[BACA BUKU] Bekisar Merah

[BACA BUKU] Bekisar Merah

Penulis - Ahmad Tohari
Judul - Bekisar Merah

Karya Ahmad Tohari membuat saya penasaran untuk membaca semuanya. Berawal dari sebuah novel hadiah pementasan drama saat SMA, karya Ahmad Tohari yang pertama kali saya baca. Judulnya Di Kaki Bukit Cibalak. Saya menjadi sangat tertarik untuk membaca hasil karyanya yang lain. Dan saya menemukan salah satunya saat Pesata Buku Bandung beberapa hari yang lalu, novel ini, berjudul Bekisar Merah.

Bekisar Merah mempunyai tokoh sentral seorang perempuan blasteran Jepang-Indonesia. Penampilan fisiknya berbeda dan dianggap cantik. Dia lah Lasi, yang direpresentasikan sebagai Bekisar Merah sesuai dengan judul novel ini. Lasi yang merasakan pahit dikhianati suaminya nekat kabur ke Kota Jakarta. Seorang Lasi yang polos, naif, dan tak berpendidikan harus menghadapi konflik ibukota. Kesakralan mahligai rumah tangga yang selama ini dibayangkannya tercoreng oleh kenyataan. Kenyataan bahwa dia dinikahi hanya untuk dijadikan sebagai boneka yang mempercantik rumah seorang konglomerat. Tapi manusia tetap manusia. Lasi juga pernah punya rasa kepada seseorang di masa lalunya. Berakhir bahagia atau tidak, silakan bukunya dibaca.

Baca: [BACA BUKU] Bumi Manusia

Novel ini mengambil latar sebuah kampung Jawa penghasil gula kelapa, Karangsonga namanya, dan latar ibukota. Penggambaran kehidupan nestapa para penderes (orang yang menyadap nira) amat nyata dideskripsikan. Bagaimana ketimpangan usaha yang dilakukan penderes dengan hasil yang didapat. Bagaimana sikap legowo terhadap kehidupan yang amat keras kepada rakyat kecil seperti mereka. Bagaimana lingkaran setan kemiskinan para pembuat gula kelapa mustahil untuk terputus. Bagaimana para tengkulak dan pemain harga pasar menginjak-injak kesejahteraan penduduk Karangsonga. Penjelasannya begitu cermat, menurut saya.

Hal itulah yang saya suka dari karya Ahmad Tohari, kedekatan rasa yang nyata saat membaca novelnya.

Mengenai cerita dalam Bekisar Merah, jujur saya sangat tidak suka dengan tokoh wanita yang saya sebut saja polos karena bego terlalu kasar. Dan di sini, wanita benar-benar digambarkan sebagai objek. Lempar sana sini, oper sana sini (lu kira bola sepak!). Prihatin tentu. Jangan-jangan sampai sekarang praktik oper-operan perempuan masih dilakukan. Di sini saya merasa sebal. Sebal sekali. Sampai kapan stereotip bahwa wanita adalah objek bisa musnah?

Baca: [BACA BUKU] Di Balik Kerling Saatirah

Ini bukti penggambaran suasana dalam Bekisar Merah bisa begitu menghanyutkan. Saya sampai bete sendiri gara-gara jalan ceritanya.

Di novel ini banyak sekali kosakata Bahasa Jawa yang dipakai. Sayang sekali sebagian besar tidak dilengkapi catatan kaki atau penjelasan singkat yang bisa membantu pembaca untuk paham maknanya. Bahkan saya yang bisa berbahasa Jawa tidak mengerti yang bagian tembang-tembang Jawa. Langsung saya skip, hehehe. Satu hal lagi yang agak mengganggu. Ini preferensi pribadi saya sih, ada bagian yang terlalu banyak diulang. Jadi ada sepotong dua potong cerita, dan cerita itu diulang-ulang terus sepanjang buku. Yang saya sangat ingat adalah cerita bagaimana Kanjat (salah satu tokoh) bersembunyi bersama Lasi saat permainan petak umpet. Rasanya pengen bilang, "Iya, iya, gue udah tau,". Haha.

Saya rasa buku ini diperuntukkan untuk orang dewasa. Konflik dalam kehidupan dunia pernikahan sepertinya terlalu kompleks buat anak-anak. Yah, namanya juga kehidupan. Kalau nggak kompleks nggak ada yang patut untuk diceritakan.