Semasa SMA saya merasa sangat beruntung karena memiliki guru BK yang oke punya. Nah, supaya kalian pembaca yang budiman juga bisa merasakan manfaatnya juga, terutama adek-adek SMA, saya pengen berbagi di seri SIAP KULIAH. Ya meskipun ini pengalaman dua tahun lalu semoga bisa cukup membantu. Di sini saya cuma kasih pertimbangan-pertimbangan gitu ya. Semua keputusan tentu ada di tangan kalian. Silakan belajar untuk mengambil keputusan sendiri demi masa depan kalian.
Mau ambil jurusan apa ya? Mau kampus mana ya? Agak pusing sih mikirin ini karena jurusan itu banyak banget macemnya. Saya pusing nggak? Oh tentu. Saya yang idealis pengennya itu jurusan bakal menjadi sesuatu yang saya geluti seumur hidup gitu. Jadi mikirnya lama deh.
Kuliah Jurusan Apa?
Tentang IPA dan IPS
Ini adalah konsiderasi paling awal dalam menentukan jurusan kuliah. Berhubung sekolah saya dulu cuma ada IPA dan IPS jadi yang dibahas ini doang. Pertanyaan pertama, mau menyalahi kodrat kah? Anak IPA pengen kuliah di jurusan IPS, atau sebaliknya. Kalau jawabannya ya, berarti harus siap-siap belajar pelajaran anak jurusan lain untuk menjalani tes tulis. Kalau berkaca dari orang-orang sekitar biasanya anak IPA yang mau masuk jurusan IPS lebih enteng mengejar materinya dibanding anak IPS yang mau masuk jurusan IPA. Jika kalian orangnya gigih, ya go ahead! Nggak ada yang nggak mungkin.
Kalau saya pribadi sih karena emang anak IPA jadi jurusan kuliah saya harus IPA. Nggak rela aja ilmu di SMA nggak kepakai. Saya orangnya gitu sih, ogah rugi. Hahaha.
Psikotes dan Tes Minat
Dulu SMA saya memfasilitasi untuk melakukan psikotes oleh lembaga resmi. Nama lembaganya Proxima Consultant di Pamulang, Tangerang Selatan. Bayar, tapi lupa berapa. Di kertas hasilnya ada psikogram, IQ, arah minat, dan yang paling penting ada saran pilihan bidang studi lanjutan. Lumayan membantu banget sih karena disertai uraian gitu. Kemampuan intelektualnya gimana, sikap kerja, kepribadian, minat, kenapa kok saran jurusannya ini, bla, bla, bla.
Atau kalau mau yang gratis aja bisa cari di Google tes minat. Saya nggak bisa ngasih rekomendasi karena dulu langsung dapet form tes minat dari guru BK saya. Nah, nanti bisa ketauan kategori pekerjaan seperti apa yang jadi minat kalian. Kerja lapangan kah? Kesehatan kah? Komputer kah? Peneliti kah? Seni kah?
Kepo
Masih bingung jadinya pilih jurusan apa? Saatnya kalian mengeluarkan keahlian stalking terbaik kalian. Kepoin itu jurusan satu-satu.
Cari garis besar materi dan kegiatannya seperti apa. Mungkin kegiatannya bisa bikin kalian girang nanti. Misal jurusan kesehatan, kuat nggak praktikum membedah-bedah gitu, atau justru malah seneng banget bikin sayatan-sayatan terus nontonin via mikroskop. Contoh lain jurusan sipil, suka nggak kalau turun ke lapangan, anak sipil sering banget kuliah lapangan (sementara gua membusuk di depan laptop hm).
Cari persyaratan buta warna ada atau nggak. Ini hati-hati banget ya. Ada beberapa jurusan yang mensyaratkan tidak buta warna. Yang jelas untuk jurusan elektro-elektroan dan informatika-informatikaan nggak ada syarat tidak buta warna. STEI ITB nggak minta surat tidak buta warna soalnya. Teman saya hampir batal dapet SNMPTN karena fakultas yang dia pilih tidak boleh buta warna, sementara dia ternyata buta warna. :")
Cari prospek kerjanya seperti apa. Cari gajinya berapa juga nggak apa-apa, siapa tau kalau gajinya gede-gede kalian makin mantep.
Cari berapa banyak peminatnya mungkin bisa jadi pertimbangan juga. Jurusan dengan peminat sedikit cenderung lebih mudah untuk didapatkan kan. Ini contoh nyatanya adalah program peminatan ITB untuk SNMPTN. Lengkapnya baca di sini. Intinya program studi yang masih rendah peminatnya ditawarkan langsung, jadi kalau biasanya mahasiswa baru ITB belum tau jurusan apa pas tingkat satu, mahasiswa baru program peminatan udah PASTI mendapat jurusan pas peminatan tadi. Denger-denger lebih mudah diterimanya. Tapi kalau udah terlanjur jatuh hati sama jurusan tertentu tapi peminatnya banyak banget gimana? Ya udah berarti harus semangat. Semangat!
Kuliah Dimana?
Dalam Negeri atau Luar Negeri
Kalau pengen pengalaman yang beda mungkin bisa nyoba tuh buat tes kampus luar negeri. Tapi mungkin kalau S1 di luar negeri kalian tidak merasakan dunia peraktivisan kampus Indonesia. Selain itu harus siap buat ngerasain budaya yang beda dari Indonesia. Siap-siap ngerasain lebaran nggak di rumah. Siap-siap ngerasain kalian liburan, temen-temen di Indonesia lagi pada kuliah. Kalian ujian, temen-temen di Indonesia leyeh-leyeh di rumah. Selain itu kalau tanpa beasiswa, kuliah di luar negeri bakal jauh lebih mahal. Terus persiapannya ada banyak. Misalnya nyiapin tes IELTS atau TOEFL, SAT, tes bahasa setempat, tes masuk, dan tes lain-lain.
Dulu sih saya aslinya ngejar kuliah di kampus luar negeri karena beasiswa penuh, tapi gagal. Hahaha. Baca di Running Out of Failure.
Kalau pilihan dalam negeri mungkin pertimbangannya bisa dari jarak ke rumah.
Atau hawa di daerah kampusnya. Mau kota dengan hawa dingin? Bandung atau Malang jawabannya. Pilih kampus daerah situ.
Biaya juga bisa jadi pertimbangan. Makin jauh jarak, transport makin mahal, belum uang kostnya. Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibayar tiap semester berbeda-beda tiap kampus. Silakan dicek saja di website resmi kampus-kampus ya. Selain itu, beberapa daerah seperti Yogyakarta dan Jawa Timur lebih murah biaya hidupnya. Sepuluh ribu di sana udah makan paket komplit ada minum.
Dalam Negeri: Universitas Negeri, Swasta, dan Sekolah Kedinasan
Negeri atau swasta sebenernya nggak masalah sih. Yang penting cek aja akreditasi jurusan impian kalian di kampus impian kalian. Kalau bisa akreditasi A, biar damai hidup kalian. Beberapa instansi ada yang mensyaratkan akreditasi ini soalnya.
Kalau berminat ke sekolah kedinasan tidak perlu pusing biaya, pemerintah yang bayarin tenang saja. Tapi sebelumnya harus lulus tes dulu. Terus kalau meleng pas kuliah di sekolah kedinasan, hati-hati di-DO. Selepas sekolah nanti langsung mengabdi istilahnya. Di SMA saya dulu, sekolah kedinasan yang paling ngetrend adalah PKN STAN.
Kenapa saya pilih ITB? Karena katanya kampus teknik terbaik. Klise ya. Prinsip saya kalau bisa dapet yang terbaik, kenapa nggak? Makanya ITB dulu jadi kampus dalam negeri impian saya. Seandainya saya minat jadi dokter, pasti banget saya pilih UI meskipun harus berpanas-panas ria di Depok.
Btw, kalau mau ngerasain kuliah nggak nyantai bisa banget pilih ITB.
Maaf ya gais ITB mulu, hahaha.
Feel free to ask! Cheerio!
Feel free to ask! Cheerio!