Judul - The Woman in Cabin 10
Kepincut baca buku ini soalnya sedang mood pengen baca genre detektif-detektifan. Awalnya naksir Origin punya Dan Brown, tapi mahal banget. Akhirnya saya nyari yang harganya lebih merakyat dan ketemulah dengan buku ini.
Karena udah ada komentar dari New York Post di sampul bukunya, saya jadi makin yakin beli. Buku ini bersampul hitam dengan citra kapal pesiar yang berlayar di lautan merah, yang saya asumsikan itu darah. Agak ngeri gitu ya.
Dan emang ngeri beneran.
Baca: [BACA BUKU] 1984
Beberapa lembar pertama aja saya udah ketar-ketir. Hahaha. Apalagi tampilan bukunya mendukung banget, tiap bab baru gitu lembarannya ada desain bercak-bercaknya (saya yakin banget sih ini biar diasosiasikan sama darah hue), dan gambar di pembatas bukunya itu jendela bulet di kapal pesiar tapi ada tangan yang menyentuh kacanya.
Sebenernya saya orangnya pemberani lho. Kemana-mana sendiri, lewat gang gelap malem-malem it's okay. Tapi saya pemberani selama nggak nonton film horror dan nggak denger cerita aneh-aneh. Kalau sampai nonton film horror atau dengerin cerita serem, hancurlah seluruh keberanian yang saya punya. Wkwkwk. Langsung parno. Nah, baca buku ini juga bikin agak parno. Parno tapi penasaran.
Di awal cerita si tokoh utama yang bernama Lo (Laura Blacklock) mengalami perampokan di apartemennya. Dia mengalami trauma yang berat. Meski begitu dia tetap bersikeras untuk melakukan pekerjaannya sebagai jurnalis, kali ini dia berkesempatan untuk meliput perjalanan naik kapal pesiar mewah untuk melihat aurora borealis. Dia bertemu dengan para profesional di kapal tersebut dan secara tidak sengaja bertemu pula dengan gadis misterius kabin 10. Suatu malam Lo mendengar dan menyaksikan adanya bukti peristiwa pembunuhan di kabin 10. Gadis kabin 10 menghilang. Lo bersikeras bahwa ada seseorang yang meninggal, tapi dia tidak digubris. Karena Lo pernah merasakan ketakutan luar biasa saat dia tidak berdaya menghadapi perampok di rumahnya dulu, kali ini dia bertekad untuk membantu gadis kabin nomor 10. Meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.
Saya mudah parno sama cerita ini mungkin karena keadaannya agak mirip ya. Si tokoh Lo ini seorang perempuan dan tinggal sendirian. Begitu pun saya. Saya nggak sendirian banget juga sih. Tapi keadaan saya sekarang yang jauh dari rumah menjadikan saya mudah untuk relate dengan kekhawatiran dan ketakutan Lo.
Baca: [BACA BUKU] Rectoverso
Saya senang karena saya tidak berhasil menebak jalan ceritanya. Hahaha. Ruth Ware membuat seakan-akan semua orang adalah tersangka. Bahkan diri Lo sendiri. Saya banyak berspekulasi tentang siapa sesungguhnya dalangnya, dan salah semua. Well done, Ruth Ware! Bener-bener kerasa suasana detektif-detektifannya.
Saya baca buku ini cukup cepat. Kenapa bisa cepat? Karena saya bisa merasakan sensasi penasarannya. Seperti yang saya bilang sebelumnya, jalan ceritanya nggak bisa saya tebak. Dan banyak hal-hal yang butuh kejelasan. Jadi ya penasaran banget dong ini sebenernya ada apa sih di kabin nomor 10? Kurang lebih begitu.
Penasarannya sama kayak pas baca buku Dunia Kafka.
Ini novel dewasa ya. Kayaknya sekarang selera novel saya udah berubah deh. Keseringan baca novel dewasa yang mikir banget jadinya novel ringan kayak teenlit gitu rasanya hambar. Jadi nggak suka. Wkwkwk. Ya gitu deh ya.
Karena udah ada komentar dari New York Post di sampul bukunya, saya jadi makin yakin beli. Buku ini bersampul hitam dengan citra kapal pesiar yang berlayar di lautan merah, yang saya asumsikan itu darah. Agak ngeri gitu ya.
Dan emang ngeri beneran.
Baca: [BACA BUKU] 1984
Beberapa lembar pertama aja saya udah ketar-ketir. Hahaha. Apalagi tampilan bukunya mendukung banget, tiap bab baru gitu lembarannya ada desain bercak-bercaknya (saya yakin banget sih ini biar diasosiasikan sama darah hue), dan gambar di pembatas bukunya itu jendela bulet di kapal pesiar tapi ada tangan yang menyentuh kacanya.
Sebenernya saya orangnya pemberani lho. Kemana-mana sendiri, lewat gang gelap malem-malem it's okay. Tapi saya pemberani selama nggak nonton film horror dan nggak denger cerita aneh-aneh. Kalau sampai nonton film horror atau dengerin cerita serem, hancurlah seluruh keberanian yang saya punya. Wkwkwk. Langsung parno. Nah, baca buku ini juga bikin agak parno. Parno tapi penasaran.
Di awal cerita si tokoh utama yang bernama Lo (Laura Blacklock) mengalami perampokan di apartemennya. Dia mengalami trauma yang berat. Meski begitu dia tetap bersikeras untuk melakukan pekerjaannya sebagai jurnalis, kali ini dia berkesempatan untuk meliput perjalanan naik kapal pesiar mewah untuk melihat aurora borealis. Dia bertemu dengan para profesional di kapal tersebut dan secara tidak sengaja bertemu pula dengan gadis misterius kabin 10. Suatu malam Lo mendengar dan menyaksikan adanya bukti peristiwa pembunuhan di kabin 10. Gadis kabin 10 menghilang. Lo bersikeras bahwa ada seseorang yang meninggal, tapi dia tidak digubris. Karena Lo pernah merasakan ketakutan luar biasa saat dia tidak berdaya menghadapi perampok di rumahnya dulu, kali ini dia bertekad untuk membantu gadis kabin nomor 10. Meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.
Saya mudah parno sama cerita ini mungkin karena keadaannya agak mirip ya. Si tokoh Lo ini seorang perempuan dan tinggal sendirian. Begitu pun saya. Saya nggak sendirian banget juga sih. Tapi keadaan saya sekarang yang jauh dari rumah menjadikan saya mudah untuk relate dengan kekhawatiran dan ketakutan Lo.
Baca: [BACA BUKU] Rectoverso
Saya senang karena saya tidak berhasil menebak jalan ceritanya. Hahaha. Ruth Ware membuat seakan-akan semua orang adalah tersangka. Bahkan diri Lo sendiri. Saya banyak berspekulasi tentang siapa sesungguhnya dalangnya, dan salah semua. Well done, Ruth Ware! Bener-bener kerasa suasana detektif-detektifannya.
Saya baca buku ini cukup cepat. Kenapa bisa cepat? Karena saya bisa merasakan sensasi penasarannya. Seperti yang saya bilang sebelumnya, jalan ceritanya nggak bisa saya tebak. Dan banyak hal-hal yang butuh kejelasan. Jadi ya penasaran banget dong ini sebenernya ada apa sih di kabin nomor 10? Kurang lebih begitu.
Penasarannya sama kayak pas baca buku Dunia Kafka.
Ini novel dewasa ya. Kayaknya sekarang selera novel saya udah berubah deh. Keseringan baca novel dewasa yang mikir banget jadinya novel ringan kayak teenlit gitu rasanya hambar. Jadi nggak suka. Wkwkwk. Ya gitu deh ya.