Mengapa Mengapa Mengapa

Mengapa Mengapa Mengapa

Saya sangat kagum kepada seseorang yang mumpuni di bidang ilmu pengetahuan namun ilmu agama tak ketinggalan. Paket komplit selalu jadi favorit. Karena itu beberapa waktu lalu saya super duper bersemangat untuk mengikuti kuliah yang dibawakan oleh kaprodi (kepala program studi) saya, Pak Saiful. Kalau biasanya tatap muka perkuliahan membahas tentang konteks keilmuan Informatika, kali ini beliau menyuntikkan nafas keber-agama-an dalam kuliahnya.

Pokok utama dalam penjelasan beliau adalah pengembangan ilmu pengetahuan tanpa mempertahankan identitas kerber-agama-an bisa berakibat olengnya peradaban. Kenapa? Ketika suatu masyarakat sudah mencapai kemudahan dalam setiap bidang, lalu apa lagi yang harus dicari? Apa lagi yang harus dicapai? Kalau udah serba high-tech semua, terus mau ngapain? Masyarakat bisa-bisa kehilangan atau lupa pada esensi dalam menjalani kehidupan. Kalau manusia sudah lupa, tinggal menunggu waktu peradaban yang super maju tersebut akan runtuh. Pasti tau kan sudah berapa banyak peradaban paling maju di dunia ini bergonta-ganti? Ada Romawi, Persia, Yunani, Islam, banyak lah ya. Selalu dinamis. Dinamika ini membuktikan maju teknologi aja nggak cukup. Penguasaan teknologi perlu dibarengi dengan pengembangan karakter, ya identitas beragama tadi.

Terus mengapa tulisan ini judulnya 'Mengapa Mengapa Mengapa'?

Tadi cuma intro, karena menurut saya yang paling applicable dari penjelasan Pak Saiful adalah tentang Pentingnya Mengapa.

Baca: Tentang Politik: Sebuah Refleksi

Kadang kita terlalu fokus kepada apa dan bagaimana sampe-sampe lupa sama mengapa. Ambillah contoh ikut kepanitiaan anu. Sibuk nih, rapat, rapat, rapat terus buat menggali apa yang ingin dilakukan di kepanitiaan tersebut dan bagaimana caranya. Lalu lupa nanya ke diri sendiri, kenapa sih gua mau-maunya ngerjain ini itu? Kenapa? Buat apa? Buat siapa? Karena berbuat baik pun tidak cukup, mengapa mau berbuat baik dan berbuat baik untuk siapa kita juga harus mampu buat menjawabnya.

Bagaimana menjawab pertanyaan 'Mengapa'?

Jawaban dari mengapa ada dua, yang versi biasa dan luar biasa. Versi biasa adalah jawaban dari mengapa yang hanya berorientasi pada diri sendiri. Mengapa kuliah? Biar nanti bisa kerja cari duit. Itu jawaban mengapa yang biasa. Agar lebih bermakna apapun yang kita lakukan, pilih jawaban mengapa yang luar biasa. Caranya gimana biar luar biasa? Pertanyaan mengapa harus bisa menjawab tanggung jawab keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Hubungkan dengan ketiga identitas tersebut. Sudahkah yang kita lakukan saat ini berguna buat sesama umat beragama? Kalau tidak satu agama, sudahkah yang kita lakukan saat ini berguna buat sesama satu bangsa? Kalau tidak satu bangsa, sudahkah yang kita lakukan saat ini berguna untuk sesama manusia? Niscaya deh, pemaknaan mengapa jadi lebih bermakna. Dan luar biasa tentunya.

Baca: Kuliah untuk Apa?

Karena manusia adalah gudangnya lupa, jadi jangan lupa setiap saat harus mempertanyakan lagi mengapa begini, mengapa begitu.

Lalu jawaban yang biasa saja nggak boleh gitu?

Boleh. Dan sangat wajar. Manusia mana yang bisa ikhlas dengan paripurna. Semua orang pasti struggle for the sake of their own life. Tapi sandingkan dengan jawaban yang luar biasa. Itu yang membedakan satu orang dengan yang lain.

Mengapa dulu cari, baru apa dan bagaimana bisa menyusul. Mengapa itu kayak fondasi. Dasar. Fundamental. Berharga. Kalau jawaban dari mengapa tidak kuat, bisa roboh semua-muanya.

Baca: Recognizing the Real Enemy

Jadi, sudah mulai mempertanyakan 'mengapa' pada diri sendiri?