Penulis - Tasaro GK
Judul - Muhammad #2 (Para Pengeja Hujan)
Biar afdhol baca yang sebelumnya ya:
Baca: [BACA BUKU] Muhammad #1 (Lelaki Penggenggam Hujan)
Ini merupakan buku kedua dari seri novel biografi Nabi Muhammad SAW.. Saya sangat menyukai buku sebelumnya jadi begitu menemukan eksistensi buku kedua di perpustakaan, saya putuskan untuk membacanya.
Buku ini melanjutkan kisah bersambung pada buku pertama. Kisah kekuatan Islam di akhir kehidupan Rasulullah dan perjalanan Kashva di Tibet yang mengalami bencana. Ada satu tambahan kisah lagi, yaitu pergolakan di Kerajaan Persia. Jadi di buku ini ada tiga cerita yang berjalan paralel lalu akan terhubung pada akhirnya.
Di bagian awal dijelaskan mengenai kelahiran dan masa kecil Rasulullah. Tentang ibunda dan ayahanda beliau. Tentang keluarga Halimah, ibu susu beliau. Tentang 'Abdul Muththalib, kakek beliau. Namun di buku ini pula, diceritakan kisah akhir hidup Rasulullah. Bagaimana kekacauan di internal Islam. Bagaimana kekosongan kekuasaan menjadi sebuah bom waktu yang bisa menghancurkan Islam itu sendiri. Bahkan sebelum sempat jasad Rasulullah selesai dimakamkan, geger tentang kekuasaan sudah merajalela. Islam mencapai titik kritisnya. Dulu saya mengira perpindahan kekuasaan Islam ya begitu saja. Pindah, tanpa konflik. Ternyata pemikiran saya salah. Banyak sekali konflik di dalamnya. Banyak perdebatan akan hujjah (bukti atau dalil) yang dipakai. Apalagi saat itu pasca Rasulullah wafat. Terbiasa dengan mengadu masalah ke Rasulullah dan langsung mendapat hukumnya dari beliau, tapi saat itu beliau sudah tiada. Kaum muslim harus menggunakan akalnya sendiri untuk berijtihad.
Baca: [BACA BUKU] Seri Pertama - The Chronicles of Ghazi: The Rise of Ottomans
Mungkin karena itulah buku ini berjudul 'Muhammad #2 (Para Pengeja Hujan)'. Muslim harus 'mengeja' ajaran dari Rasulullah. Apakah boleh begini begitu, haruskah begini atau begitu, semua demi melanjutkan nafas Islam di dunia.
Kashva, Sang Pemindai Surga, adalah ahli ilmu di zamannya yang berusaha memurnikan ajaran Zarathustra. Zarathustra atau Zoroaster atau agama Majusi merupakan agama mayoritas penduduk Persia. Dia masih dalam pengejaran Raja Persia karena tingkahnya yang fenomenal di buku pertama. Namun, di tengah perjalanan dia dan Vakhsur terpisah dari Xerxes dan Mahsya. Perjalanannya dari yang bertujuan untuk menemukan kebenaran agama, bertemu dengan sahabat-sahabat penanya, berubah menjadi perjalanan untuk menemukan Xerxes dan Mahsya. Hingga sampailah kepada keputusan Kashva dan Vakhsur akan kembali ke Persia. Tempat yang justru paling berbahaya bagi mereka saat itu.
Kerajaan Persia mengalami pergolakan yang hebat. Tahta raja berganti-ganti dengan cepat. Belum sempat darah raja sebelumnya mengering, raja baru sudah merangsek merebut singgasana. Anak membunuh ayah. Saudara membunuh saudara. Buta akan kekuasaan menjadikan keluarga Kerajaan Persia porak poranda karena dinodai oleh darah perebutan kekuasaan. Hingga sampailah tampuk kekuasaan pada tiga putri dengan tiga watak yang berbeda. Nasib Persia juga di ujung tanduk.
Deskripsi yang nyampe di hati, keunggulan novel ini. Penulis juga kadang meng-cut sebuah cerita saat di puncaknya, lalu berganti ke cerita lain. Hal ini membuat sangat penasaran sehingga saya susah buat berhenti baca. Overall impresi saya kurang lebih sama dengan buku pertama. Menyenangkan bisa merasakan lebih nyata kehidupan seorang Rasulullah tanpa dipusingkan dengan terlalu banyak angka maupun nasab yang panjang. Biasanya gitu di buku sejarah. Memang sih detail angka tahun dan nasab yang lengkap itu perlu. Tapi untuk konteks penghayatan, terlalu banyak detail justru akan mengaburkan apa yang menjadi inti pembelajaran sebuah kisah. Ada satu hal lagi yang menarik, pardon my spoiler, di bagian akhir ada PLOT TWIST-nya. Tolong, saya sampe ternganga-nganga dan sempet loading otak sesaat.
Baca: [BACA BUKU] Ganti Hati: Tantangan Menjadi Menteri
Saya juga menyadarai sesuatu setelah membaca novel ini. Karena latar waktu dan tempat saya dengan latar waktu dan tempat Rasulullah jauh sungguh jauh berbeda, kadang agak susah untuk relate dengan konflik yang terjadi. Misalnya, orang Arab panik ketika Khalifah mengatakan akan membebaskan semua tawanan dalam rumah-rumah orang Arab. Saya di sini bingung, jadi tawanan bagi mereka itu seperti apa? Kenapa malah panik kalau tawanan dibebaskan? Apakah definisi tawanan yang saya mengerti sama dengan definisi mereka? Kadang masih bingung juga, kenapa setelah tokoh ini bilang ini tokoh yang lain merasa senang? Ya begitulah.
Buku ini bagus banget lah menurut saya. Penuturan biografi Rasulullah dengan pendekatan sastra novel merupakan ide yang brilian. Give it a try!
Segera meluncur ke buku ketiga.
Ini merupakan buku kedua dari seri novel biografi Nabi Muhammad SAW.. Saya sangat menyukai buku sebelumnya jadi begitu menemukan eksistensi buku kedua di perpustakaan, saya putuskan untuk membacanya.
Buku ini melanjutkan kisah bersambung pada buku pertama. Kisah kekuatan Islam di akhir kehidupan Rasulullah dan perjalanan Kashva di Tibet yang mengalami bencana. Ada satu tambahan kisah lagi, yaitu pergolakan di Kerajaan Persia. Jadi di buku ini ada tiga cerita yang berjalan paralel lalu akan terhubung pada akhirnya.
Di bagian awal dijelaskan mengenai kelahiran dan masa kecil Rasulullah. Tentang ibunda dan ayahanda beliau. Tentang keluarga Halimah, ibu susu beliau. Tentang 'Abdul Muththalib, kakek beliau. Namun di buku ini pula, diceritakan kisah akhir hidup Rasulullah. Bagaimana kekacauan di internal Islam. Bagaimana kekosongan kekuasaan menjadi sebuah bom waktu yang bisa menghancurkan Islam itu sendiri. Bahkan sebelum sempat jasad Rasulullah selesai dimakamkan, geger tentang kekuasaan sudah merajalela. Islam mencapai titik kritisnya. Dulu saya mengira perpindahan kekuasaan Islam ya begitu saja. Pindah, tanpa konflik. Ternyata pemikiran saya salah. Banyak sekali konflik di dalamnya. Banyak perdebatan akan hujjah (bukti atau dalil) yang dipakai. Apalagi saat itu pasca Rasulullah wafat. Terbiasa dengan mengadu masalah ke Rasulullah dan langsung mendapat hukumnya dari beliau, tapi saat itu beliau sudah tiada. Kaum muslim harus menggunakan akalnya sendiri untuk berijtihad.
Baca: [BACA BUKU] Seri Pertama - The Chronicles of Ghazi: The Rise of Ottomans
Mungkin karena itulah buku ini berjudul 'Muhammad #2 (Para Pengeja Hujan)'. Muslim harus 'mengeja' ajaran dari Rasulullah. Apakah boleh begini begitu, haruskah begini atau begitu, semua demi melanjutkan nafas Islam di dunia.
Kashva, Sang Pemindai Surga, adalah ahli ilmu di zamannya yang berusaha memurnikan ajaran Zarathustra. Zarathustra atau Zoroaster atau agama Majusi merupakan agama mayoritas penduduk Persia. Dia masih dalam pengejaran Raja Persia karena tingkahnya yang fenomenal di buku pertama. Namun, di tengah perjalanan dia dan Vakhsur terpisah dari Xerxes dan Mahsya. Perjalanannya dari yang bertujuan untuk menemukan kebenaran agama, bertemu dengan sahabat-sahabat penanya, berubah menjadi perjalanan untuk menemukan Xerxes dan Mahsya. Hingga sampailah kepada keputusan Kashva dan Vakhsur akan kembali ke Persia. Tempat yang justru paling berbahaya bagi mereka saat itu.
Kerajaan Persia mengalami pergolakan yang hebat. Tahta raja berganti-ganti dengan cepat. Belum sempat darah raja sebelumnya mengering, raja baru sudah merangsek merebut singgasana. Anak membunuh ayah. Saudara membunuh saudara. Buta akan kekuasaan menjadikan keluarga Kerajaan Persia porak poranda karena dinodai oleh darah perebutan kekuasaan. Hingga sampailah tampuk kekuasaan pada tiga putri dengan tiga watak yang berbeda. Nasib Persia juga di ujung tanduk.
Deskripsi yang nyampe di hati, keunggulan novel ini. Penulis juga kadang meng-cut sebuah cerita saat di puncaknya, lalu berganti ke cerita lain. Hal ini membuat sangat penasaran sehingga saya susah buat berhenti baca. Overall impresi saya kurang lebih sama dengan buku pertama. Menyenangkan bisa merasakan lebih nyata kehidupan seorang Rasulullah tanpa dipusingkan dengan terlalu banyak angka maupun nasab yang panjang. Biasanya gitu di buku sejarah. Memang sih detail angka tahun dan nasab yang lengkap itu perlu. Tapi untuk konteks penghayatan, terlalu banyak detail justru akan mengaburkan apa yang menjadi inti pembelajaran sebuah kisah. Ada satu hal lagi yang menarik, pardon my spoiler, di bagian akhir ada PLOT TWIST-nya. Tolong, saya sampe ternganga-nganga dan sempet loading otak sesaat.
Baca: [BACA BUKU] Ganti Hati: Tantangan Menjadi Menteri
Saya juga menyadarai sesuatu setelah membaca novel ini. Karena latar waktu dan tempat saya dengan latar waktu dan tempat Rasulullah jauh sungguh jauh berbeda, kadang agak susah untuk relate dengan konflik yang terjadi. Misalnya, orang Arab panik ketika Khalifah mengatakan akan membebaskan semua tawanan dalam rumah-rumah orang Arab. Saya di sini bingung, jadi tawanan bagi mereka itu seperti apa? Kenapa malah panik kalau tawanan dibebaskan? Apakah definisi tawanan yang saya mengerti sama dengan definisi mereka? Kadang masih bingung juga, kenapa setelah tokoh ini bilang ini tokoh yang lain merasa senang? Ya begitulah.
Buku ini bagus banget lah menurut saya. Penuturan biografi Rasulullah dengan pendekatan sastra novel merupakan ide yang brilian. Give it a try!
Segera meluncur ke buku ketiga.