Manusia dikutuk untuk bebas
-lupa siapa yang bilang-
Hari ini saya terbayang-bayang oleh ungkapan di atas, 'Manusia dikutuk untuk bebas'. Kebebasan adalah kutukan. Bagaimana bisa? Bukankah segala perjuangan yang terbalut tetesan keringat, darah, dan air mata di muka bumi ini didominasi oleh tuntutan akan kebebasan? Berarti manusia berjuang buat sebuah kutukan dong.
Mari cari contoh biar tidak pusing
Beberapa hari lalu saya membaca blog yang menceritakan usaha seseorang untuk berhenti merokok. Apa alasannya? Simply karena ingin bebas. Bebas dari menjadi budak nikotin. Udah sampai level uring-uringan dan gagal fokus kalau nggak dapet suplai nikotin dari rokok. Orang tersebut tidak ingin tubuhnya dikendalikan oleh zat asing yang diproduksi oleh orang asing (orang asing maksudnya orang lain ya, bukan bule dan semacamnya, just in case you don't understand). Hari-harinya dihabiskan dengan memaksa diri untuk melupakan kegiatan merokok. Mengalihkan dengan makan permen, minum air, makan buah, dan lain-lain. Pokoknya dia berusaha melawan keinginan untuk merokok. Konsep bebas yang diinginkannya justru membuat kegiatannya menjadi tidak bebas. Jika waktu diputar ketika saat pertama kali dia mencoba rokok, maka pada saat itu dia sedang bebas menentukan pilihan untuk mencoba rokok. Tapi saat ini, pilihannya tersebut malah menyeretnya ke ketidakbebasan.
Terus gue pusing kan. Contoh lain lagi lah.
Soal politik nih yang mulai anget-anget menuju kebakaran di Indonesia. Katakanlah ada seseorang yang menerapkan budaya politik apatis. Tidak peduli. Pemimpin siapa elah bodo amat. Yang bikin undang-undang siapa au ah nggak peduli. Otomatis kerja pemerintahan nggak diawasi dong. Mau korupsi kek, kolusi kek, nepotisme kek, suka-suka. Mau bikin dokumen apa, prosesnya dihambat-hambatin. Si pemerintah ada kepentingan apa, bisa tuh orang-orang 'disetir'. Jadinya, yang bebas dengan pilihan apatisnya tadi justru menjadi tidak bebas kan.
Baca: Golput?
Baca: Korupsi di Indonesia
Oke, itu fiksi produksi otak gue sih. Tapi bisa jadi beneran ya nggak sih.
Contoh lain lah. Gue sendiri.
Kemarinan saya dihadapi kepusingan teramat sangat karena harus menentukan mata kuliah pilihan yang harus saya ambil. Tidak ada rekomendasi resmi dari jurusan saya. Jadilah saya berkelana mengarungi lautan mata kuliah pilihan di banyak jurusan lain (ini berkelana online kok, hehehe). Kebebasan menyuguhi saya banyak sekali pilihan. Setelah memilih, saya HARUS bersiap menerima apakah kelasnya menarik, apakah dosennya enak ngajarnya, atau apakah mata kuliah yang saya ambil tersebut cukup relevan dengan jurusan saya sehingga akan dimasukkan ke dalam bobot sks lulus.
Contoh lagi, singkat tapi.
Semua orang bebas lah mau nyolong. Tapi perbuatan nyolong melanggar hukum kan dan bisa mengakibatkan seseorang dipenjara, which is dia menjadi terkurung dan tidak bebas lagi.
Jadi, apa bebas itu? Bagaimana memaknai bebas?
Setelah berkontemplasi sampe sakit kepala, mungkin saya harus berteori, haha.
Tidak ada kebebasan yang absolut. Kebebasan akan menghasilkan ketidakbebasan.
Balik lagi ke awal. Mungkin inilah jawaban kenapa bebas merupakan kutukan. Karena bebas pun akan menyebabkan ketidakbebasan. Bisa jadi ini harmoni alam kali ya. Ada siang ada malam. Ada yin ada yang. Ada bebas ada tidak bebas. Kebebasan bisa dirasakan karena ada ketidakbebasan. Bebas membuat seseorang memiliki pilihan yang tak terbatas. Menurut sebuah teori (teori bukan ya saya lupa, masih dicari), semakin banyak pilihan, manusia justru semakin menyesal dengan pilihan yang diambilnya. Akhirnya manusia tidak bisa bebas dari perasaan menyesal. Kebebasan berujung ketidakbebasan.
Now I'm wondering, how far free will will still be free?
Ah, apasih.
P.S. Ternyata kata-kata di paling atas merupakan kata-kata Sartre yang lamat-lamat saya ingat baca dari buku Dunia Sophie.