Penulis - Pramoedya Ananta Toer
Judul - Anak Semua Bangsa
Judul - Anak Semua Bangsa
Ini dia buku kedua dari Tetralogi Buru karya Pak Pram. Tentang buku sebelumnya bisa baca di Bumi Manusia.
Bicara mengenai bahasa, kurang lebih sama dengan buku sebelumnya. Meskipun pakai aksen bahasa Indonesia yang beda, saya udah kebiasa (apalagi abis baca Dari Penjara ke Penjara) jadi nggak ada masalah.
Spoiler alert untuk Bumi Manusia. Jadi saya akan tulis tentang Anak Semua Bangsa dengan menganggap kalian sudah membaca Bumi Manusia ya. Kalau belum silakan di-stop bacanya. Wkwkwk. Lagian kalau belum baca yang sebelumnya nggak bakalan nyambung sama ceritanya.
Di akhir buku pertama diceritakan bahwa Annelies dikirim ke Nederland untuk tinggal selama dua tahun. Hal ini merupakan keputusan pengadilan antara geng pribumi (Minke, Nyai Ontosoroh) melawan geng totok (Maurits Mellema dan ibunya). Perebutan hak perwalian Annelies masalahnya. Annelies dengan terpaksa mengikuti putusan pengadilan. Seluruh kebahagiaannya digambarkan tersedot habis. Tidak pernah ada lagi semangatnya untuk hidup. Sedih banget lah pas baca deskripsi keadaan Annelies melalui surat Panji Darman (utusan Minke dan Nyai Ontosoroh untuk mengawasi). Selain itu, Minke dihadapkan dengan sebuah perintah, yang dia sendiri sangat berat untuk melakukannya, yaitu menulis dalam bahasa Melayu. Belum mengenal bangsa sendiri, itulah 'tuduhan' yang Minke terima. Hal ini membuat Minke berpikir dan berpikir. Kemudian bertemulah dia dengan Khow Ah Soe, aktivis dari daratan China. Masuklah dia ke kehidupan petani sengsara bernama Trunodongso. Ditambah korespondensi dengan keluarga De la Croix membawa Minke untuk merenungi apa hakikat menulis dalam bahasa sendiri. Di akhir cerita kembali dipertemukan konflik tokoh Maurits Mellema dengan Nyai Ontosoroh. Konflik yang sangat tidak seimbang, yang satu berkekuatan hukum, yang satu hanya berkekuatan mulut saja.
Mengapa berjudul Anak Semua Bangsa? Ada suatu bagian dalam buku ini yang menyatakan bahwa ketika kita mengenal bangsa lain, maka kita akan makin mengenal bangsa sendiri. Tidak ada yang bisa berbuat untuk suatu bangsa selain orang-orangnya sendiri. Kita adalah produk dari pemikiran yang berasal dari semua bangsa, dari dulu hingga sekarang. Kita adalah Anak Semua Bangsa. Kita mengenal semua bangsa untuk mengenal bangsa sendiri lalu berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.
Kurang lebih dari yang saya tangkap, novel ini memberi pesan, "Siapa lagi yang ngurusin bangsa ini kalau bukan elo! Belajar kepada bangsa lain bukan berarti elo makin jauh dari bangsa sendiri, makin melupakan bangsa sendiri, tapi justru hal itu untuk refleksi bagi bangsa ini.". Ya begitu.
Saya banyak emosinya baca buku ini. Banyak ketidakadilan, penindasan, dan pemaksaan. Pribumi yang selalu dianggap rendah. Pribumi jelata yang udah susah makin dibikin susah. Sikap pribuminya sendiri yang mentalnya udah porak poranda (ya bayangin aja ngeliat orang bersepatu nyalinya udah ciut). Perempuan pribumi yang dipaksa nikah, yang dijual bapake sendiri demi tahta. -____________________-
Ya namanya ngegambarin keadaan Indonesia (Hindia) pas dijajah Belanda sih ya. Banyak keselnya karena pribumi diinjak-injak. Kan gua pribumi yak.
![[BACA BUKU] Anak Semua Bangsa [BACA BUKU] Anak Semua Bangsa](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNtKXFfJNVDn7NJMJ-IEKpGUMwTC3t03VUuDuXOu-4pIu7LQNhzhcbxDoInbC6Ny3NotoQrL7qBEp-G1iTz1WrhYkTEA_IISnfT4E_b2mL10N9G3IHaeh5IofQQHHKSJJF5BJuzs66LLq8/s640/anak+semua+bangsa+-+mailma.jpg)