan pengadangan panggilan pertama membuat keyakinan banyak pendukungnya, mereka "sangat kuat" bahkan polisi tidak mampu menembus.
Penyampaian Surat Panggilan kedua 2 Desember 2020 berlarut-larut, dari jam 10 pagi tertahan oleh massa hingga akhirnya 5 menit sebelum Magrib tiba dengan mediasi peringatan akhir. Surat panggilan diterima MRS di rumahnya. Rencana pemanggilan 7 Desember 2020.
Setelah surat panggilan kedua diterima, media sosial pendukung MRS penuh konten provokasi agar pada 7 Desember 2020, membuat perlawanan secara anarkis dengan menggerakan massa sebanyak mungkin di sekitar area Polda Metro.
Kapolda Metro saat itu tidak gentar dengan ancaman pengerahan massa pendukung MRS untuk anarkis. Tidak heran, mengapa mereka sangat membenci kapolda sekarang. Padahal, ini taruhan jabatan jika benar 7 Desember 2021 terjadi ricuh maka posisi beliau rawan dicopot.
Pada 6 Desember 2020, Polda Metro melakukan pantauan dan penyelidikan di beberapa tempat yang ditengarai menjadi titik kumpul simpatisan MRS. Salah satunya, di Sentul, Kabupaten Bogor, tepatnya Perumahan The Nature. Disinilah Fikri ditugasi melakukan lakukan pemantauan/pengawasan.
Fikri dkk bertugas melakukan pemantauan berdasarkan surat perintah tugas nomor SP.Gas/9769/12/2020/Subdit III/Resmob tanggal 5 Desember 2020 dan SP.Lidik/5626/XII/2020/Dirreskrimum tanggal 5 Desember 2020 tentang hasil patroli siber soal rencana pengempungan polda oleh ribuan massa.
Dengan adanya surat tugas ini sebenarnya sejak awal sudah harus menghapus tuduhan ke Fikri dkk sebagai "Unlawful Killing". Mereka punya dasar hukum kuat melakukan pengintaian dan pengawasan ancaman tindakan anarkis dari pendukung MRS.
Balik ke Fikri, dia melakukan pemantauan sejak sore hari karena adanya informasi kalau MRS ada di perumahan Nature bersama ratusan pendukungnya di wilayah ini. Karena sifatnya hanya memantau, Fikri mengenakan kaus dan celana pendek saja saat mengawasi lokasi.
Tuduhan-tuduhan yang menyatakan kalau kejadian ini adalah seolah pembunuhan terencana terhapus karena Fikri dkk memang tidak ada persiapan sedikitpun maupun disiapkan untuk konfrontasi, apalagi melakukan operasi bergaya Orde Baru: "cari dan hilangkan"
Sekitar pukul 23.00 WIB, Fikri dkk melihat ada pergerakan 10 unit mobil pendukung MRS keluar dari Perumahan The Nature. Mereka menunggu di pinggir jalan raya dan hendak membuntuti perjalanan 10 mobil ini.
Dari 10 mobil rombongan MRS, saat tiba di pertigaan pintu Tol Sirkuit Sentul ada 1 mobil yang terpisah dengan maksud untuk mengecoh jika ada pengintaian yaitu : 9 mobil ke arah Jakarta dan 1 mobil milik MRS Pajero putih B 1 FPI ke arah Bogor (balik Megamendung).
Saat itu rombongan pengawasan polda metro ada 3 mobil. Ketika 1 dari 10 mobil rombongan MRS memisahkan diri, maka 1 mobil anggota Polda Metro mengikuti 1 mobil Pajero dan 2 mobil lainnya (termasuk Fikri) mengikuti 9 mobil yang ke arah Jakarta.
Rombongan MRS berharap, polisi terkecoh dengan cara ini, menganggap MRS ada di mobil Pajero, hendak balik Megamendung. MRS ternyata ada di rombongan 9 mobil ini. Dari hasil bukti HP pascakejadian, yang dilihat Fikri, kode nama untuk MRS adalah : "Paus" sudah aman.
Nama kode untuk MRS dengan sebutan : Paus ini cukup menarik. Apakah dimaksud menyamakan dengan ikan terbesar dunia atau sebutan mirip dengan pimpinan Vatikan? Apapun itu, kerenlah pokoknya.
Dalam scene mengelabui aparat dianggap pendukung MRS berhasil karena mereka melihat 1 mobil mengikuti Pajero putih, mereka belum sadar, ada 2 mobil lain yang mengikuti rombongan 9 mobil. Posisi mengikuti berjarak 200-400 meter dari mobil paling belakang.
Kendaraan berjalan dengan normal (mungkin belum terdeteksi mereka dikuntit) hingga rombongan mobil MRS keluar tol Pondok Indah menuju arah Cikampek. Dua mobil tim Fikri dkk masih belum tahu tujuan 9 mobil yang dibuntuti.
Saat rombongan MRS tiba di pertigaan exit tol Cikunir, mereka masuk tol layang Mohammed Bin Zayed (MBZ), 2 mobil Resmob Polda terpisah. Mobil Fikri tetap mengikuti lewat tol MBZ ini sementara satu lagi karena lambat jalannya, nyasar masuk tol di bawahnya.
Dikarenakan tol MBZ ini suasananya sangat sepi apalagi tengah malam, maka mendeteksi mobil mengikuti lebih mudah. Di fase inilah rombongan MRS menyadari kalau mereka tengah diuntit oleh mobil Fikri. Kisah kejadian film ala Holywood dimulai dari sini.
Saat kejadian, Fikri menggunakan Toyota Avanza silver, dengan sopir Bripka Faisal didampingi di sisi kiri, Ipda Yusmin dan di belakang ada, Fikri dan (alm) Ipda Elwira.
Dua mobil rombongan MRS mengetahui keberadaan mobil Avanza Fikri dkk, 2 mobil paling belakang yang berisi pengawal MRS menurunkan kecepatan untuk mengadang dan memperlambat laju mobil Fikri sehingga 7 mobil di depan tancap gas, tidak tau ke arah mana setelah exit Karawang.
Dua mobil Chevrolet Spin abu-abu dan Toyota Avanza silver melakukan provokasi kepada mobil yang ditumpangi Fikri dkk tapi Fikri dkk sabar, tidak terpancing provokasi mereka. Mobil dibuat jalan lalu mengerem mendadak, dengan kecepatan 10-15 km/jam. Hingga "Paus" aman tahap 2.
Provokasi yang tidak "ditanggapi" oleh tim Fikri ini dianggap oleh simpatisan MRS tidak berbahaya, bahkan mungkin dianggap takut karena melihat "keberhasilan" menghalau utusan polda saat antar surat panggilan pertama di Petamburan.
Dua mobil simpatisan MRS memepet hingga mengepung sambil melaju, hingga keluar tol MBZ, lalu mereka mengarahkan mobil Fikri keluar tol Karawang Timur. Sampai di sini, dari bukti yang Fikri temui, simpatisan MRS mau "mengerjai" di wilayah Karawang.
Mengapa mereka mengarahkan ke Kerawang? Dari info yang diperoleh sudah disiapkan massa untuk menghajar penguntit mobil. Tapi, rencana pengumpulan massa ini sduah dibubarkan oleh polres setempat. (fakta ini ditemukan oleh Komnas HAM).
Saya ikut menyusuri rangkaian kejadian #FaktaKM50 bersama Fikri saat di pintu tol Kerawang Timur ini. Biar ikut merasakan bagaimana kejadian sesungguhnya sekaligus melakukan asesmen, apakah keterangan Fikri jujur atau bohong.
Saat keluar tol Karawang timur, 4 anggota di mobil Fikri kebingungan karena belum pernah memasuki wilayah itu. Jalann gelap. Mereka diputarbalik melewati jalan raya arteri Pantura menuju Karawang Barat, mencari tempat tepat eksekusi.
Saat 2 mobil simpatisan MRS mendapatkan info kalo "Paus" sudah mendarat dengan mulus di suatu tempat yang hingga kini belum diketahui, mereka bermaksud menyudahi permainan dengan mobil Fikri dkk. Mereka menuju pintu Tol Karawang Barat.
Mobil Avanza Fikri dkk dipepet dan ditabrak bagian kirinya di jalan International Karawang Barat, tepatnya seberang Hotel Novotel oleh Avanza milik simpatisan MRS, kemudian mobil Chevrolet mengdang horizontal mobil Fikri dkk (beneran mirip film GI Joe).
Simpatisan MRS yang turun dari mobil Chevrolet berjumlah 6 orang. Menurut Fikri berbadan cukup besar dan tegap (laskar). Mereka punya keyakinan kalau Ffikri dkk ini tidak akan berani karena diprovokasi berkali-kali tidak melakukan perlawanan.
Empat orang simpatisan MRS yang duduk di belakang mobil Chevrolet keluar dari mobil. Mereka membawa pedang, celurit, tongkat hingga samurai, sementara 2 orang yang duduk di depan Chevrolet, tetap di dalam mobil. Fikri dkk masih diam di mobil.
Dua orang yang membawa pedang dan tongkat melakukan perusakan ke mobil milik Fikri sementara 2 orang lainnya mengacungkan samurai dan celurit, hendak melukai Fikri dkk. Dengan terpaksa Bripka Faisal mengeluarkan senjata dan melepas tembakan peringatan "polisi, jangan bergerak"!
Keempat simpatisan ini kaget begitu mengetahui perlawanan adanya tembakan peringatan. Mereka segera balik ke mobil, namun tiba-tiba 2 orang simpatisan MRS laina keluar, menembak 3x ke arah mobil Fikri, hingga kaca mobil bolong. Tembak-tembakann terjadi hingga Chevrolet lari.
Uji balistik peluru milik simpatisan MRS sudah ada dan dipelajari oleh Komnas HAM saat penyelidikan kemarin. Hasilnya, memang terbukti kalau keberadaan senjata itu bukan hoax. Ada upaya dan niat untuk membunuh petugas. Jadi, Fikri dkk di sini, dalam posisi membela diri.
Saat itu belum ada korban, 1 mobil Avanza milik simpatisan MRS sudah jauh meninggalkan tempat kejadian. Kurang lebih 100 meteran dari lokasi tembak menembak, mobil Avanza Fikri dkk berusaha mengejar 6 orang di Chevrolet.
Fikri dkk berhasil mendahului dari sisi kiri mobil Chevrolet pas di jembatan penyeberangan, dipepet habis agar mobil Fikri menabrak trotoar. Mobil saling berbenturan.
Saat mobil pepet-pepetan, simpatisan MRS yang duduk di depan kiri membuka kaca berusaha menembak (alm) Elwira, namun keburu ditembak Bripka Faisal (sopir) dalam jarak dekat. Suasana benar-benar mencekam menurut Fikri. Saat itu jarak tembak di bawah 1 meter.
Dalam pengamatan Fikri yang duduk dalam posisi lebih jauh, simpatisan MRS yang memegang senjata itu terkena tembakan karena pistol beralih ke simpatisan berikutnya yang duduk di belakang. Saat itu, dia membuka kaca bagian belakang dan melakukan penembakan lagi ke mobil Fikri.
Posisi tembak menembak berubah dari senjata di tangan Faisal dan Wira berpindah ke Yusmin dan Fikri di sisi sebelah kiri, berhadapan dengan simpatisan MRS yang mengambil pistol korban pertama di depan. Beberapa peluru dimuntahkan ke sisi bagian kanan Chevrolet.
Setelah terdesak, kalah tembak-tembakan, maka mobil Chevrolet melarikan diri, menghindari mobil Avanza Fikri dkk. Disinilah korban kedua dari simpatisan MRS jatuh terkena tembakan dalam jarak sangat dekat, hingga mereka berusaha kabur.
Fikri dkk berusaha mengejar Chevrolet saat hendak memasuki pertigaan akses tol karawang barat, chevrolet berhasil melepaskan diri melewati antrian truk2 besar (karawang barat pintu masuk pusat industri). Avanza terhalang masuk. Fikri dkk sdh pesimis utk uber
Setelah lolos dari adangan truk-truk maka Avanza Fikri dkk mencoba mencari Chevrolet karena suasana sangat sepi. Akhirnya mereka memutuskan tetap masuk tol arah Cikampek, dan melaju dalam kecepatan rendah.
Saat Fikri dkk melewati rest area sementara di KM 50, mereka melihat mobil Chevrolet berhenti di tempat itu. Mobil Avanza Fikri dkk ada di sisi jalan tol lalu mereka berhenti hendak menghampiri Chevrolet itu. Diketahui kemudian ternyata Chevrolet ini mengalami pecah ban.
Ketika simpatisan MRS mengetahui Fikir dkk menghampiri, mereka berusaha melarikan diri. Sayang mobil mereka terhalang dan menabrak sedan Corolla yang hendak keluar. Chevrolet berhenti tidak bisa bergerak lagi.
Fikri dkk melakukan penggeledahan, hanya 4 orang yang bisa turun dari dalam Chevrolet sementara 2 orang lain posisi di kiri sopir dan kursi tengah di belakang, diam terkapar.
Dikarenakan simpatisan MRS ini bersenjata, maka proses penarikan dari mobil dilakukan seaman mungkin 4 orang ini ditarik dan dijatuhkan untuk tiarap di kerikil pasir batu jalan rest area KM50. Fikri melakukan pemeriksaan atas 2 orang yang terkulai.
Saat kejadian penangkapan ini, ada beberapa polisi lain berseragam yang sedang bertugas mengawal distribusi bahan baku vaksin Covid-19 ke Biofarma Bandung/ Hal ini dibuat fitnah, seolah simpatisan MRS dikeroyok banyak polisi, padahal tidak ada hubungannya.
Fikri melakukan pengecekan nadi 2 orang simpatisan MRS di mobil mereka dan diketahui sudah tidak tdk bernyawa, terkena tembakan saat tembak menembak ala cowboy dalam jarak yang sangat dekat sekali. (Menjawab tuduhan mengapa luka tembakan jarak dekat).
Saat melakukan penangkapan, alm Wira menelepon 1 mobil milik petugas yang nyasar agar segera membantu dan merapat ke rest area hingga akhirnya petugas mendapat 1 mobil bantuan lagi untuk membantu mengurus simpatisan ini. Penggeledahan dilakukan di Chevrolet ini.
Semua barang bukti diletakkan di bangku milik warung yang berada di rest area #FaktaKM50, sehingga jelas tidak ada penyiksaan yang terjadi di tempat terbuka seperti yang dituduhkan sebelumnya. Jika terjadi lecet atau sedikit lebam mungkin saja karena dorongan saat tiarap.
Sampai cerita di sini, Komnas HAM menyimpulkan tidak ada unsur pidana dari Fikri dkk karena niat terencana melawan petugas hingga niat membunuh, mencelakai petugas dari simpatisan MRS, terbukti jelas dari bukti yang ada.
Nah, sekarang masuk cerita 4 korban berikutnya.
Mobil kedua Xenia warna silver dari petugas yg nyasar tiba ke rest area dikendarai oleh 2 petugas resmob lainnya. Mobil ini dipakai utk mengangkut 4 orang simpatisan MRS yang masih tengkurap di aspal, sementara mobil avanza mengangkut 2 jenazah
Saat memindahkan 2 jasad simpatisan MRS ke mobil Avanza, Fikri masih mencoba melakukan pengecekan nadi namun memang telah tiada. Selain itu seluruh barang bukti pistol dan sajam dimasukan ke Avanza ini dan akan dibawa ke RS Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Seluruh HP dari simpatisan MRS dipegang dan dibuka Fikri. Dari sinilah terungkap komunikasi kode "Paus", mengelabui, mengerjai, sikat, hambat dan sebagainya.
Fikri mengatakan 4 orang simpatisan MRS yang masih tiarap diam seribu bahasa. Mereka tidak berbicara apapun saat ditanya. Justru Fikri dkk yang banyak bicara kepada mereka agar jangan senasib seperti 2 korban, karena melawan petugas.
Faisal berpisah dengan Fikri dkk karena harus membawa 2 jasad simpatisan ke RS Polri menggunakan Avanza yang cukup rusak, sementara mobil towing tiba guna mengangkut mobil Chevrolet ke RS Polri juga. Yang bertugas di mobil Xenia tinggal bertiga saja (minus Faisal).
Tidak berapa lama, datanglah 2 orang Resmob Polda Metro yang kebetulan sedang ngepost di Bekasi, yaitu Rosbana dan Widi menggunakan Toyota Land Cruiser. Keduanya menanyakan apa perlu bantuan, namun semua telah terselesaikan dengan baik. Mereka balik lagi.
Keempat orang simpatisan MRS yang tiarap dimasukkan mobil Xenia. Posisi mereka 1 duduk di tengah dan 3 duduk di bagian belakang, dengan posisi duduk berjongkok karena sempitnya bagian belakang. Mobil disopiri Yusmin, sebelah kiri (alm) Wira dan Fikri di tengah.
Kurang lebih beginilah posisi duduk 3 orang simpatisan MRS di bagian belakang mobil Xenia Fikri dkk. Posisi Fikri di sisi kiri mobil bagian tengah bersama 1 orang simpatisan sebelah kanan.Ada jeda 5-10 menit setelah 4 orang simpatisan MRS ini masuk mobil. Dibiarkan oleh Fikri dkk tanpa pengawasan. Kemungkinan besar di sinilah mereka berdiskusi didlm mobil merencanakan sesuatu jika mobil berjalan.
Mengapa orang ini tidak dilakukan pemborgolan atau apapun namanya? Jawab Fikri saat itu melihat 4 orang ini takut apalagi kita bilang kalau melawan akan senasib dengan teman kalian.
"Kami juga tidak menyiapkan borgol saat itu karena tidak membawa secara khusus karena penugasan di awal hanya mengawasi, sementara senjata memang melekat di kami sebagai proteksi."
Apapun alasan yang disampaikan, saya tetap menilai ini bentuk kelalaian prosedural, menganggap enteng pelaku hanya dengan penilaian sekilas mereka diam dan takut, padahal sesungguhnya masih Berbahaya walau tanpa senjata.
Sesaat mobil Xenia hendak keluar dari rest area, Fikri masih membuka HP milik 6 orang simpatisan MRS. Tanpa dia sadari, posisi pistol ada di balik celana pendek sisi kanan Fikri. Dari sinilah, saya mennilai Fikri adalah CCTV sempurna karena melihat semua kejadian.
Sekitar 200 meter Xenia keluar dari rest area, simpatisan MRS yang duduk tepat di belakang Fikri memiting dan mencekik leher Fikri sementara simpatisan MRS yang duduk di sisi kanan Fikri berusaha merebut pistol Fikri dari balik celana pendek.
Mobil xenia sudah berada di sisi kanan jalan tol Cikampek. Saat kejadian mobil bergoyang keras karena perkelahian didalam mobil. Fikri berteriak keras "Bang, tolong Bang, senjata saya" kepada Wira dan Yusmin di sisi depan mobil.
Wira yang berada di depan Fikri langsung mencabut pistol berusaha melumpuhkan simpatisan MRS yang berusaha merebut pistol Fikri (sudah terebut). Lalu Yusmin yang mengendarai mobil berteriak,"Wir..awas Wir! Posisi pistol Fikri terebut.
Wira dengan cepat balik badan ke belakang, memuntahkan beberapa peluru kepada simpatisan MRS yang merebut senjata Fikri dalam jarak yang sangat dekat. Pistol Fikri jatuh di kursi tengah.
Simpatisan MRS yang mencekik leher Fikri mengubah cekikan menjadi jambakan rambut agar memudahkan 2 teman lain mencari pistol Fikri yang terjatuh. Dalam kondisi terjenggut, Fikri memiringkan tubuhnya, merapat ke jendela mobil agar ada ruang tembak bagi Wira.
Wira kembali menembakkan beberapa peluru kepada pelaku penjambakan Fikri hingga jambakan rambut lepas. Fikir meraih pistol yang terlepas dari simpatisan MRS di sisi kanan yang sudah tertembak. Namun Fikri mendaat pukulan dari 2 simpatisan yag masih berusaha merebut.
Terjadi pergumulan 2 simpatisan dengan Fikri seorang. Senjata sudah di tangan Fikri berusaha direbut. Fikri berteriak-teriak dengan berbagai umpatan agar 2 orang ini menghentikan aksi nekatnya. Senjata fikri ditarik tapi akhirnya meletus tepat di dada dalam tembakan serampangan.
Melihat temannya tertembak, simpatisan MRS terakhir tambah nekat. Dari belakang berupaya merebut senjata Fikri. Ujungnya bernasib sama tertembak beberapa peluru dalam posisi sangat dekat sehingga lukanya mengerikan.
Fikri mengalami luka cakaran di leher saat pergulatan dan beberapa lebam hasil pukulan bertubi-tubi dari belakang sementara 2 orang simpatisan MRS ada yang lebam karena pergumulan. Ini tampak saat bukti visum.
Untuk mempermudah pemahaman rangkaian kejadian di mobil Xenia, saya buatkan video Animasi #FaktaKM50. Bisa kita nilai logika kejadian, runtutannya hingga penilaian kalian, apakah benar terjadi Unlawful Killing?
Kejadian di dalam mobil Xenia berjalan begitu cepat. Dalam uji coba, saya mintaq Fikri mengerjakan langsung kejadian penembakan 4 orang simpatisan MRS. Tidak lebih dari 2 menitan. Inilah jawaban info hoax mengapa Xenia tidak cepat minggir ke kiri.
Setelah Xenia merapat, Yusmin menghentikan mobil dan mengecek keadaan 4 korban. Darah berceceran di dalam mobil. Mereka tewas. Fikri dkk melaporkan kejadian ini kepada pimpinan mereka di Polda Metro dan membawa korban ke RS Polri.
Tuduhan Unlawful Killing kepada 3 petugas (Fikri, Yusmin dan alm Wira) tentu sangat berlebihan. Jika mereka mempunyai niat membunuh, tentu sudah dilakukan di saat yang tepat ketika mereka menemukan Chevrolet di rest area. Hal ini tdk dilakukan karena bukan ini misi mereka.
Dengan berlandaskan surat penugasan, kesabaran dari provokasi-provokasi tentu saat jiwa terancam mereka harus bertindak tegas. Kesalahan prosedural tidak memborgol tersangka bukanlah ranah pidana, apalagi dituduh unlawful killing.
Komnas HAM harus fair dalam menilai.
Saya berharap pengadilan menjadi tempat yang adil bagi Fikri dan Yusmin. Menjalankan tugas dengan taruhan nyawa berkali-kali seharusnya diganjar hadiah bukan malah hukuman berat. Biarlah hukuman adminstrasi yang berjalan karena kelalaian "borgol".
Buat kalian yang sudah membaca, silakan menilai sendiri. Semua yang saya tulis murni berdasarkan kronologi dari Fikri dan kroscek lapangan langsung. Sengaja saya tidak banyak menampilkan bukti yang saya tulis karena bukti-bukti akan disampaikan di pengadilan. Salam sehat selalu.
Sumber: Rudi Valinka (@kurawa), 19 Oktober 2021.

