Menjawab Paradigma Pendidikan di Bali pada Jaman now melalui LMS Jejak Bali



Pada bagian ini, penulis sebagai salah satu calon duta rumah belajar provinsi Bali akan memberikan sebuah opini tentang paradigma pendidikan di Bali saat ini. Bali sebagai sebuah pulau kecil atau provinsi kecil di Negara Kesatuan Republik Indonesia tidaklah sekaya provinsi lain dalam hal kekayaan sumber daya manusianya. Bali hanya memiliki kekayaan yaitu manusia dan budayanya yang adi luhung. Bali bisa mencontoh salah satu negara kecil di asia tenggara yaitu Singapura, negara kota yang tidak memiliki sumber daya alam seperti minyak bumi, batubara, mineral dan lain-lain. Kenapa negara kecil Singapura bisa menjadi negara maju? Hal ini patut kita renungkan! Bali yang tidak mempunyai sumber daya alam, patut belajar dari Singapura. Negara tersebut begitu maju dalam mengelola sumber daya manusianya lewat pendidikan. Indeks pembangunan manusia Singapura adalah yang tertinggi di ASEAN (IPM,2015 mencapai 92,5).

Hal ini menjadi pemikiran pemimpin Bali; Gubernur Bali periode 2013-2018 yaitu Bapak Made Mangku Pastika merasakan hal ini, sehingga beliau memikirkan Bali ke depan di abad 21 ini, beliau mengambil kebijakan untuk tahun 2018. Perlu kita sadari bahwa generasi yang menjadi siswa saat ini adalah generasi Y dan generasi Z, yang dalam hidupnya tidak bisa lepas teknologi gadget seperti laptop, tablet, dan telepon pintar. Sebagian besar guru saat ini termasuk generasi X dan generasi milineal yang dalam hidupnya sering bergelut dengan dunia media sosial seperti facebook, youtube dan lain-lain. Bahkan anak-anak generasi alpha tersebut memiliki keunikan tersendiri, mereka tumbuh dengan gadget di tangan, mampu mengoperasikan gadget tanpa perlu kita ajarkan atau latih . Perubahan teknologi yang masif ini membuat generasi alpha sebagai generasi yang transformatif (Mc Crindle). Namun, saat ini penggunaan gadget sebagian besar berfungsi hanya sebagai sarana telekomunikasi, media sosial, menonton video dan bemain game daring.

Kita sebagai guru perlu mengubah mind set kita segera, meskipun kitasendiri sebagai guru merupakan hasil produk didikan generasi X atau bahkan generasi babyboomer, selayaknya kita mengubah pola mengajar kita mengikuti perkembangan setiap generasi. Bayangkan ojek saja sudah online! masak cara mengajar kita masih tradisional. Tentu, hal ini sangat miris! Mari kita dukung upaya Bapak Presiden Jokowi untuk menyiapkan generasi emas Indonesia pada tahun 2045.

Kita sebagai pendidik perlu menyadari bahwa perubahan dalam bidang pendidikan itu nyata di depan mata. Saat ini, telah terjadi perubahan paradigma dalam bidang pendidikan terutama semenjak terjadinya revolusi industri 4.0. oleh karena itu, Indonesia dan khususnya pulau Bali harus segera melaksanakan revolusi dalam bidang pendidikan dengan menerapkan pembelajaran abad 21 yang bercirikan siswa yang mampu menguasai teknologi dan memiliki kompetensi 4 C yaitu Kreatif, Kolaboratif, Komunikatif dan Kritis, namun mereka tetap memegang falsafah dan jiwa karakter bangsa Indonesia.

Sejalan dengan perubahan dalam bidang pendidikan tersebut dan juga searah dengan kebijakan program Presiden Republik Indonesia "Nawa Cita" Bali sebagai sebuah provinsi yang tidak memiliki sumber daya alam, harus segera mengambil kebijakan melaksanakan pembelajaran berbasis e-Learning. Bahkan, seperti kita ketahui, Kabupaten Badung sebagai salah satu kabupaten kaya dari sektor jasa pariwisata, memberikan siswa SD dan SMP laptop secara gratis, tentu saja hal ini merupakan sebuah gebrakan yang berani. Namun, jika tidak diberikan sebuah konten atau aplikasi yang mengandung materi pembelajaran yang bermakna, bantuan laptop tersebut bisa menjadi kurang bermanfaat, mungkin hanya dipakai mengetik tugas, menonton video bahkan dijadikan media bermain game PC.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemerintah Provinsi Bali berkerja sama dengan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PUSTEKOM) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menciptakan sebuah learning management system (LMS) Kelas Maya yang merupakan turunan dari Rumah Belajar Kelas Maya Pustekom. LMS itu sendiri mreupakan sebuah aplikasi perangkat lunak untuk kegiatan dalam jaringan, program pembelajaran elektronik (e-learning program), dan isi pelatihan. Sebuah LMS yang kuat harus bisa melakukan hal berikut: menggunakan layanan self-service dan self-guided. Melalui serangkaian pelatihan dan koordinasi lahirlah sebuah LMS Kelas Maya Jejak Bali sebagai jawaban untuk pengembangan pembelajaran berbasis elektronik di Provinsi Bali. Jejak Bali yang merupakan singkatan dari Jejaring Jelajah Kreativitas Bali meupakan upaya Bapak Made Mangku Pastika untuk meninggalkan jejak beliau di Bali dalam rangka memberikan landasan bagi pendidikan di Bali supaya melaksanakan revolusi pendidikan 4.0 sebelum purna bakti pada tahun ini terutama untuk SMA/SMK se-Provinsi Bali.

Jejak Bali memberikan berbagai layanan antara lain membuat kelas maya, mengunggah modul, tugas, kuis online, ujian online, video pembelajaran, membuat forum diskusi, memberikan pengumaman kepada siswa dan juga melaksanakan penilaian. Jejak Bali merupakan sebuah LMS yang baru diluncurkan secara resmi pada tanggal 27 Agustus 2018 oleh Bapak Made Mangku Pastika di Gedung Widya Sabha, Kantor Gubernur Bali. Sampai saat ini, per tanggal 22 Agustus 2018, pengguna Jejak Bali sudah mencapai 17085 Kelas, 333 peyelenggara, 37288 siswa, 5571 guru dan 5571 soal ujian. Begitu besar sambutan peyelenggara pendidikan di Bali khususnya peyelenggara SMA/SMK di Bali ini menandakan bahwa generasi Bali siap untuk meningkatkan kualitasnya, namun, mereka juga tetap menjaga dan melindungi budaya leluhurnya yang adi luhung.

https://www.youtube.com/watch?v=cfw778JSra0&