Perkara Postingan Media Sosial

Perkara Postingan Media Sosial

Beberapa waktu lalu saya sempat melihat ribut-ribut di Twitter. Emang banyak sih ribut-ribut di sana, tapi yang satu ini agak menarik perhatian saya. Tentang posting makanan di tengah pandemi COVID-19 ini.

Yaelah corona lagi corona lagi kan. Emang ini gara-gara corona kayak banyak banget hal yang bisa di-overthinking-kan.

Balik lagi, jadi inti postingan yang memicu ribut-ribut itu adalah himbauan agar tidak atau menahan diri untuk posting makanan di media sosial. Kenapa? Karena lagi pandemi corona, banyak orang buat dapet makan aja susah.

Sekilas sih kayaknya himbauan itu nggak bermasalah ya, sekilas terlihat seperti empati banget sama orang lain. Namun, menurut saya, himbauan itu sangat egois. Kenapa? Nih saya ambil dulu definisi media sosial dulu ya. Dari wikipedia neh.

Media sosial (sering disalahtuliskan sebagai sosial media) adalah sebuah media daring, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, ...

Berbagi. Ini kata kuncinya. Media sosial macem Twitter, Instagram, dkk. memang dirancang untuk berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi kesedihan, berbagi informasi, dan sebagainya. Memang fungsi dasarnya itu. Kemudian tiba-tiba muncul himbauan tadi, jangan berbagi postingan tentang makanan karena sekarang banyak orang yang susah mencari makan.

Mohon maaf nih, satu, nggak pandemi aja pasti ada aja orang yang kesusahan nyari makan. Karena pasti ada orang yang hidup masih di bawah garis kemiskinan. Jadi, selamanya posting makanan itu hal yang buruk begitu? Dua, berbagi di media sosial bisa jadi merupakan coping mechanism seseorang dalam melepas stress, pengisi waktu senggang, atau sekadar ingin memberi kabar bahwa hai aku sedang baik-baik saja dan sekarang sedang makan makanan enak! Bisa jadi postingan makanan tadi menginspirasi ratusan orang membuat hal yang sama terus dijadikan usaha terus sukses kan mana tau. Banyak banget justifikasi rasional untuk itu. Lagian ya kalau nggak boleh posting tentang makanan, gimana tuh nasib orang-orang yang hidup dari jualan makanan? Gimana jualan mereka bisa laku hey tanpa marketing lewat media sosial?! Tiga, tidak seharusnya berbagi kebahagiaan menjadi sesuatu yang buruk. Nulisnya berbagi kebahagiaan biar konotasinya positif, maksud saya sih pamer. Pamer konotasinya negatif sih. Pun kalau emang pamer nggak salah kok? Pamer aja. Pamer kebahagiaan, pamer barang baru, pamer kampus baru, pamer job baru, dan seterusnya. Masih banyak banget ya orang-orang yang nggak paham bahwa media sosial memang tempat untuk itu. Nggak paham terus sok-sok mengatur apa yang harus diposting orang lain. Duh banget. ??

Selain masalah himbauan jangan posting makanan itu, saya juga heran banget nih sama manusia yang marah-marah ke selebgram gara-gara review makanan di instastory (sekarang lagi bulan Ramadan btw). Melarang mereka posting tentang makanan soalnya lagi puasa. Katanya hormati dong yang puasa! Gimana sih! Terus saya bingung, ini nih yang marah-marah masih anak-anak ya apa bagaimana? Emang kalau ngeliat makanan virtual sedetik aja pada langsung mokel gitu? Emangnya situ masih bocah yang siang-siang mukanya udah madesu gara-gara kelaperan pas puasa? Nggak kan ...

Kenapa ya orang-orang tuh berusaha banget mengatur-atur orang lain. Berusaha memaksa orang lain untuk masuk ke standarnya. Kalau mau ngatur-ngatur jadi pemerintah ajalah sono hadeh. (Julid)

Menurut saya, dalam bermain di media sosial kita sendiri lah yang memegang kendali utama terhadap APA YANG KITA LIHAT. Kalau memang lagi puasa terus laper banget, ngeliat makanan perut makin kruyuk-kruyuk, ya udah jangan dilihat lagi sih maemunah. Jangan difollow juga. Kalau kamu melihat pencapaian temen yang setinggi langit terus kamu merasa kentang, nggak apa-apa kok. Perasaan merasa kentang itu valid. Sedihmu itu valid. Tapi bukan berarti kamu melarang-larang teman kamu posting tentang kebahagiaannya. Kamu yang harus BERHENTI melihat postingan dia. Unfollow. Hide. Block. Apapun lakukan agar kamu tidak melihat postingan yang membuat kamu merasa buruk itu. Setelah beberapa waktu merasa baikan, baru follow lagi. Hal kayak gitu NGGAK APA-APA BANGET kok. Saya sering begitu. Dan saya sangat encourage kalau ada yang nggak nyaman gara-gara postingan media sosial saya, please feel free to unfollow/mute/block me. I'm okay with that.

Ohya, pendapat saya ini dalam konteks konten postingan yang umum ya. Bukan yang mengandung SARA, pornografi, atau semacamnya.

Terakhir sayang, ada satu hal yang harus kamu ingat, this world doesn't revolve around you, get used to it.

Kok kayaknya tulisan ini banyak nada marah-marahnya ya. Hahaha. Maaf ya! ??