[BACA BUKU] The Kite Runner

[BACA BUKU] The Kite Runner

Penulis - Khaled Hosseini
Judul - The Kite Runner


Akhirnya kesampaian baca buku ini setelah pengen dari sekian lama. Pengen banget baca ini karena udah pernah baca novel Khaled Hosseini lain yang judulnya A Thousand Splendid Suns dan suka banget. Sampai nyesek parah kebawa alur cerita novelnya. Terus katanya The Kite Runner adalah bukunya yang paling terkenal. Jadinya memutuskan saya harus baca!


Sebenarnya judulnya rada ambigu ya. Ketika pertama kali tau buku ini langsung mikir, "Apaan sih kite runner? Pelari layang-layang?". Tidak tertebak isi ceritanya tentang apa.

Baca: Tentang Koleksi Buku

Sampulnya yang terbaru menunjukkan gambar dua orang anak laki-laki yang saling berangkulan dengan latar langit biru. Standar sih sampulnya menurut saya. Mungkin dari ilustrasi gambar bisa sedikit ditebak tentang apasih buku ini. Buku ini tentang hubungan pertemanan dua orang anak laki-laki. Tentang persahabatan, pengkhianatan, dan luka.

Mengambil latar belakang daerah Afghanistan dari sebelum jaman perang melawan Russia hingga jaman pendudukan oleh Taliban. Tokoh utama bernama Amir, putra seorang businessman sukses di daerahnya. Sayang ibunya telah meninggal ketika melahirkan Amir. Amir dan babanya (panggilan untuk ayah) memiliki pelayan yang merupakan keturunan Hazara bernama Ali. Dikisahkan Hazara adalah keturunan etnis di Afghanistan yang mengalami persekusi di sana  dan bahkan di masa mendatang akan mengalami pemusnahan oleh kaum Taliban. Ali memiliki seorang putra bernama Hassan. Anak laki-laki berbibir sumbing yang ditinggal pergi ibunya sendiri selepas melahirkannya. Amir dan Hassan tumbuh dan bermain bersama. Bahkan menyusu di satu ibu yang sama. Meskipun begitu, tembok kasta itu tetap ada. Amir senang bermain dengan Hassan, namun tidak pernah mengakuinya sebagai teman. Di sisi lain, Hassan selalu dan selalu menuruti apapun perkataan Amir, dan tidak pernah melawan anak majikannya itu. Lalu apa hubungannya dengan kite runner? Di masa itu menerbangkan layang-layang adalah sebuah tradisi. Layang-layang siapa yang bertahan paling lama di angkasa, dialah juaranya. Layang-layang putus yang berjatuhan akan diperebutkan oleh seisi penduduk kota, orang-orang yang memperebutkan layang-layang inilah yang disebut kite runner. Amir adalah penerbang layang-layang, Hassan adalah kite runner. Namun, setelah tradisi inilah sebuah insiden terjadi. Hassan mengalami pelecehan. Dan Amir hanya bisa diam terpaku. Untuk selamanya, hubungan Amir dan Hassan tak pernah lagi sama. Bukan karena Hassan marah kepada Amir, justru Amir yang begitu marah pada dirinya sendiri. Hingga di masa mendatang, Amir harus berkorban untuk Hassan agar semua beban masa lalu terangkat dari pundaknya.

Sedih banget novel ini. Baru pertama kali saya baca novel dengan konflik utama si tokoh utama dengan diri sendiri. Tentang seorang tokoh yang marah dan kecewa, bukan kepada siapapun melainkan dirinya sendiri. Menyesakkan rasanya melihat orang lain berkorban banyak, namun diri sendiri terlalu pengecut untuk berkorban balik demi orang tersebut. Menyedihkan banget nggak sih. Asli saya nangis baca ini. Huhuhu.

Baca: Menagap Mengapa Mengapa

Banyak pertanyaan jadi berputar di benak saya. Sanggupkah saya kalau berada di posisi Amir? Menanggung luka bertahun-tahun karena kepengecutan diri sendiri. Sanggupkah saya seloyal Hassan? Yang bahkan marah pun tidak kepada Amir.

Saya tidak bisa berhenti baca buku ini. Addict banget dan saya selalu dibuat penasaran dengan apa yang bakal terjadi selanjutnya. Prestasi banget karena saya bisa menghabiskan buku ini hanya dalam waktu dua hari. Seru deh pokoknya. Spoiler alert, bakal ada plot twist di sepertiga akhir buku.

Mengenai latar tempat dan suasana dalam novel ini, banyak melibatkan konflik Afghanistan dengan Russia maupun Taliban. Saya kurang tau detilnya. Intinya jangan menjadikan novel ini satu-satunya sumber untuk mengetahui kondisi Afghanistan saat itu.

Membaca novel nuansa perang gini membuat saya selalu bersyukur bahwa saya hidup di negara yang jauh dari konflik. Ada sih konflik, tapi saya tidak pernah benar-benar dekat dengan konflik tersebut. Saya tidak pernah merasakan pendudukan Jepang maupun Belanda atas Indonesia. Pun saya tidak merasakan pemerintahan otoriter sebagaimana Taliban yang digambarkan di novel ini. :"

Baca: [BACA BUKU] Laut Bercerita

Saya rasa ini bacaan untuk remaja sampai dewasa. Ohya, versi terjemahan yang saya baca ini bagus kok. Nyaman banget dibacanya dan pemilihan diksinya nggak terasa aneh. Tidak mengecewakan, ku senang.