Percaya Diri Sejak Dalam Pikiran

Percaya Diri Sejak Dalam Pikiran




Saya lagi-lagi ngasal mikir, kali ini tentang percaya diri sejak dalam pikiran. Bahasanya ala-ala Bumi Manusia ya, biar keren. Hahaha.


Saya pengen nulis tentang ini dari lama. Tapi sekip mulu, jadi mumpung inget dieksekusi saja sekarang meskipun besok kuliah pagi (curhat).

Percaya diri sejak dalam pikiran. Intinya memandang segala masalah sesuai sudut pandang yang kalian yakini sebagai sesuatu yang paling benar. Saya sering banget merasa kayak gini. Lebih sering lagi merasa kok orang lain nggak bisa sih percaya diri sejak dalam pikiran?

Kepikiran hal ini karena temen saya menanyakan sesuatu terkait kuliah, yang menurut saya sesuatu yang nggak penting-penting amat dan SEHARUSNYA bisa dicari jawabannya sendiri. Ini bukannya saya paham terus males ngasih jawaban ya, nggak gitu. Saya juga sedang dalam proses belajar. Dia juga dalam proses belajar. Bukannya kebebasan berpikir bagaimana kita menjawab masalah merupakan bagian penting belajar ya? Kenapa musti nanya-nanya sih. Se-nggak pede itukah sama pikiran sendiri? Ah bingung.


Suka gemes juga kalau masih ada yang suka nanya, "Ini soalnya ditulis atau nggak?", "Nulisnya pakai apa? Pulpen apa pensil?". Itu kasus pas ujian sih. Kalau saya jadi dosen kayaknya pasti banget jawab, "Ya lu pikir aja sendiri". Wkwkwk. Ya gimana ya. Saya sudah dikelilingi orang-orang yang tidak remaja lagi gitu. Kalau hal remeh-remeh masih aja nanya, rasanya kesel sendiri.

Pernah denger kisah tentang Bani Israel yang disuruh berkurban nggak? Ini kisah religius gitu mengenai salah satu ayat di Alquran. Baca aja sekilas di sini. Intinya Bani Israel harus berkurban seekor sapi. Nah, mereka ini nanya-nanya mulu detail si sapi ini. Padahal perintahnya hanya berkurban sapi. Titik. Akhirnya mereka malah menjadi kesulitan karena sapi yang sesuai spesifikasi tadi susah ditemukan.

Saya kayaknya ter-brainwash kisah ini deh. Suka kesel gitu ya kalau ada yang nanya-nanya yang nggak penting, terutama yang justru makin nyusahin.

Ayolah pede aja dengan pemikiran kalian. Emang sih, tabiat manusia adalah mencari pengakuan dari manusia lainnya. Tapi ya jangan keterlaluan nggak pedenya.

Bukannya saya mendorong untuk tidak kritis. Banyak nanya karena kritis itu pas masalahnya merupakan masalah yang penting. Kalau yang saya keluhkan sekarang adalah banyak nanya, tetapi masalahnya nggak penting. Berarti orang-orang kayak gitu antara males mikir atau nggak pede kan? Iya nggak sih? Menurut gua sih iya. Maksa.


Hahaha. Jadinya tulisan ini ngeluh doang. Jangan males mikir ya teman-teman! Plis jadilah pede dengan pikiran kalian! Jadilah percaya diri sejak dalam pikiran!