Meski bencana gempa sering melanda Indonesia, hingga saat ini belum ada cara yang ilmiah dan teruji untuk memprediksi kapan pastinya bumi akan berguncang.
Hal itu karena, gempa tidak selalu datang dengan cara yang konsisten.
Para peneliti masih berusaha menciptakan sistem peringatan dini yang mumpuni. Dengan mengasumsikan bencana terjadi secara berulang, para ahli geologi mencari tahu siklus seismik di sejumlah daerah.
Selain dari data sejarah, para ahli tersebut juga menyelidiki sampel sedimen untuk menentukan kapan gempa bumi pada masa lalu terjadi.
Namun, banyak orang meyakini, alam dapat memberikan pertanda sebelum malapetaka terjadi. Sejak dulu, ada sejumlah hal aneh yang diyakini sebagai pertanda datangnya gempa.
Berikut beberapa kejadian aneh yang dianggap menjadi tanda akan terjadi gempa dahsyat, seperti dikutip PORTAL JEMBER dari berbagai sumber:
1. Cahaya Gempa
Pertanda gempa bumi yang pertama mungkin bisa berupa cahaya.
Kilatan cahaya misterius terlihat sesaat sebelum gempa besar mengguncang China dan Italia. Orang sering menyebutnya sebagai 'cahaya gempa' pertanda terjadinya lindu (gempa bumi) dahsyat.
Cahaya gempa bumi teramati seperti api pendek berwarna biru yang muncul dari dalam tanah, seperti obor cahaya yang mengambang ke udara.
Belakangan ini para ilmuwan Amerika Serikat menemukan petunjuk bahwa cahaya itu dapat dipicu oleh pergeseran lapisan tanah yang menghasilkan muatan listrik yang besar.
Menggunakan wadah besar berisi tepung, para ilmuwan menemukan sebuah fenomena fisika baru. Temuan tersebut dijelaskan secara detil dalam pertemuan American Physical Society di Denver.
Para ilmuwan mengulangi eksperimen yang sama menggunakan bahan yang terdiri dari butiran kecil lainnya. Menghasilkan fenomena tegangan yang sama.
Jika hal seperti itu terjadi di patahan geologi, retakan pada bulir tanah akibat guncangan bisa saja menghasilkan jutaan volt muatan elektrostatik.
Itulah yang kemudian menghasilkan kilatan cahaya di udara yang mungkin bisa menjadi 'sistem peringatan dini' alami gempa bumi yang akan terjadi.
2. Binatang yang Gelisah
Lembah Kangra (Kangra Valley) yang biasanya tenang dalam keanggunan alamnya, berguncang hebat 4 April 1905 pukul 06.19 waktu setempat.
Lempeng India bertubrukan dengan Eurasia, memicu gempa dengan kekuatan Magnitudo 7,8 di barat laut pegunungan Himalaya itu.
Guncangan 'hanya' berlangsung 2 menit, namun dampaknya luar biasa. Bangunan hancur, dinding-dinding rumah retak. Lebih dari 20.000 orang tewas kala itu.
Malam sebelum gempa bumi mengguncang, kejadian aneh terjadi di kebun binatang di Lahore, sekitar 200 kilometer dari pusat gempa. Hewan di sana mengamuk, berontak, dan mengeluarkan suara-suara yang tak biasa.
Menurut catatan pengawas kebun binatang yang berkebangsaan Inggris (kala itu India masih dijajah oleh Britania Raya) semua binatang menolak makanan dan minuman yang diberikan.
"Ia terus memikirkan keanehan itu sepanjang malam sampai-sampai tak bisa tidur. Dan pagi harinya, tiba-tiba gempa mengguncang," situs India Times melaporkan.
Studi akan kemungkinan hewan bisa membaca pertanda gempa sudah lama jadi pembahasan para ilmuwan.
Pada tahun 2004, beberapa jam sebelum gempa dan tsunami di Aceh yang menewaskan lebih dari 200 ribu orang dan terasa oleh sekitar 23 negara, gajah-gajah tunggangan di Thailand bertingkah aneh.
Mereka enggan mematuhi pawang, dan tak sudi menggendong turis. Sementara, hewan di Andaman: ular, kodok, kura-kura, kepiting, dan sejumlah ikan terlihat gelisah dan berenang menuju daratan, sebelum gempa terjadi.
Lalu, adakah landasan ilmiah soal kemampuan luar biasa para binatang?
Para ilmuwan berusaha mencari penjelasan, mengapa beberapa spesies hewan berperilaku aneh sebelum bencana alam dengan menghubungkan kemampuan sensorik binatang dengan rangsangan sensorik mikroskopis dan tak terlihat.
"Saya tak tahu apakah tepat menyebutnya sebagai indra keenam. Sebagian besar hewan tahu, jika Bumi mulai bergetar, pasti ada sesuatu yang salah," kata Ken Grant, koordinator Humane Society International Asia, seperti PORTAL JEMBER kutip dari Washington Post.
Fisiologi sensorik pada hewan sangat sensitif pada suara, temperatur, sentuhan, getaran, elektrostatik, aktivitas kimia, juga medan magnet. Semua itu membuat mereka bisa melarikan diri dalam hitungan hari dan jam sebelum bencana melanda. Lebih dulu dari manusia.
Sementara, seperti dimuat jurnal ilmiah Nature, ahli geofisika kuantum, Motoji Ikeya menemukan bahwa sejumlah binatang bereaksi terhadap perubahan arus listrik. Dan ia sedang meneliti ikan lele, makhluk paling sensitif yang pernah ia kaji.
Bagaimana dengan manusia? Sejatinya manusia juga memiliki indra keenam terkait bencana. Tapi lebih banyak yang kehilangan kemampuan firasat itu.
Meski peka pada bencana, belum ada cara meyakinkan untuk menggunakan hewan dalam memprediksi bencana, terutama gempa. Demikian diungkap Roger Musson, seismolog dari British Geological Survey.
3. Awan Misterius Tsunami
Gempa dahsyat dan tsunami yang menerjang Jepang Jumat, 11 Maret 2011, menjadi inspirasi para ilmuwan untuk menemukan sistem peringatan dini bencana yang lebih akurat.
Salah satu isu besar adalah benarkah langit memberikan pertanda sebelum malapetaka datang?
Seperti dimuat Daily Mail, para ilmuwan dari University of Illinois menangkap pertanda atmosfer terkait tsunami Jepang berupa pijaran udara (airglow) yang ditangkap sebuah observatorium di Pulau Hawaii.
Gambaran tersebut ditemukan pada ketinggian 250 kilometer di atas permukaan Bumi, sekitar satu jam sebelum gelombang air raksasa menghantam perairan Jepang. Pijaran udara adalah lapisan kehijauan yang ditemukan saat kombinasi molekul dipisahkan oleh cahaya matahari.
Penemuan, yang dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, juga menegaskan teori yang dikembangkan pada tahun 1970-an.
Studi-studi ini menunjukkan bahwa tsunami bisa diobservasi dari bagian atas atmosfer, namun sampai saat ini baru bisa didemonstrasikan menggunakan sinyal radio.
Gelombang-gelombang tsunami memiliki potensi untuk meregang beberapa kilometer ke langit dan menyebabkan perubahan yang dapat dicitrakan karena penurunan densitas udara.
Sebelumnya, profesor ilmu bumi dari Chapman University di California, Dimitar Ouzounov, mengatakan bahwa ada keanehan di langit Jepang sebelum tsunami. Atmosfer di atas episentrum gempa Jepang mengalami perubahan tak biasa dalam beberapa hari menjelang bencana.
Pendapatnya itu didasari penelitian terhadap data satelit terkait gempa yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011: ada anomali atmosfer di atas episentrum gempa Jepang beberapa hari menjelang bencana.
Ouzounov dan para koleganya menemukan, konsentrasi elektron dalam ionosfer meningkat, demikian juga dengan radiasi inframerah. Pada 8 Maret 2011, tiga hari sebelum gempa, adalah saat yang paling anomalis.
Para peneliti juga telah mengumpulkan data lebih dari 100 gempa di Asia dan Taiwan. Menurut Ouzounov, mereka menemukan korelasi yang sama untuk gempa yang magnitudenya lebih besar dari 5,5 skala Richter dengan kedalaman kurang dari 50 kilometer.***
SUMBER : https://portaljember.pikiran-rakyat.com
