Nonton Bunga Penutup Abad

Nonton Bunga Penutup Abad

Sangat sangat too late tapi saya harus mengabadikan ini di blog!

Bulan November kemarin akhirnya saya bisa nonton Teater Bunga Penutup Abad. Tepatnya tanggal 17 November 2018 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Teater Bunga Penutup Abad ini diadakan oleh Titimangsa Foundation.

Tahun 2017 sebenarnya teater ini sudah pernah diadakan. Salah satunya diadakan di Kota Bandung. Dan karena saya KELAMAAN MIKIR, akhirnya tiket kelas murah udah habis. Mau beli yang mahal kok sayang ya uangnya. :(

Begitu di tahun 2018 ini diadakan lagi Teater Bunga Penutup Abad, tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk nonton, harus nonton nggak mau tau. Saya khawatir ini bakal menjadi yang terakhir pentas ini diadakan. Dan dua teman saya mau nonton juga yey. Satu yang rebutan beli tiket. Iya, rebutan. Katanya pas dia pilih kursi, kursi kelas tiga yang baris depan udah abis dong. Untung kita masih dapet tempat di tengah-tengah. Satu yang menampung saya di rumahnya. Thank you, guys!

Harga tiket untuk nonton teater ini berkisar dari 200 ribu sampai 1 juta. Yang harganya 1 juta itu nontonnya persis depan panggung. Matanya sejajar sama para pemain. Yang beli ibu-ibu borju. Level saya belum segitu. Wkwkwk. Makin murah harga tiketnya, makin tinggi tempat duduknya. Saya beli yang 200 ribu (kelas tiga) dan tempat saya nonton di lantai 3. Harus menyipit-nyipitkan mata sepanjang cerita karena sejauh itu woy!

Teater Bunga Penutup Abad
Pemandangan dari kursi yang saya duduki

Abis acara kepala saya langsung pusing. Hahaha.

Show-nya berlangsung selama dua jam kalau nggak salah. Kalau telat harus nunggu blackout baru boleh masuk. Pokoknya nggak boleh ada yang sembarangan keluar masuk.

How is the show?

I definitely love it!

Saya suka acting-nya. Pemainnya emang artis-artis papan atas. Dan latihannya dari bulan Juni. Waw. Saya suka musik pengiringnya (mereka jual CD-nya juga). Penata musiknya Ricky Lionardi. Kalian harus denger soundtrack-nya. So mesmerizing.


Orang-orang yang terlibat di pementasan ini emang luar biasa. Pantes harga tiketnya segitu! Hahaha.

Ah, coba saya di VVIP. Pentas ini bakal makin nendang rasanya. Kayaknya saya bakal auto mewek kalau kursi saya di kursi VVIP. Ya gimana ya, kan bisa ngeliat ekspresi pemainnya dengan jelas banget. Terutama pas bagian sedih-sedih. Pengen. Wkwkwk.

Abis pentas, para pemain bisa diajak foto bareng di lobi. Saya dan teman saya berhasil foto bareng Lukman Sardi dan Happy Salma. Yey. Sisanya? Kita terlanjur dihalau sama bapak-bapak baju item. Hahaha.

Nonton Bunga Penutup Abad + Lukman Sardi
Foto bareng Lukman Sardi

Nonton Bunga Penutup Abad + Happy Salma
Foto bareng Happy Salma

The Story

Bunga Penutup Abad merupakan pentas yang mengadaptasi (bahasa mereka 'dialihwahanakan') dari novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia.

Peringatan, ini bakal mengandung spoiler kisah di Bumi Manusia ya.

Terdapat lima tokoh yang berperan di pementasan ini. Minke diperankan Reza Rahadian. Nyai Ontosoroh diperankan Marsha Timothy (pentas tahun 2017 pemerannya Happy Salma, pentas tahun 2018 ini Happy Salma menjadi produser saja). Annelies diperankan Chelsea Islan. Jean Marais diperankan Lukman Sardi. Mai Marais diperankan Sabia Arifin.

Alur cerita pentas ini adalah maju mundur. Latar waktunya dimulai ketika Annelies sudah berangkat ke Nederland. Sepanjang cerita akan terjadi banyak flashback ke masa lalu. Sangat noticeable kok pergantian waktunya berkat lighting yang mantap. Saya merasa mudah mengikuti jalan cerita karena udah baca Bumi Manusia. Yang belum baca mungkin sedikit bingung ya, apalagi ada beberapa kosakata bahasa Belanda yang dipakai.

Babak pertama menunjukkan Minke dan Nyai Ontosoroh yang sedang membaca surat dari Panji Darman, utusan mereka yang mengawasi Annelies saat diboyong ke Nederland.

Lalu adegan berubah menjadi monolog Minke, dia menceritakan apa yang sedang terjadi dan mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Annelies.

Suasana berubah menjadi saat pertama kali Minke mengenal Annelies sekaligus Nyai Ontosoroh. Bagian ini banyak lucunya. Kenapa? Soalnya Minke lagaknya masih malu-malu lucu gitu. Gambarannya gini, si Minke baru pertama kali berkunjung ke rumah Nyai Ontosoroh, terus langsung salting gitu sama Annelies. Wkwkwk. Sering banget penonton ketawa di babak ini.

Lalu babak-babak selanjutnya menguraikan konflik-konflik yang terjadi.

Mengapa Tuan Herman Mellema (papa Annelies) berubah. Dan akhirnya dia berakhir mati di rumah bordil.

Kemarahan Minke yang didorong oleh Jean Marais untuk menulis dengan bahasa Melayu. Sebenarnya bagian ini merupakan isi dari buku kedua Bumi Manusia yang berjudul Anak Semua Bangsa. Seingat saya.

Mengapa Annelies begitu terguncang ketika mengetahui dia akan dikirim ke Nederland. Annelies, perempuan ini, menyimpan luka trauma yang dalam. Luka trauma karena Robert Mellema, abangnya sendiri, menodai dirinya.

Kemarahan Nyai Ontosoroh terhadap ayah ibunya. Terhadap ayahnya yang menjual dirinya ke Tuan Herman Mellema. Terhadap ibunya yang lemah tidak mampu mempertahankan dirinya. Hingga akhirnya Nyai Ontosoroh berkembang menjadi wanita mandiri. Keterampilannya, pemikiran, dan pembawaannya mampu melebihi perempuan hasil dari didikan Eropa.

Konflik puncaknya yaitu campur tangan Mevrouw Amelia Mellema Hammers dan anaknya Maurits Mellema dengan keluarga Nyai Ontosoroh. Dengan menggunakan kekuatan 'Eropa murni' mereka mengambil alih seluruh harta kekayaan Nyai Ontosoroh. Bahkan merebut Annelies dari pangkuannya. Oleh karena itulah Annelies dikirim paksa ke Nederland.

Akhir dari kisah ini menyayat hati. Annelies mati. Noni kesayangan banyak orang ini mati. Tak tahan menahan depresi yang dideritanya. Nyai Ontosoroh menagis meraung, siapapun yang mendengarnya niscaya akan merasakan hatinya mencelos. Dan Minke, Minke hanya mampu mengenang dia melalui lukisan potret Annelies buatan Jean Marais. Lukisan ini diberi nama Bunga Penutup Abad.

Setelah itu tepuk tangan meriah dari penonton dan mengelap air mata-air mata yang nggak sengaja menetes.

***

Saya seneng banget bisa berkesempatan nonton pementasan ini. Can't wait for future shows with lower chairs of course. Wkwkwk.

Nonton Bunga Penutup Abad
Gelap wkwkwk