Perkara Membandingkan

Menjadi semakin dewasa tuh luar biasa ya rasanya. Kayak ada aja gitu hal-hal yang muncul jadi masalah. Hal-hal yang pas saya kecil dulu nggak pernah kepikiran sama sekali. Terus saat ini jadi ngerasa, "Loh kok aku kayak gini sih,".

Manusia emang gudangnya iri sama sesamanya yang lain. Dan saya nggak pernah mengira, saya bakal sangat iri dengan kehangatan keluarga orang lain. :)


Pernah nggak sih kepikiran, entah di masa kapan, kalau kalian mengira semua keluarga itu sama. Semua keluarga itu punya rasa-rasa yang sama. Saya pernah berpikir seperti itu. I did and then now I realize I was so wrong back then.

Saya yang sekolah jauh dari rumah ini sering banget dititip-titip ke rumah orang. Ngerasain hawa-hawa beda kehidupan keluarga orang lain. Hingga sampai pada keluarga yang membuat saya berpikir, "Wah, kok rumah gue kayaknya nggak pernah sehangat ini,". Saya berusaha mengingat hal-hal receh dan obrolan lucu nggak penting di rumah tapi saya nggak bisa mengingatnya. Cuma hal-hal yang sifatnya penting yang ada dalam obrolan. Harusnya saya nggak kenapa-kenapa. Toh selama ini juga baik-baik saja kan. Tapi kemudian muncul pembanding. Dan saya benci karena manusia secara natural bakal membandingkan diri sendiri dan orang lain. Saya jadi membandingkan dan tahu apa yang saya nggak punyai tapi orang lain punyai.

Rasanya sungguh tidak benar merasa seperti ini apalagi menyalahkan keluarga. Saya sedang menjalani hidup dalam level sungguh baik. Nggak patut kalau saya menuntut lebih.

Susah sekali ya buat menjaga otak dan perasaan agar tetap chill dalam memandang hidup orang lain. Apalagi hal-hal yang bisa membuat saya iri banget parah adalah selevel punya foto keluarga lengkap, bisa jalan-jalan sekeluarga dalam satu mobil, dan sayang-sayangan dalam keluarga. Tiap buka mata di pagi hari juga saya bakal selalu menemukan orang dengan kemampuan melakukan hal-hal tersebut. Dan pada akhirnya saya cuma diam dan merutuki nasib yang tidak membiarkan saya punya foto keluarga normal atau merasakan sekali saja satu mobil utuh sekeluarga.

Gimana sih cara mengatasi down akibat membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain secara efektif? Biasanya saya memaksa sudut pandang saya untuk melihat manusia dengan kehidupan lebih buruk. Baru kemudian saya bisa bersyukur, berdamai lagi dengan diri sendiri. Tapi strategi pecundang seperti ini tidak pernah membawa kedamaian terus menerus. Biasanya juga saya selalu tidak kepo. Ketidaktahuan adalah anugerah, dan itu sangat benar menurut saya. Kalau saya nggak tahu, saya nggak akan membandingkan. Tapi sampai kapan saya bisa bertahan untuk 'tidak tahu' di tengah gempuran dunia yang penuh sampah informasi ini? Gimana sih caranya biar meskipun saya membandingkan diri dengan orang lain, saya bisa tetap baik-baik saja? Gimana sih biar bisa SELALU merasa cukup?

Saya masih nggak tau.