Penulis - Tan Malaka
Judul - Dari Penjara ke Penjara
Akhirnya selesai juga baca ini buku. Wkwk. Hampir dua bulan deh kayaknya buku yang saya pegang cuma buku ini (selain diktat kuliah tentunya huehe). Saking lamanya, ujung sampul bukunya sampai keriting.
Dari Penjara ke Penjara merupakan sebuah autobiografi oleh Tan Malaka.
Cover buku ini menampilkan potret diri Tan Malaka yang disusun dari kata-kata dengan latar belakang hitam dan sebuah kutipan:
Siapa ingin merdeka harus bersedia dipenjara.
Gelap misterius gitu saya makin tertarik buat baca, wkwkwk.
Di kemudian hari teman saya berkomentar bahwa dia tidak bisa selesai membaca Madilog, katanya dia tidak mengerti alur berpikirnya. Mungkin Dari Penjara Ke Penjara bisa lebih mudah dimengerti, katanya.
Jadi apakah lebih mudah dimengerti? Nggak tau ya, saya kan belum pernah baca Madilog, hehehe.
Narasi di buku ini memakai Bahasa Indonesia kuno gitu. Semodel sama novel Bumi Manusia. Tapi lebih susah dipahaminya. Hahaha. Tantangan banget buat baca buku ini. Seratusan halaman awal saya masih lemot dalam memahami kalimat-kalimatnya. Halaman-halaman selanjutnya udah mulai terbiasa. Kayaknya berkali-kali saya ketiduran sambil baca buku ini. Kelamaan mikir maksud kalimat ini apaan, eh mata tiba-tiba udah merem duluan. Alasan kenapa bahasanya lebih susah dipahami mungkin karena buku ini kan autobiografi, lebih seperti catatan harian untuk diingat seorang Tan Malaka. Peruntukannya bukan untuk sastra sebagaimana novel Bumi Manusia. Kan kalau novel memang didesain untuk dimengerti dengan mudah oleh pembaca, iyakan?
Selain itu beberapa istilah dan peristiwa tidak ada penjelasannya lebih lanjut, seakan-akan menganggap pembacanya juga hidup pada tahun yang sama saat buku ini ditulis, 1947. Jadi mungkin dianggap 'ah pasti ngertilah pembaca'. Tahun segitu dimana coba saya. Haha. Biasanya saya skip dulu, tapi ujung-ujungnya juga jadi lumayan ngerti.
Ohya, ada satu hal lagi yang lucu. Banyak sekali kata 'dan' di buku ini yang seharusnya menggunakan kata 'dari'. Mungkin ini kesalahan pengetikan karena tulisan tangan kata 'dan' dan 'dari' sangat mirip kali ya. Jadi kalau ada kalimat yang membingungkan, mungkin kalian harus mengganti membaca kata 'dan' menjadi 'dari'.
Lanjut ke isinya, biasanya novel autobiografi melingkupi kehidupan dari lahir kan, tapi buku ini dimulai dari kepulangan Tan Malaka setelah studi di Eropa. Kalau dilihat dari keseluruhan jalan cerita di buku ini saya menangkap Tan Malaka merupakan seseorang yang care sekali terhadap nasib kaum kecil. Pasca kepulangannya itu beliau mendirikan semacam tempat pendidikan bagi putra-putri pekerja atau buruh di Deli. Karena beda pandangan politik (zaman dulu beda pandangan politik itu masalah banget ya?) perjalanan dari penjara ke penjara dimulai. Statusnya resmi sebagai tahanan politik.
Baca: [BACA BUKU] Pulang
Buku ini merupakan gabungan dari dua jilid buku yang ditulis. Bagian pertama menceritakan penjara di Hindia-Belanda dan Filipina. Bagian dua menceritakan penjara di Hongkong dan Indonesia. Menceritakan penjara bukan bermakna hanya menjelaskan deskripsi penjaranya seperti apa dan bagaimana. Tetapi Tan Malaka juga mendeskripsikan bagaimana keadaan rakyat murba alias jelata saat itu dan bagaimana polah pemimpinnya. Pada bagian pertama, bagian Hindia-Belanda rupanya hanya jalur sebelum akhirnya dipenjara di Filipina. Seperti saya katakan di awal, seratusan halaman pertama saya agak lemot memahaminya, agak lupa juga apa yang dibahas karena bagian ini dibaca hampir dua bulan yang lalu. Hehe. Yang saya tangkap saat itu kegiatan Tan Malaka berpusat pada komintern (organisasi komunis revolusioner internasional). Berlanjut ke Filipina, dijelaskan mengenai kepemimpinan dari tiga orang tokoh revolusioner di sana, Jose Rizal, Bonifacio, dan Mabini. Ya, isinya analisis dan pemikiran si penulis terhadap revolusi di Filipina saat itu. Karena satu dan lain hal, imperialis membuang dan melarang Tan Malaka untuk berada di Filipina. Selanjutnya memasuki bagian kedua, Hongkong dan Indonesia. Mungkin lebih tepatnya Tiongkok karena tempat yang disinggahi bukan hanya Hongkong, adapula Amoy dan Desa Iwe. Bagian ini benar-benar menjelaskan keseharian yang dilalui Tan Malaka. Bagaimana beliau berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain karena adanya peperangan yang meletus, bagaimana pencarian kerjanya, bagaimana melawan penyakit yang ada pada dirinya, bagaimana perilaku orang tionghoa, dan lain-lain. Semuanya menjadi tidak mudah karena statusnya adalah seorang pelarian politik. Selanjutnya Tan Malaka berpindah dari Tiongkok ke Singapura dan akhirnya menyeberang untuk sampai lagi di Indonesia. Di Indonesia beliau bekerja di penambangan arang di Bajah Kozan. Diceritakan imperialis sudah digantikan dengan era penjajahan oleh Jepang. Di Bajah Kozan, Tan Malaka berusaha memperbaiki kehidupan para romusha (istilah untuk pekerja paksa di zaman pendudukan Jepang) yang sudah hancur lebur agar menjadi lebih baik. Bener-bener menyedihkan membaca deskripsi keadaan romusha saat itu. :(
Sepanjang perjalanan penjara ke penjara, identitas asli Tan Malaka selalu disembunyikan. Banyak banget nama aliasnya. Demi menghindari penangkapan oleh imperialis yang takut akan tokoh-tokoh revolusioner.
Such a long journey. Takjub lah Tan Malaka mau mempertahankan semangat revolusi untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Meskipun kudu rela dikejar-kejar imperialis. Kudu rela meninggalkan sanak keluarga dan hidup di pengasingan. Kudu rela kehilangan kemerdekaan pribadi. Kutipan di belakang buku ini sangat menyentuh:
... Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri.
-Tan Malaka-
Sedikit lebih kenal lah kepada sosok Tan Malaka setelah baca ini.