Golput?

Golput?

"Boleh golput nggak?"

Intro sedikit, jadi saat ini di kampus saya sedang ada pemilihan raya (pemira) untuk memilih presiden KM ITB. Sekarang sampe empat hari kedepan adalah masa pemungutan suara.

Kemudian saya melihat sebuah pertanyaan di awal tulisan ini, "Boleh golput nggak?". Well, saya ingin berbagi pandangan saya tentang golput itu sendiri.

Sebelumnya izinkan saya bercerita tentang latar belakang bagaimana pandangan saya tentang golput ini bermula.

Saat ini, kepala daerah di daerah saya sedang bermasalah. Kepala daerah yang baru-baru ini kena OTT KPK. Bukan cuma kepala daerahnya yang bermasalah. Ternyata banyak yang serupa dengan kepala daerah tersebut di dinas pendidikannya. Hal ini sangat berpengaruh ke keluarga saya, utamanya ibu saya yang seorang guru sekolah dasar.


Apa pengaruhnya? Sebelum itu saya beri tau bahwa di jajaran pegawai negeri sipil itu ada yang namanya golongan, semacam pangkat. Untuk naik golongan, harus memenuhi masa kerja tertentu dan syarat lain. Syarat lain ini salah satunya keikutsertaan dalam diklat. Bisa dibilang diklat yang diikuti ibu saya itu banyak. Bahkan saat pertama kali saya ke Bandung, saya berangkat sendirian karena saat itu ibu saya ikut diklat sepuluh hari lupa dimana. Saya sampe kalah prioritas sama diklat. Selain itu, yang namanya diklat seringnya berlokasi di tempat yang jauh. Harus nebeng sana sini biar bisa ke tempat diklat dan balik pulang ke rumah, apalagi kalo udah malem. Daerah saya bukanlah kota metropolitan yang tetep rame meskipun udah tengah malam. Malam hari udah pasti sepi dan nggak ada kendaraan umum lagi. Apalagi daerah saya belom terjangkau oleh transportasi online yang siap sedia 24 jam. And no man to rely on ... (read this). Segitu susahnya. Lalu ketika mengajukan untuk kenaikan golongan, diminta untuk membayar sekian dan sekian. Pelicin macem kispray katanya. Jelas ibu saya menolak. Buat apa? Dan akhirnya, berkas ibu saya satu-satunya yang tidak lolos. Padahal kalo melihat jumlah diklatnya, harusnya lolos. Lalu ibu saya memutuskan bakal mengajukan lagi kalo semua orang di dinas pendidikan saat ini sudah berganti.

Saya marah banget. Saya benci banget. Pengen memaki rasanya.

Kemudian saya terpikir, orang-orang seperti ini, yang menyusahkan hidup orang lain dan bisa lolos terpilih menjadi pemimpin, bagaimana bisa? Bagaimana jika ternyata orang-orang ini memang sudah ketauan dari awal kedoknya, sudah keliatan tabiatnya, tetapi karena suara untuk pemimpin yang baik ternyata kalah menurut hasil demokrasi, mereka tetap bisa melenggang naik ke tahta pemerintahan? Bisa jadi ini kesalahan fatal semua orang, karena tidak mau kepo terhadap calon-calon pemimpinnya, karena tidak mau meluangkan waktu sejenak untuk membaca track record calon-calon pemimpinnya, karena malas berpikir mau pilih yang mana. Jangan-jangan gara-gara tingkat apatis yang terlalu tinggi, suara untuk pemimpin yang baik terkalahkan oleh pemimpin yang kurang baik.

Jadi, "Boleh golput nggak?" jawabannya nggak ada yang ngelarang. Ada sih fatwa MUI yang ngelarang. Terlepas dari itu, intinya nggak ada yang ngelarang, 'nggak ada yang berhak' ngelarang malah. Semua orang punya pilihan masing-masing dan pilihan setiap orang patut dihormati. Tapi, tega gitu mau golput? Gimana jika akhirnya suara yang menang adalah suara untuk pemimpin yang kurang baik. Oke, mungkin kehidupan kalian nggak akan terpengaruh sama sekali, mau pemimpinnya A kek, B kek, tokek, bodo amat nggak ngaruh. Tapi pasti ada satu, dua, tiga, empat, lima, atau bahkan lebih yang kehidupannya semakin susah kalo pemimpinnya salah. Kasusnya seperti saya tadi. Menyumbangkan satu suara untuk pemimpin yang kita anggap baik itu sangat-sangatlah membantu. Memberi satu suara untuk pemimpin yang baik sudah termasuk berbuat baik. Doing good deeds makes a human, human, right? 

Kalo ngomongin dalam konteks pemira KM ITB ini, nggak ada yang memaksa lho buat ngorbanin malam-malam enak buat ngambis demi hadir di uji dengar. Yang penting sekarang tetap memberi suara. Cukup goleran di kasur sambil baca-baca notulensi uji dengar, lalu menentukan pilihan di masa pemungutan suara. Itu sudah berbuat baik.

Jadi, masih berencana golput? Atau sekilas kepikiran buat golput? You might consider this all.

Atau jika alasan golput adalah karena 'mau presidennya siapa juga nggak ngaruh buat gue', yah bisa apa saya buat menyadarkan orang egois seperti itu. Maaf-maaf saja, golput dengan alasan receh semacam itu menurut saya adalah perbuatan orang egois. :)

Jujur, tiap baca pernyataan seseorang yang berencana golput, saya sedih dan marah sendiri. Karena saya tau betapa sedihnya kalo sampe pemimpin yang terpilih bukan orang yang tepat. Karena saya pernah merasakan di posisi 'orang yang terkena dampak pemimpin salah'. Tapi mau marah juga gimana. Itu pilihan orang. Yang bisa saya lakukan hanya mengorek nurani kemanusiaannya saja. Masih maukah membantu?

Pemira ini menurut saya seperti langkah awal mengenal perpolitikan. Apalagi Indonesia sebentar lagi menyambut tahun politik terbesar. Berwawasan sedikit soal politik bisa jadi bekal agar kita tidak bisa 'disetir' oleh oknum-oknum yang berkepentingan politik.

Yaudah sih mau nulis itu aja.