[BACA BUKU] Bumi Manusia



[BACA BUKU] Bumi Manusia

Penulis � Pramoedya Ananta Toer
Judul � Bumi Manusia

Merupakan salah satu buku fiksi yang masyhur di dunia sastra Indonesia. Mungkin pernah dengar kata-kata, �Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.�. Itu adalah kutipan yang berasal dari buku ini. Saya sendiri cukup familier dengan kata-kata itu karena sering baca di soal ujian Bahasa Indonesia dulu.


Penyajian ceritanya menggunakan Bahasa Indonesia kuno. Susunan kalimat dan diksinya model lama. Contohnya nih �Tentu dada ini menjadi gembung.� yang maksudnya �Tentu diri ini menjadi sombong.� Lucu terkadang melihat pilihan katanya. Membaca kata �gembung� tadi justru imajinasi saya mengarah ke Ikan Kembung. Contoh lain, �Berani Sinyo lakukan itu?� lebih umum jika kata �berani� diletakkan di belakang �Sinyo� kan?

Jadi membaca novel ini  rasanya perlu sepersekian sampe sekian detik buat mencerna kalimatnya. Beberapa kata juga jarang sekali dipakai di kehidupan sehari-hari, misalnya Totok (orang Eropa murni), Indo (orang blasteran), gundik (wanita simpanan), sinyo (sebutan untuk anak lelaki yang belum kawin), noni (nona kecil), dan tabik (salam). Mengetahui dari awal arti kata-kata tersebut sangat membantu dalam memahami maksud cerita.


Kisahnya mengambil latar di Kota Surabaya pada akhir abad ke-19 (sekitaran tahun 1899). Karena Kota Surabaya tempatnya, jadilah cerita ini kental akan nuansa adat budaya Jawa saat itu. Saya sebut saat itu karena sebagai seorang Suku Jawa, saya merasa gambaran adat budaya Jawa di novel ini sudah tidak relevan dengan sekarang. Saya sendiri cukup kaget dan bahkan berpikir �Wah, gitu banget dah,� melihat sikap-sikap orang Jawa yang dideskripsikan. Pada masa itu pula gelar darah murni Eropa begitu diagung-agungkan sedangkan gelar Pribumi merupakan takdir buruk yang dihinakan. Hukum kasta sangat dimunculkan wujudnya dalam novel ini. Baik itu hukum kasta yang muncul di dalam masyarakat Jawa, maupun konflik antara Totok dengan Pribumi. Pangkat tinggi, laki-laki, dan usia sepuh dianggap memiliki kasta lebih tinggi di Jawa. Dan seorang Totok dianggap memiliki kasta lebih tinggi dari Pribumi. Konflik cerita akan berkutat pada dua hal itu.

Lanjut ke konten. Berkisah tentang seorang Pribumi tulen bernama Minke yang mendapat didikan Eropa. Nyai Ontosoroh, Pribumi pula, gundik dari seorang Eropa. Annelies, putri Nyai Ontosoroh yang jelita tak terkira, seorang Indo tentunya. Apa yang dikisahkan? Perjuangan mendapat dan mempertahankan kebahagiaan menurut mereka. Dengan konflik cerita seperti yang saya sebutkan tadi. Apakah mereka mampu mencapai kebahagiaan itu? Jawabannya harus didapat dengan membaca utuh novel ini. Hehe.

Kesan setelah membaca ini, pandangan saya tentang Eropa berubah. Dulu tiap mendengar kata Eropa yang terpikir pasti modern, maju, canggih, dan lain-lain, intinya ungkapan takjub lah. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Ada falsafah Jawa yang memberi nasihat �Ojo gumunan (jangan mudah takjub),� dan saya sangat merasakan kebenarannya. Haha.

Bukan bacaan untuk anak-anak. Saya merasa cocoknya untuk usia SMA ke atas.

Novel ini juga telah diangkat ke panggung teater dengan judul Bunga Penutup Abad. Minke diperankan Reza Rahadian, Nyai Ontosoroh diperankan Happy Salma, dan Annelies diperankan Chelsea Islan. Selama membaca buku ini yang terbayang sebagai Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies juga ketiga orang itu. Tentang teaternya? Saya nggak sempet nonton, kehabisan tiket yang paling murah. Haha. :�

Worth to read

Yes.

Sensasi baru lah dalam membaca novel, penuturannya berbeda daripada umumnya.