Jadi Penulis Kudu Pinter Logika!
Inilah salah satu ultimatum yang digaungkan oleh Zen RS, editor di tirto.id, pas jadi pembicara Sekolah Media di ITB kemaren.
Kenapa Pakai Logika?
Bingung nggak sih kalian kenapa harus pakai logika? Saya sih awalnya bertanya-tanya ya, perasaan nulis ya nulis aja gitu nggak kebanyakan mikir. Pertama kalian harus tau dulu, menulis itu intinya adalah MENYAMPAIKAN INFORMASI ke orang lain dalam bentuk tulisan. Yang namanya menyampaikan informasi harus jelas dong ya. Apalagi ini kan tulisan fisik, kalau ada hal yang ambigu pembaca tidak bisa langsung menginterupsi si pembuat tulisan. Beda sama ngobrol, kalau ada yang ambigu, pendengar bisa langsung memprotes. Nah itu dia makanya logika itu penting buat tulisan. Kesempatan untuk mengklarifikasi sebuah informasi di tulisan jauh lebih sulit dibandingkan dalam bacotan.
Bahkan meskipun di dunia pers ada hak jawab, tapi kan tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang sudah terlanjur membaca pemberitaan awal membaca pula berita klarifikasinya. Sekali miskom ya miskom terus.
Bahkan meskipun di dunia pers ada hak jawab, tapi kan tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang sudah terlanjur membaca pemberitaan awal membaca pula berita klarifikasinya. Sekali miskom ya miskom terus.
Menulis (prosa) itu bermakna menguasai kalimat. Gagal dalam menyusun kalimat dengan benar, berarti gagal dalam menyusun sebuah tulisan. Again, logic should play a lot here.
Cacat Logika
Mungkin kalian merasa umum mendengar, "Yang punya HP harap dimatikan,", "Waktu dan tempat saya persilakan,", "Dilarang ngopi semeja!", dan lain-lain. Ungkapan-ungkapan itu membuktikan kalau logika nggak dipakai. Yang punya HP harap dimatikan, kalimat ini mengharapkan banyak pembunuhan? Waktu dan tempat saya persilakan, serius? waktu dan tempat kan benda, kenapa dipersilakan layaknya orang? Dilarang ngopi semeja! Kopi semeja diminum? Nggak kembung itu? Asli deh pembicaranya pas ngomongin ini udah kayak gemes-gemes kesel gitu. Wkwkwk.
Ada pula kasus lain. Kejadiannya dialami oleh Bang Zen sendiri. Dulu saat kegiatan KKN dia bertugas di sebuah daerah yang masih buta huruf. Pekerjaan initnya adalah untuk memberantas buta huruf tersebut dengan membangun sarana pendidikan. Yang lucu adalah saat pendaftaran, salah satu panitia yang bertugas menulis sesuatu di kertas, "Yang ingin daftar belajar membaca silakan lewat sini,". Saya lupa kalimat pastinya seperti apa, tapi kurang lebih seperti itu. Apa yang lucu coba? Ini tulisan ditargetkan buat dibaca oleh orang yang baru akan belajar membaca. Hahaha. Neuron otaknya lagi korsleting kayaknya.
Selain itu karena menyelinapnya bahasa lisan ke tulisan. Seperti yang saya bilang tadi jauh lebih susah melakukan klarifikasi tulisan daripada lisan. Kalimat-kalimat ambigu yang saya tulis di atas tidak masalah kalau semestanya adalah komunikasi lisan. Semua orang pasti paham, pun kalau nggak paham bisa langsung interupsi. Tapi kalau sampai bahasa lisan yang penuh ambigu itu dijadikan bahasa tulisan apa jadinya? Sangat mungkin akan banyak terjadi miskomunikasi.
Ada lagi alasan lain. Terbatasnya kosakata kita. Kenapa terbatas? Karena jarang baca. Kata Bang zen nih ya, orang yang tidak menulis secara intens paling banter cuma punya 1000 kosakata. Karena kosakata dikit, kita jadi nggak mampu mengungkapkan isi otak kita. Mau secanggih apapun ide yang kita miliki kalau nggak bisa menemukan daya ucap yang pas ya nggak guna. Jadi ayo banyak baca. Baca apapun deh. Bang Zen aja nih sebelum tidur baca apa coba? KBBI. Kamus. K A M U S. Beliau akan mencari kosakata yang belum pernah dimasukkan dalam tulisannya. Kosakata-kosakata aneh pokoknya. Pernah denger pekarang? Nah itu salah satunya. Terus keesokan harinya kata tersebut akan dipakai terus biar inget.
Ya kalian nggak perlu baca kamus juga sih. Baca apa aja yang kalian suka. Novel kek, esai kek, portal berita kek, asal jangan broadcast pesan WhatsApp aja. Wkwkwk. Kalau saya bacaannya ini nih [BACA BUKU].
Kok bisa yang ketiga adalah MISKIN KONTEKS. Gagal menempatkan masalah, gagal menetapkan duduk perkara, bisa menyebabkan misleading. Gimana biar melek konteks? Balik lagi, harus melek literasi. Banyak baca. Buah paling ranum dari kegiatan literasi adalah kemampuan berpikir kontekstual. Sebuah tulisan bagus pasti dihasilkan dari kegiatan membaca yang berkali-kali lipat jumlahnya.
Baca: Saya Tidak Percaya Moto
Yas! Sesungguhnya saya juga nggak yakin apakah tulisan saya selama ini sudah bebas dari cacat-cacat logika. Tapi saya pengen banget kalian tau bahwa seorang penulis itu juga harus aware terhadap logika.
Ada pula kasus lain. Kejadiannya dialami oleh Bang Zen sendiri. Dulu saat kegiatan KKN dia bertugas di sebuah daerah yang masih buta huruf. Pekerjaan initnya adalah untuk memberantas buta huruf tersebut dengan membangun sarana pendidikan. Yang lucu adalah saat pendaftaran, salah satu panitia yang bertugas menulis sesuatu di kertas, "Yang ingin daftar belajar membaca silakan lewat sini,". Saya lupa kalimat pastinya seperti apa, tapi kurang lebih seperti itu. Apa yang lucu coba? Ini tulisan ditargetkan buat dibaca oleh orang yang baru akan belajar membaca. Hahaha. Neuron otaknya lagi korsleting kayaknya.
Kok Bisa?
Karena kita adalah seorang native. Bingung? Jadi gini, native itu belajar bahasa mereka nggak pakai aturan. Ngomong ya ngomong aja. Nggak pusing mikirin grammar ini itu. Bahasa bukan menjadi sebuah ilmu bagi para native. Language is given. Nah, hal ini juga berlaku bagi kita, native bahasa Indonesia. Selama pakai bahasa Indonesia kita nggak punya tuh sense kecurigaan kalau kalimat yang kita pakai ternyata salah.Selain itu karena menyelinapnya bahasa lisan ke tulisan. Seperti yang saya bilang tadi jauh lebih susah melakukan klarifikasi tulisan daripada lisan. Kalimat-kalimat ambigu yang saya tulis di atas tidak masalah kalau semestanya adalah komunikasi lisan. Semua orang pasti paham, pun kalau nggak paham bisa langsung interupsi. Tapi kalau sampai bahasa lisan yang penuh ambigu itu dijadikan bahasa tulisan apa jadinya? Sangat mungkin akan banyak terjadi miskomunikasi.
Ada lagi alasan lain. Terbatasnya kosakata kita. Kenapa terbatas? Karena jarang baca. Kata Bang zen nih ya, orang yang tidak menulis secara intens paling banter cuma punya 1000 kosakata. Karena kosakata dikit, kita jadi nggak mampu mengungkapkan isi otak kita. Mau secanggih apapun ide yang kita miliki kalau nggak bisa menemukan daya ucap yang pas ya nggak guna. Jadi ayo banyak baca. Baca apapun deh. Bang Zen aja nih sebelum tidur baca apa coba? KBBI. Kamus. K A M U S. Beliau akan mencari kosakata yang belum pernah dimasukkan dalam tulisannya. Kosakata-kosakata aneh pokoknya. Pernah denger pekarang? Nah itu salah satunya. Terus keesokan harinya kata tersebut akan dipakai terus biar inget.
Ya kalian nggak perlu baca kamus juga sih. Baca apa aja yang kalian suka. Novel kek, esai kek, portal berita kek, asal jangan broadcast pesan WhatsApp aja. Wkwkwk. Kalau saya bacaannya ini nih [BACA BUKU].
Kok bisa yang ketiga adalah MISKIN KONTEKS. Gagal menempatkan masalah, gagal menetapkan duduk perkara, bisa menyebabkan misleading. Gimana biar melek konteks? Balik lagi, harus melek literasi. Banyak baca. Buah paling ranum dari kegiatan literasi adalah kemampuan berpikir kontekstual. Sebuah tulisan bagus pasti dihasilkan dari kegiatan membaca yang berkali-kali lipat jumlahnya.
Aku Nggak Mau Bahasa Tulisannya Kaku ...
NO. Intinya bukan untuk mengubah bahasa tulisan kalian menjadi kaku. Inti penjelasan ini adalah agar kalian menjadi penulis yang sadar akan tulisannya. Sadar akan kebenaran tulisannya. Sadar akan efeknya. Logis berpikirnya. Kalau tidak, selamanya kita bakal menjadi penulis medioker.A Quick How To
- Tau mau nulis apa. Kalau ragu mending jangan. Tulis apa yang kalian tau.
- Kalau udah tau mau nulis apa, siapkan argumentasi, data, ilustrasi, dan lain-lain. Siapin bahan.
- Cari judul yang memikat karena judul adalah cermin. Kata kerja biasanya lebih inviting. Maksimal 7 kata. Bisa banget cari inspirasi dari judul film atau buku yang terkenal.
- Pembukaan juga harus memikat. Contoh yang saya suka, "Semua anak, kecuali 1, tumbuh." dalam cerita Peterpan.
- Jangan berbohong pada diri sendiri. Hal ini adalah yang paling bahaya buat penulis. Penulis selain mampu menuangkan sudut pandangnya, harus mampu pula menengok dari sudut pandang pembaca. Agar cacat-cacat dalam tulisan bisa lekas diperbaiki dan tidak menimbulkan misleading.
- Again, banyakin baca.
Baca: Saya Tidak Percaya Moto
Yas! Sesungguhnya saya juga nggak yakin apakah tulisan saya selama ini sudah bebas dari cacat-cacat logika. Tapi saya pengen banget kalian tau bahwa seorang penulis itu juga harus aware terhadap logika.
Berbahasa adalah Berpikir