Penulis - Budi Darma
Judul - Orang-orang Bloomington
Akhirnya saya comeback yey. Terakhir nulis review buku bulan September 2018 dong, bukunya Origin punya Dan Brown. Waw lama sekali. Bahkan saya sampai lupa format nulisnya kayak gimana. Sedih. Gara-gara kepotong tugas, ujian, tralala trilili kan. Mana kadang bosenan, gonta-ganti buku jadinya. Terus semuanya jadi belum kelar dibaca. Di akun goodreads saya (add friend dulu dong), currently reading-nya ada lima buah buku. Hahaha.
Oke. Balik ke topik utama tulisan ini. Kali ini saya mau ngomongin sebuah kumpulan cerpen yang berjudul Orang-orang Bloomington.
Saya beli buku ini di Togamas Bandung. Waktu itu ngelirik buku ini soalnya ada komentarnya Eka Kurniawan. Ya meskipun saya belum membaca satu pun buku beliau, tapi kepopuleran Cantik itu Luka membuat saya jadi melirik buku ini karena wah Eka Kurniawan aja ngasih feedback bagus lho. Nggak cuma itu, terpampang pula nama Leila S. Chudori yang novelnya Pulang dan Laut Bercerita saya suka. Jadi begitulah kisah bagaimana buku ini akhirnya mendarat di tangan saya.
Buku ini cukup kecil dengan tebal hampir menyentuh angka 300 halaman. Sampulnya didominasi warna coklat usang dengan ilustrasi sebuah kota. Tipikal kota yang padat penduduk.
Terdapat tujuh cerita dalam buku ini. Keseluruhan cerita mengambil latar tempat Kota Bloomington. Secara umum menceritakan bagaimana kehidupan dari orang-orang di Kota Bloomington. Cerita pertama berjudul "Lelaki Tua Tanpa Nama". Bercerita tentang seorang laki-laki yang terlihat berbahaya. Selanjutnya cerita dengan judul "Joshua Karabish". Berkisah tentang konflik dengan teman sekamar. Lalu cerita berjudul "Keluarga M". Tentang seseorang yang menghadapi tingkah polah anak-anak. Kemudian ada kisah "Orez". Kisah tentang anak istimewa. Selanjutnya ada cerita "Yorrick". Konflik dengan orang yang dianggap selalu beruntung. Lalu cerita dengan judul "Ny. Elberhart". Bercerita tentang wanita tua yang bersikap menyalahkan semua kecuali dirinya sendiri. Dan yang paling terakhir berjudul "Charles Lebourne". Tentang pemuda yang menemukan ayahnya yang telah menyakiti sang ibu.
Kumpulan cerpen ini beda banget dari cerpen-cerpen yang selama ini saya baca. Bisa dilihat dari intisari yang saya tulis sebelumnya, pokok ceritanya memang sesingkat itu. Biasanya cerpen yang saya baca lebih menitikberatkan ke alur dari cerita. Cerpen ini nggak, menurut saya. Justru malah alur ceritanya terkesan, oh gitu doang. Tapi kumpulan cerpen ini menggali lebih ke sisi labil perasaan manusia. Sisi labil perasaan ini lah yang kemudian tercermin dalam tindakan-tindakan tokoh dalam cerpen. Dan mungkin tindakan mereka bakal mengusik perasaan kalian sendiri. Nyontek dikit dari sinopsis belakang buku nih ya, perasaan-perasaan umum manusia seperti iri, dengki, marah, prasangka, benci, kesepian benar-benar dicampur aduk dalam penuturan cerita dalam buku ini.
Buku ini menurut saya definisi sesungguhnya cerpen atau cerita pendek. Cerpen yang bukannya cerita panjang yang dipendek-pendekkan. Cerpen yang hanya memiliki sepotong kecil alur cerita. Meskipun kecil tapi masih menggoreskan sebuah makna ketika membacanya. Makna apa? Bahwa emosi-emosi manusia itu sungguh nyata dan melekat dengan dinamika kehidupan sehari-hari. Selesai membaca tiap cerita saya selalu merasa, oh bisa gitu ya tingkah si tokoh utama. Di satu sisi kadang merasa doesn't make sense, tapi begitu saya menempatkan diri saya seutuhnya menjadi si tokoh utama oh semuanya menjadi wajar.
Beda banget lah pokoknya sensasi baca kumpulan cerpen ini.
Bisa dibaca untuk remaja sampai dewasa.
Genre slice of life banget.