Menjadi Manusia Nonblok

Menjadi Manusia Nonblok

Kalau dulu Pak Soekarno menciptakan Gerakan Nonblok, kalau sekarang saya ingin menciptakan istilah manusia nonblok.

Berangkat dari obrolan dengan teman saya, kami sama-sama melabeli diri masing-masing sebagai manusia nonblok, netral sangat.

Manusia nonblok yang saya maksudkan adalah menjadi seseorang yang tidak terlalu ekstrem dalam menerima sesuatu. Misal, saya sering baca buku kiri, ya saya nggak merasa kiri, pun saya juga nggak menolak kalau ada buku kanan. Bahkan saat ini saya seorang muslim tanpa ormas. Merasa NU nggak, merasa Muhammadiyah juga nggak. Netral aja. Netral atau emang belum punya pendirian aja sih, hahaha.

Tapi saya sangat nyaman dengan keadaan sekarang. Saya jadi selow aja gitu. Nggak yang ribut gara-gara beda pendapat, beda keyakinan. Karena apa? Karena saya menyadari setiap orang itu pasti beda-beda. Seperti yang pernah saya bilang di sini, pesen bubur ayam aja bisa beda-beda, apalagi masalah fundamental macem agama sama ideologi.

Emang saya dasarnya nggak suka konflik sih ya. Cinta damai. Peace, love, and gaul. Haha.

Terus saya bingung kenapa masih ada debat kusir warganet di kolom komentar. Don't they think that everyone has their own choice? Paling malas kalau di kolom komentar ada yang ribut-ribut.


Eh salah. Saya harusnya nggak bingung. Kan manusia berbeda-beda ya. Ada yang diciptakan santai kayak di pantai, ada yang diciptakan sumbu pendek ngeyel pula.

Mungkin hal-hal ini yang membuat saya jadi manusia netral terombang-ambing di lautan tanpa tempat persinggahan.

Being Less Judgmental

Dulu banget lah, sebelum banyak baca esai bermacam-macam orang, saya adalah orang yang judgmental. Melihat orang lain melakukan hal di luar apa yang saya yakini membuat saya langsung "dih, apaansih,". Ya walaupun belum pernah sih kayaknya menunjukkan ketidaksukaan di depan muka orang bersangkutan. Tapi respon seperti itu tetap muncul di batin saya.

Contoh deh, pas saya tau ada orang yang pakai kerudung di sekolah, tapi pas jalan-jalan orangnya nggak pakai kerudung. Jiwa-jiwa julid pasti terusik. Keinginan buat ngegibah pasti muncul.

Pada akhirnya saya menyadari sebuah prinsip penting. Again, manusia itu berbeda-beda. Udah gitu aja. Hidup saya pasti berbeda dengan hidup orang lain. Pemikiran bahwa saya tidak tau hidup seperti apa yang dijalani (calon) korban judge saya membuat saya merasa tidak punya hak sama sekali memberikan penghakiman tersebut.

Reading Wide Range of Topics

Bukan cuma bahas masalah warganet, kemaren juga sempet nyinggung masalah pemilihan buku bacaan. Mengapa saya merasa menjadi manusia nonblok mungkin salah satu jawabannya karena saya tidak membatasi bacaan saya. Banyak banget insight yang bisa didapet. Saking banyaknya saya jadi tau peristiwa ini tuh buruknya ini, dari sisi saintifik penjelasannya gini, kalau dari pelakunya pandangannya gini, kurang lebih seperti itulah. Terus saya jadi yang netral aja gitu. Jujur kadang kalau ada masalah tertentu saya ujung-ujungnya jadi netral. Karena saya merasa belum cukup cakap buat memutuskan akan berdiri pada keputusan apa. Makanya saat ini saya lebih memilih banyak-banyak baca dulu aja. Berkorelasi juga kan dengan being less judgmental.


Sayang sekali tidak semua orang bisa mengecap kebebasan ya. Teman saya sempat 'dipertanyakan' mengapa baca buku Dunia Sophie. Ada juga kasus seorang ayah melarang anaknya membaca suatu buku. Dalihnya agar tidak ter-brainwash. In the name of knowledge, saya sangat tidak setuju dengan sikap seperti ini. Melarang bukan solusi, sebagai anak rebel, saya dilarang, saya malah makin penasaran. Nggak dibolehin baca? Ya sembunyi-sembunyi lah bacanya. Hahaha. Tapi beneran deh, daripada melarang jauh lebih baik jika tetap diizinkan tetapi dengan catatan kalau ada yang 'aneh' harus tanya ke orang yang sudah dalam ilmunya.

Bersyukur saya hidup di tengah keluarga yang tidak mengekang.

***

Kadang saya kepikiran, apakah saya terlalu nyantai dalam melihat masalah? Apalagi kalau berkaitan sama agama. Saya berpendapat kalau masalah tersebut tidak berkaitan dengan hubungan horizontal sesama manusia, yaudah. Misalnya tentang solat, solat adalah hubungan vertikal dengan Allah. Saya melaksanakan solat, ada orang yang nggak melaksanakan solat. Saya berpendapat biarlah itu jadi urusan orang itu dengan Tuhan. Saya menolak menghakimi orang tersebut. Lalu saya jadi bertanya-tanya, apakah saya terlalu liberal?

Pusing ya. Sama saya juga.