Islam sebagai salah satu agama yang paling banyak dianut oleh umat manusia di muka bumi saat ini memiliki sejarah yang panjang. Baik jika ditelusuri secara historis maupun filosofis. Tidak diragukan lagi dengan panjangnya perkembangan Islam yang dimulai dari tanah Arab tersebut membuat banyak peninggalan yang masih bertahan hingga saat ini, termasuk ranah arsitek, sastra, dan ideologi serta pemikiran.
mecmining.com.au
Sebagai agama, Islam tentunya tidak akan lengkap jika hanya kita lihat pada sudut pandanga kemunculanya semata, tetapi bagian penting dari kehadiran islam adalah persoalan perbaikan akhlak manusia. Kemudian dapat kita simpulkan lagi bahwa menjadi sebuah kenyataan bahwa Islam yang melingkupi seluruh aspek kehidupan ini telah mengatur seluruh hal dalam kehidupan, baik itu masalah hubungan manusia terhadap tuhan, hubungan manusia terhadap manusia lainya, maupun hubungan manusia terhadap alam.
Salah satu hal yang amat menarik untuk kita kaji dalam pemahaman soal Islam adalah bagaimana sistematika Islam dalam memandang suatu organisasi. Terlebih lagi jika kita lihat seperrti apa Islam mengatur sebuah organisasi. Tidak hanya berhenti pada persoalan bagaimana Islam memandang soal kepemimpinan, tetapi penulis juga menekankan pada penyelesaian masalah yang ada dalam Islam.
Manajement konflik merupakan salah satu hal yang penting dalam sebuah organisasi. Dari sini akan menarik jika kita dapat melihat dan menelusuri bagimana Islam memandang ssebuah permasalah dan bagaimana juga cara penyelesaian dari permasalahan yang ada dalam suatu organisasi. Selain itu kita juga dapat mempelajari dari tauladan-tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW.
Budayaan Kepemimpinan dalam Pandangan Islam
Dalam pandangan Islam mengenai organisasi merupakan kesatuan yang harus tetap terjaga. Tentu saja dalam sebuah organisasi haruslah memiliki seorang pemimpin yang dapat diandalkan sebagai pengampu orang-orang yang berada di lingkup sebuah organisasi. Salah satu hal yang dapat dilakukan seorang pemimpin dalam menjaga kekuatan organisasi tersebut, haruslah pemimpin tersebut bersikap adil.
Berkenaan dengan keharusanya bersikap adil bagi seorang pemimpin telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur�an surah An-Nissa ayat 58:
�....Apabila kalian memutuskan perkara di antara manusia, maka hendaklah kalian memutuskan dengan adil� (QS. An-Nissa: 58)
Selain memiliki sikap yang adil, seorang pemimpin dalam organisasi juga dituntut untuk memberikan tugas ataupun perpanjangan tangan kepemimpinan terhadap bawahan yang dinilai paling kompeten dalam organisasi tersebut, jika seorang pemimpin tidak memberikan amanah terhadap orang yang paling kompeten pada anggota organisasi tersebut, maka dikatakan dalam sebuah hadits bahwa oarng tersebut telah mengkhianati Allah SWT.
�Barangsiapa yang menugaskan seseorang pada suatu kelompok, sementara ia menemukan dalam kelompok tersebut seseorang yang lebih baik dari orang itu, maka sungguh ia telah mengkhianati Allah, Rasulnya-Nya, dan orang-orang beriman.�
(HR. Al-Hakim)
Selain itu, salah satu raawi mengatakan bahwa Hadits tersebut merupakan perkataan Sahabat Rasulullah SAW, yaitu Umar bin Khatab. Perkataan ini boleh jadi ditujukan pada anaknya yang sengaja tidak ingin dipilih Umar menjadi pemimpin setelah dirinya, karena dinilai ada orang lain yang lebih pantas memimpin saat itu.[1]
Perkataan Umar kepada anaknya:
�Barang siapa yang diberikan kewenangan menangani urusan kaum muslimin lalu dia mengangkat seseorang karena alasan persahabatan atau kekerabatan antara keduanya, maka sungguh telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan kaum mkuslimin.�
Jika kita kaji, perkataan Umar terhadap anaknya tersebut dapat kita terima dengan akal. Karena dalam menangani suatu permasalahan (Baca: Permasalahan dalam oreganisasi) tentulah kita membutuhkan orang yang berkompeten dalam mengurusi permasalahan tersebut. Jika seorang pemimpin oragnisasi menunjuk pada seseorang dalam mengatasi permasalahan karena masalah pribadi, bukan karena kemampuan orang tersebut, maka yang rugi tentulah tidak hanya seorang pemimpin, tetapi dampak itu juga akan dirasakan oleh anggota organisasi dan bahkan kelansungan oragnisasi tersebut. Dalam istilah modern kecendrungan untuk lebih mendahulukan kerabat dekat ataupun kenalan inilah yang kita kenal denagn sebutan napotisme. Dalam organisasi apapun, tentu saja napotisme tidak pernah memiliki konotasi yang baik dalam keberlansungan sebuah oragnisasi ataupun pemecahan suatu persoalan.
Syura Sebagai Ladang Bermufakat
dictio.id
Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu sahabat terdekat Rasulullah SAW pernah mengatakan:
�Kekeruhan yang dilakukan oleh jama�ah itu lebih utama dibandingkan dengan kejernihan yang dilakukan oleh seorang individu.�
Dalam perkataan Ali tersebut mengindikasikan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam organisasi itu lebih baik ketimbang pendapat seseorang yang melakukan kebenaran. Alasan dari pernyataan tersebut adalah sekelompok orang yang telah bermusyawarah mengenai suatu persoalan kemudian hasil musyawarah mereka tersebut ternyata salah, maka menurut Ali bin Abi Thalib itu lebih baik daripada pendapat seseorang yang benar namun tidak bermusyawarah terlebih dahulu. Kesalahan yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut dapat dijadikan pelajaran bagi seluruh anggota.
Pada syuraanggota organisasi dapat memberikan tanggapan dan isi pikiran mereka dalam sebuah keorganisasian ataupun penyelesaian masalah yang sedang atau akan dihadapi, karena hal itulah, maka dalam pandangan islam perlu adanya syurayang dilakukan oleh segenap anggota organisasi untuk mencapai mufakat.
Sebagai contoh hal ini telah dipratekan pada zaman Rasulullah SAW. Pada waktu itu nabi akan mengadakan perang terhadap orang-orang kafir Quraisy. Sebelum mengadakan perang terhadap orang-orang Quraisy tersebut, nabi Muhammad SAW terlebih dahulu mengadakan Syura dan mengumpulkan para sahabat mengenai cara terbaik dalam perang. Sebenarnya sebagai utusan Allah, nabi Muhammd SAW semestinya tahu hal terbaik yang harus dilakukan, namun disinilah pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah bahwa dalam segi kepemimpinan haruslah ada syura atupun musyawarah untuk mencapai mufakat.
Dalam musyawarah itu, Rasulullah menanyakan hal terbaik yang dilakukan dalam perperangan, apakah di dalam kota Madinah ataupun diluar kota. Kebanyakan orang yang hadir memilih untuk perang diluar kota saja. Meskipun Rasulullah SAW tahu yang benar adalah perang di dalam kota, tapi beliau tetap mengikuti hasil syurayang mengatakan sebaiknya perang di luar kota.
Pada akhir perang kita ketahui, bahwa pada awalnya pasukan muslimin akan mengalami kemenangan. Orang-orang Quraisy berbondong-bondong melarikan diri dan meninggalkan harta yang mereka bawa. Tetapi karena terbuai akan harta yang ditinggalkan orang-oarang Quraisy tersebut, para pemanah yang mengintai dari bukit turun untuk mengambil harta tertsebut . Maka keadaan itupun menjadi berbalik, mereka yang lengah diserang oleh orang-orang Quraisy, sehingga hal tersebut menjadi pelajaran bagi umat muslimin.
DAFTAR PUSTAKA
Asy-Syawi, Taufiq Muhammad.1997.Syura Bukan Demokrasi.Jakarta:Gema Insani Press
Muhammad, Syaikh.2009.Politik Islam.Jakarta: PT. Griya Ilmu Sejahtera
Syalabi, Mahmud.1997.Kepribadian Rasulullah II.Solo:CV. Pustaka Mantiq

