Beberapa minggu lalu saya mendapat kuliah tengah malam menjelang pagi bersama teman saya mahasiswa psikologi (Halo, Nia!). Topiknya penting dan dekat banget dengan kehidupan sehari-hari, yaitu tentang PFA atau Psychological First Aid.
PFA merupakan pendekatan yang dilakukan ketika menghadapi seseorang yang terkena kejadian traumatis. Bencana, kehilangan orang yang disayang, kekerasan fisik, dan sebagainya. Sebenarnya PFA ini bisa berlaku secara umum. Bisa diterapkan ketika teman kita menghadapi sebuah masalah dan dia cerita ke kita. Makanya saya bilang topik ini dekat banget dengan kehidupan sehari-hari.
Sebelumnya, dalam menghadapi masalah orang lain selalu pegang dua prinsip.
Prinsip pertama, treat others the way you want to be treated.
Prinsip pertama, treat others the way you want to be treated.
Karena sesungguhnya nggak ada pedoman saklek tentang apa yang harus kita lakukan jika temen cerita masalah ini, cerita masalah itu. Yang terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan memperlakukan teman kita sebagaimana kita pengen diperlakukan jika berada di posisi dia.
Prinsip selanjutnya adalah, know your limit.
Tau batas diri sendiri. Kita bukan superhero. Kita punya batasan dalam 'menampung' masalah orang lain. Jika memang permasalahan orang lain rasanya too much, jujur bilang ke orang bersangkutan bahwa kita tidak sanggup menampungnya. Karena jika melewati batas kemampuan, kondisi psikis diri sendiri bisa memburuk. Inilah alasan mengapa para relawan bencana alam memiliki batas waktu dalam menjadi relawan. Karena manusia punya batas dalam menahan masalah. Jadi, jangan memaksakan diri sendiri ya!
Sebenarnya PFA terdiri dari beberapa core actions gitu, tapi mana saya inget ya. Jadi saya cuma menuliskan hal-hal penting yang saya tangkap saja. Saya berharapnya kita semua bisa memberikan respon terbaik kita ketika menghadapi seseorang yang terkena masalah.
Keep Attention
Ini aturan main mendasar sih, selalu give your 100% attention to their story. Beri gestur mendengarkan seperti menatap langsung, mengangguk kecil, atau memberi gumaman. Atau yang lain apa kek terserah. Saya sendiri kalau cerita ke orang lain selalu merasa nyaman kalau mereka bener-bener menunjukkan mereka sedang mendengarkan saya.
Validasi Perasaan
Salah satu hal kurang tepat yang mungkin kita lakukan saat seseorang menceritakan masalahnya ke kita adalah sok tau.
"Oh, iya gue tau pasti marah banget kan lu gara-gara masalah itu, gue juga pernah dan dulu gue marah banget."
Belum tentu masalah dia bener-bener sama plek dengan masalah yang pernah kita alami kan. Belum tentu juga yang dia rasakan juga persis sama dengan yang pernah kita rasakan. Karena pengalaman setiap manusia itu unik, makanya yang perlu dilakukan adalah validasi perasaannya.
"Oh, pasti kamu marah banget ya?"
"Jadi kamu justru ngerasa sedih sekarang?"
"Lu ngerasanya nggak dihargai ya makanya marah?"
Pahami bener apa yang dia rasakan adalah kuncinya.
"Oh, iya gue tau pasti marah banget kan lu gara-gara masalah itu, gue juga pernah dan dulu gue marah banget."
Belum tentu masalah dia bener-bener sama plek dengan masalah yang pernah kita alami kan. Belum tentu juga yang dia rasakan juga persis sama dengan yang pernah kita rasakan. Karena pengalaman setiap manusia itu unik, makanya yang perlu dilakukan adalah validasi perasaannya.
"Oh, pasti kamu marah banget ya?"
"Jadi kamu justru ngerasa sedih sekarang?"
"Lu ngerasanya nggak dihargai ya makanya marah?"
Pahami bener apa yang dia rasakan adalah kuncinya.
Jangan Menceritakan Masalah Sendiri
Biasanya kalau nggak melakukan validasi perasaan, yang kita lakukan adalah malah menceritakan masalah sendiri. Seseorang yang memilih kita untuk mendengarkan ceritanya TENTU berharap dia akan didengarkan, bukan malah mendengarkan cerita kita. Hal ini bisa jadi malah bikin orang tersebut nggak mau lagi mengeluarkan keluh kesahnya pada kita. Atau malah dia merasa masalahnya terlalu nggak penting.
Inget-inget aja sih fokus utama sekarang adalah permasalahan dia. Mau seremeh apapun di mata kita, tapi itu pasti berarti banyak buat dia. Kalau kebablasan minta maaf aja.
Nggak salah kamu pengen cerita juga tuh. Tapi ada waktunya. Dan saat itu adalah waktu untuk masalah temanmu, bukan kamu.
Inget-inget aja sih fokus utama sekarang adalah permasalahan dia. Mau seremeh apapun di mata kita, tapi itu pasti berarti banyak buat dia. Kalau kebablasan minta maaf aja.
Nggak salah kamu pengen cerita juga tuh. Tapi ada waktunya. Dan saat itu adalah waktu untuk masalah temanmu, bukan kamu.
Hindari "Tapi ..."
Kata 'tapi' itu sesungguhnya melakukan invalidate pada kalimat sebelumnya. Misalnya ada seorang yatim piatu yang masih sedih karena kehilangan orang tuanya. Lalu kita berkata,
"Memang sedih banget ya kehilangan orang tua TAPI kamu keren banget bisa bertahan."
Terasa nggak sih bahwa kata 'tapi' pada kalimat tadi mengecilkan permasalahan pada kalimat sebelumnya. Rasanya seperti,
"Ortu lu meninggal nggak apa-apa lho. Yang penting lu masih bisa bertahan sampai sekarang."
Rasanya seperti masalah utama orang tersebut menjadi nggak penting. Kalau kita di posisi dia pasti marah nggak sih. Kalimat tersebut hanya akan memperburuk suasana. Seakan kesedihan karena kehilangan orang tua itu nggak penting lah woy ngapain sedih kan yang penting masih bertahan. :(
Iya ngerti tujuannya ingin mengapresiasi pada kalimat 'keren banget bisa bertahan'. Namun jauh lebih baik apresiasi atau dukungan itu disampaikan tanpa kesan mengecilkan permalahan yang ada. Hindari banget kata 'tapi'.
"Memang sedih banget ya kehilangan orang tua TAPI kamu keren banget bisa bertahan."
Terasa nggak sih bahwa kata 'tapi' pada kalimat tadi mengecilkan permasalahan pada kalimat sebelumnya. Rasanya seperti,
"Ortu lu meninggal nggak apa-apa lho. Yang penting lu masih bisa bertahan sampai sekarang."
Rasanya seperti masalah utama orang tersebut menjadi nggak penting. Kalau kita di posisi dia pasti marah nggak sih. Kalimat tersebut hanya akan memperburuk suasana. Seakan kesedihan karena kehilangan orang tua itu nggak penting lah woy ngapain sedih kan yang penting masih bertahan. :(
Iya ngerti tujuannya ingin mengapresiasi pada kalimat 'keren banget bisa bertahan'. Namun jauh lebih baik apresiasi atau dukungan itu disampaikan tanpa kesan mengecilkan permalahan yang ada. Hindari banget kata 'tapi'.
Nggak Perlu Kasih Pendapat atau Solusi Jika Nggak Diminta
Kadang orang tuh cerita cuma pengen lega aja. Ya sebenernya udah tau banget solusinya harus bagaimana dan ngapain. Tapi, kadang emang perlu sedikit dukungan, sedikit perasaan lega karena sudah membagi permasalahan tersebut. Orang-orang seperti itu adalah saya banget. Hahaha.Tapi kalau memang ngerasa perlu banget untuk menyampaikan pendapat atau solusi dari sisi kita, izin dulu. Tanya dulu dia perlu hal tersebut apa nggak.
"Mau nggak dengerin menurut gue gimana?"
"Lo mau tau menurut gue gimana nggak?"
Safety & Comfort
Saya nggak pernah mendapat curhatan ekstrem yang mengarah ke self-harm. Tapi kalau tiba-tiba ada seseorang yang bilang ke kita bahwa dia habis melakukan self-harm, plis pastiin apakah lukanya sudah diobati? Apakah lukanya sudah diberi alkohol? Sebenarnya respon kaget dan speechless itu wajar, tapi segera pastiin keselamatan dia ya. Tanya langsung pertanyaan tadi atau kalau perlu ajak ke klinik. Atau mungkin jika dia tiba-tiba datang dengan muka sembab habis nangis, mungkin kasih tisu, atau tawarin minum, atau apapun yang mungkin membuatnya nyaman.
Mencari Orang yang Mirip
Mungkin keadaannya adalah kita punya teman yang kita lihat dia punya masalah nih, kayaknya kesusahan banget, tapi dia nggak pernah cerita. Nggak semua orang bisa dengan mudah mengeluarkan unek-uneknya ke orang lain. Salah satu cara agar dia bisa lebih terbuka adalah mencari orang yang 'mirip'. Mirip maksudnya adalah mungkin sama-sama cewek/cowok, mungkin sama kepercayaannya, mungkin yang sama ras atau sukunya. Dengan orang yang mirip, biasanya akan muncul kedekatan yang lebih, makanya orang jadi lebih mudah terbuka.
Ribet ya menghadapi manusia. Harus jaga omongan tralala trilili. Ya gimana lagi sih udah terlanjur jadi manusia. Wkwkwk. Astaga nggak kebayang kalau saya kuliah psikologi, nggak sanggup dah kayaknya. Hue.
Untuk teman-teman saya yang baca ini, saya mungkin pernah nggak sengaja invalidate perasaan sedih kalian atau mungkin pernah mengecilkan masalah kalian. Maaf banget maaf. Saya dulu masih goblok, tapi sekarang udah agak pinter dikit. I truly sorry, I didn't mean it. :(
Koreksi saya kalau ada yang salah ya. Have a wonderful day!
Koreksi saya kalau ada yang salah ya. Have a wonderful day!