[BACA BUKU] Pergi


[BACA BUKU] Pergi

Penulis � Tere Liye
Judul � Pergi

Pas ditanya temen novel Tere Liye mana yang paling bagus, saya menjawab Pulang. Nah, novel Pergi merupakan lanjutan alias sekuel dari novel Pulang karya beliau.

Saya sangat sangat merekomendasikan untuk baca buku Pulang dulu. Beberapa tokoh tidak dideskripsikan ulang soalnya. Dan banyak banget cerita yang me-refer ke kejadian di novel Pulang. Tapi Tere Liye baik hati sih, bagian-bagian yang penjelasannya ada di novel sebelumnya selalu diberi tanda. Jadi misalnya mau langsung baca Pergi, bagian-bagian yang ditandai tadi bisa diskip dan diterima apa adanya. Tapi sumpah mendingan baca Pulang dulu deh baru Pergi (maksa).

Baca: [BACA BUKU] Bintang (salah satu novel Tere Liye juga)

Ternyata bukan cuma novel Pulang yang terungkit-ungkit. Tere Liye juga mengungkit novel karyanya yang lain yaitu Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk (mereka sekuel). Cuma dikit banget sih. Dua-duanya bagus juga kok menurut saya. Cerita yang diangkat senada dengan Pulang dan Pergi.

Oke, balik ke novel Pergi. Setelah Bujang menemukan hakikat Pulang di akhir novel Pulang, kehidupannya tidak serta merta jadi mulus semulus jalan tol. Masih ada kerikil pertanyaan yang menghantuinya. Saat ini Bujang, si tukang pukul nomor satu, telah menjadi pucuk pimpinan alias Tauke Besar dalam Keluarga Tong. Masalah muncul, tentu. Sebagai salah satu dari tujuh keluarga yang mengatur shadow economy (kegiatan ekonomi masif kelompok akar rumput, bawah tanah, mafia gitu deh), Keluarga Tong harus menghadapi kerakusan Keluarga Hongkong pimpinan Master Dragon yang ingin merebut bisnis mereka. Ketujuh keluarga akhirnya membentuk poros-poros aliansi untuk menghadapi musuh masing-masing. Bukan cuma masalah dengan Master Dragon, Bujang juga mengalami kejutan baru dari masa lalunya. Dia yang telah berdamai dengan masa lalunya itu kembali terusik oleh kehadiran seseorang yang memanggilnya hermanito. Jangan tanya hermanito apa, di buku ada kok. Hehe. Demi mengetahui lebih banyak tentang sosok itu, Bujang akhirnya mengorek lika-liku kisah cinta Samad, ayahnya.

Ekspansi. Perang. Dendam. Pembunuhan. Kematian. Pengkhianatan. Hal-hal tersebut yang mengisi hari-hari Bujang.

Lalu selanjutnya apa? Apa yang hendak Bujang kejar dengan rentetan hal tersebut? Kemana dia akan pergi? Kemana dia akan membawa Keluarga Tong pergi? Dari sinilah judul novel ini diambil.
Menurut saya sih overall masih seru tapi tidak seseru buku sebelumnya. Tere Liye masih lihai membuat mini plot twist tak terduga. Saya bilang mini karena bukan sesuatu yang sangat mengagetkan hingga sangat memengaruhi jalan cerita. Ada tiga hal yang menurut saya membuat buku yang satu ini less seru, pertama judul pada setiap subbab langsung mengungkapkan seluruh isi cerita. Saya ambil contoh ya, ceritanya si Bujang sedang mencari bom yang disembunyikan di sebuah pesta pernikahan. Nah, judul subbab yang dipakai adalah �Kue Pernikahan�. Ketauan dong itu bom ada dimana. Yha. Kurang seru kalau udah tau duluan. Saya pengennya bisa ikut mikir terus nebak gitu selama baca ceritanya. Biasanya kalau nebak terus bener jadi ngerasa sangat cerdas, huehe. Terus yang kedua, ini cuma mengganggu sedikit sih, menurut saya terlalu banyak deskripsi khusus untuk keluarga shadow economy. Ya mungkin maksudnya untuk menggambarkan betapa kuat, betapa berkuasa, betapa kayanya mereka, tapi porsinya kebanyakan sih bagi saya. Jadi sering saya skip. Yang terakhir, kok rasa-rasanya penokohan si Bujang tidak sekuat sebelumnya ya. Saya lebih bisa terbawa sensasi membaca novel di buku sebelumnya.

Terlepas dari hal-hal di atas, ada pembelajaran yang bisa dipetik. Baik itu super relatif. Membela seseorang dari pengkhianatan dalam keluarga, sekilas terlihat baik. Tapi apakah masih dianggap baik jika ternyata seseorang tersebut dahulunya merupakan pengkhianat dari penguasa sebelumnya. Siapa yang jahat di sini? Sekali lagi baik itu relatif, dan kemana kita akan pergi ditentukan oleh �baik� yang kita anut. Narasi mendalam ini disampaikan oleh tokoh Salonga.

Novel ini untuk usia 15 ke atas.

Satu hal lagi, saya mencium bau-bau adanya sekuel lanjutan sih. Pasalnya lembaran buku udah tipis tapi konfliknya belum meletus. Konflik benar-benar meletus di akhir dan masih menyisakan satu kisah menggantung. Saya berekspektasi bakal ada lanjutannya. Meskipun di akhir buku tulisannya �TAMAT� sih, tapi semoga saja!

P. S. tulisan ini menjadi salah satu dari 10 resensi novel pilihan oleh penerbit Republika. Yey.

Pemenang Resensi Pergi Republika