Judul - Sayap-sayap Patah
Saya tau nama Kahlil Gibran dari usia SD. Soalnya tante saya memiliki sebuah bukunya. Terus makin lama baru tau kalau oh Kahlil Gibran seterkenal itu ya.
Saya baca buku ini di iPunas (kalau belum tau iPusnas baca iPusnas: Cara Kekinian Baca Buku). Buku yang saya baca terbitan Kepustakaan Populer Gramedia dan sudah diterjemahkan oleh M. Ruslan Shiddieq. Sampul bukunya biru mentereng dengan ornamen sederhana. Buku ini udah banyak banget dicetak dengan beragam versi. Dan menurut saya sampul buku Sayap-sayap Patah yang paling cuco dan bikin pengen beli adalah yang terbitan Bentang tahun 2017.
Baca: Tentang Koleksi Buku
Sayap-sayap Patah. Mungkin sekilas dari judulnya bisa ditebak buku ini bergenre apa. Sedih, mellow, dan galau. You name it.
Terus apa yang bikin karya seorang Kahlil Gibran itu beda? Bahasanya teman-teman. Kalau saya kasih perumpamaan, maknanya sedalam samudera. Mungkin sekitar 70% bahasa dalam buku ini adalah bahasa puitis. Hanya paragraf yang mendeskripsikan informasi tentang latar atau nama asing tertentu saja yang less puitis. Pantesan sih, dulu pas masih SD nyoba baca buku Kahlil Gibran nggak ngerti sama sekali dan bingung kenapa bisa banyak orang yang suka. Hahaha. It's just a matter of time ternyata. Saya yang dulu belum bisa menikmati prosa super puitis ini.
Singkat cerita akhirnya saya memberi kesempatan lagi untuk karya Kahlil Gibran agar bisa saya nikmati. Dan terpilihlah Sayap-sayap Patah. Saya awalnya sempat baca jalan cerita ringkasnya. Kayaknya bakal seru kalau saja saya belum membaca jalan cerita tersebut. Jadi buat yang tidak ingin kena spoiler mending jangan baca satu paragraf abis ini. Wkwkwk.
Mengisahkan dua manusia di Beirut - Lebanon yang saling mencintai. Yah, seperti yang kita tau, modal cinta tulus saja tidak cukup untuk menyatukan dua insan. Dan tepat seperti inilah yang terjadi di Sayap-sayap Patah. Tentang putri keluarga berada yang justru karena harta milik orang tuanya, dia harus rela menjadi milik laki-laki yang mencintainya saja tidak. Menolak rasanya tak kuasa dengan konsekuensi sosial di lingkungannya. Menerima berarti dia akan mematahkan sayap-sayap yang menjadi simbol kebebasan dia. Dan sayap yang patah menjadi pilihannya. Bagaimana dengan si pria? Merana. Sepertinya tiap bait-bait prosa yang dituliskan Gibran tentang si pria hanya menggambarkan sedih, sedih, dan sedih. Lama sudah penderitaan yang dialami keduanya. Akhirnya berkah datang. Seorang anak menjemput ibunya dari kepedihan menikah dengan laki-laki jahat. Anak tersebut mengantarkan ibunya kepada Tuhan. Dan hati si pria yang mencintai ibundanya turut terkubur dalam pusara ibu dan anak tersebut.
Huah. Jadi begitu jalan ceritanya.
Baca: [BACA BUKU] Orang-orang Bloomington
Saya overall suka dengan buku ini. Meskipun menurut saya ada plothole di ceritanya. Ya gimana bisa begitu fall in love with someone cuma dari ketemu pertama kali, ngobrol aja nggak, dan cuma semacam telepati. Tiba-tiba langsung tau isi hati satu sama lain tanpa ada ungkapan kata-kata. Menurut saya aneh aja sih. Tapi karena ini judulnya Sayap-sayap Patah, sepertinya memang yang ditonjolkan adalah sisi menyedihkannya. Bukan sisi membahagiakan saat jatuh cinta.
Buku ini buat bacaan remaja menuju dewasa. Kayak yang saya bilang sebelumnya. Saya nggak ngerti sama sekali isi buku Kahlil Gibran ketika saya masih berumur SD. Nggak ngerti kalimatnya terus jadi males bacanya. Hahaha.
Ohya, di bagian belakang buku ada glosarium butir-butir hikmah alias kumpulan kata-kata bagus dari keseluruhan buku.
Selamat menggalau.
Saya baca buku ini di iPunas (kalau belum tau iPusnas baca iPusnas: Cara Kekinian Baca Buku). Buku yang saya baca terbitan Kepustakaan Populer Gramedia dan sudah diterjemahkan oleh M. Ruslan Shiddieq. Sampul bukunya biru mentereng dengan ornamen sederhana. Buku ini udah banyak banget dicetak dengan beragam versi. Dan menurut saya sampul buku Sayap-sayap Patah yang paling cuco dan bikin pengen beli adalah yang terbitan Bentang tahun 2017.
Baca: Tentang Koleksi Buku
Sayap-sayap Patah. Mungkin sekilas dari judulnya bisa ditebak buku ini bergenre apa. Sedih, mellow, dan galau. You name it.
Terus apa yang bikin karya seorang Kahlil Gibran itu beda? Bahasanya teman-teman. Kalau saya kasih perumpamaan, maknanya sedalam samudera. Mungkin sekitar 70% bahasa dalam buku ini adalah bahasa puitis. Hanya paragraf yang mendeskripsikan informasi tentang latar atau nama asing tertentu saja yang less puitis. Pantesan sih, dulu pas masih SD nyoba baca buku Kahlil Gibran nggak ngerti sama sekali dan bingung kenapa bisa banyak orang yang suka. Hahaha. It's just a matter of time ternyata. Saya yang dulu belum bisa menikmati prosa super puitis ini.
Singkat cerita akhirnya saya memberi kesempatan lagi untuk karya Kahlil Gibran agar bisa saya nikmati. Dan terpilihlah Sayap-sayap Patah. Saya awalnya sempat baca jalan cerita ringkasnya. Kayaknya bakal seru kalau saja saya belum membaca jalan cerita tersebut. Jadi buat yang tidak ingin kena spoiler mending jangan baca satu paragraf abis ini. Wkwkwk.
Mengisahkan dua manusia di Beirut - Lebanon yang saling mencintai. Yah, seperti yang kita tau, modal cinta tulus saja tidak cukup untuk menyatukan dua insan. Dan tepat seperti inilah yang terjadi di Sayap-sayap Patah. Tentang putri keluarga berada yang justru karena harta milik orang tuanya, dia harus rela menjadi milik laki-laki yang mencintainya saja tidak. Menolak rasanya tak kuasa dengan konsekuensi sosial di lingkungannya. Menerima berarti dia akan mematahkan sayap-sayap yang menjadi simbol kebebasan dia. Dan sayap yang patah menjadi pilihannya. Bagaimana dengan si pria? Merana. Sepertinya tiap bait-bait prosa yang dituliskan Gibran tentang si pria hanya menggambarkan sedih, sedih, dan sedih. Lama sudah penderitaan yang dialami keduanya. Akhirnya berkah datang. Seorang anak menjemput ibunya dari kepedihan menikah dengan laki-laki jahat. Anak tersebut mengantarkan ibunya kepada Tuhan. Dan hati si pria yang mencintai ibundanya turut terkubur dalam pusara ibu dan anak tersebut.
Huah. Jadi begitu jalan ceritanya.
Baca: [BACA BUKU] Orang-orang Bloomington
Saya overall suka dengan buku ini. Meskipun menurut saya ada plothole di ceritanya. Ya gimana bisa begitu fall in love with someone cuma dari ketemu pertama kali, ngobrol aja nggak, dan cuma semacam telepati. Tiba-tiba langsung tau isi hati satu sama lain tanpa ada ungkapan kata-kata. Menurut saya aneh aja sih. Tapi karena ini judulnya Sayap-sayap Patah, sepertinya memang yang ditonjolkan adalah sisi menyedihkannya. Bukan sisi membahagiakan saat jatuh cinta.
Buku ini buat bacaan remaja menuju dewasa. Kayak yang saya bilang sebelumnya. Saya nggak ngerti sama sekali isi buku Kahlil Gibran ketika saya masih berumur SD. Nggak ngerti kalimatnya terus jadi males bacanya. Hahaha.
Ohya, di bagian belakang buku ada glosarium butir-butir hikmah alias kumpulan kata-kata bagus dari keseluruhan buku.
Selamat menggalau.