Insecurities That Just Right

Insecurities That Just Right

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Pun sesuatu yang kurang juga tidak baik. Ini merupakan salah satu prinsip dalam hidup yang saya percayai.

Just right. Cukup. Pas. Merupakan sebuah takaran yang berarti lebih tidak, kurang pun tidak. Sepertinya segala sesuatu di dunia ini harus 'pas' biar berjalan dengan baik dan benar. Seperti suhu bumi yang pas buat habitat hidup manusia. Panasnya agak tinggian, global warming dengan segala efeknya. Dingin dikit, ice age. Contoh lain kadar oksigen yang pas buat manusia bernafas. Oksigen kebanyakan, bakal banyak reaksi yang merugikan. Oksigen kedikitan, manusianya engap nggak bisa nafas.

Prinsip 'pas' penting banget kan. Ayo terapkan konsep ini juga ke kehidupan kita. Meskipun itu ke dalam sebuah konsep yang negatif banget. Insecurity.

Ngomongin insecure pasti bawaannya meh banget gitu kan. Saya juga kok. Hahaha. Perasaan rendah diri dan gelisah yang datang dari diri kita sendiri ini emang bikin susah. Kadang. Iya kadang soalnya kalau insecurities that just right menurut saya justru membuat kita bisa berkembang.

Yakin banget saya, ya meskipun nggak didukung data apa-apa sih, kalau semua orang di dunia ini pasti pernah insecure. Ya siapa sih emang yang hidupnya selalu di atas awang-awang. Pasti ada aja kan episode kehidupan yang lagi jatuh di bawah. Terus pas lagi di bawah ngeliat ke atas, eh kok kayaknya hidup orang lain enak ya. Kok gue gini-gini aja ya. Siapa kayak gitu? Saya lah. Hahaha.

Manusia ada dua jenis, insecure kemudian kabur atau insecure kemudian meluncur jadi keren aja gitu. Insecure kemudian kabur pada saya terjadi kalau nggak bisa kontrol perasaan insecure itu. Rasanya kayak perasaan bahwa saya tuh nggak bakal bisa, saya tuh noob, saya nggak se-oke dia, dan kalimat-kalimat perbandingan lain terlalu kuat ada di pikiran. Serius deh, benci banget saya sama saya sendiri ketika di fase kayak gitu. Dan yang bisa menyelamatkan apa? Distraksi. Alias kabur dari perasaan insecure itu. Ih cupu banget ya.

Tapi saya merasa kadang sedikit insecure itu perlu biar saya berusaha. Jadi inget pas jaman tes masuk perguruan tinggi. Saya insecure sama temen-temen yang udah jelas kampusnya karena keterima lewat SNMPTN. Insecure karena takut nggak diterima di pilihan pertama. Perasaan inilah yang membuat saya belajar terus, latihan soal terus, berusaha nggak bolos les intensif pas SMA (untung temen kamar saya rajin-rajin dulu), doanya kenceng, minta doa sana sini juga. Berusaha banget lah pokoknya, dan in the end berhasil.

Kalau diarahkan dengan bener, dengan pikiran yang nggak sengklek, insecure emang bisa menjadi bahan bakar luar biasa biar bisa semangat berusaha.

Tapi kalau pikiran udah terlalu butek tambah insecure pula rasanya pengen lenyap aja sih, emang. Makanya kadang tuh saya sedih deh. Katanya manusia bebas, manusia merdeka, kok menguasai diri sendiri aja nggak mampu. Bisa-bisanya terjebak dalam insecurity? Hey! Gimana sih kamu Ilma!

Kadang memang insecure itu perlu. Biar aku, kamu, kita nggak jalan di tempat aja. Biar lebih maju. Sesenti kek, dua senti kek, yang penting ada kemajuan kan. Ambillah sedikit tisu, insecure secukupnya. Abis itu berusaha lagi!