Provokatif Pada Tempatnya

Provokatif Pada Tempatnya

Provokatif/pro�vo�ka�tif/ a bersifat provokasi; merangsang untuk bertindak; bersifat menghasut

Tidak salah menjadi provokatif, asal tau tempatnya. Sekitar seminggu yang lalu saya sempat tidak sengaja mendengarkan kajian seorang pembicara di sebuah masjid. Tidak sengaja karena sebenarnya saat itu saya berniat untuk istirahat sejenak di sela menunggu jadwal kuliah selanjutnya. Tetapi, kajian yang terdengar di seantero ruangan masjid itu menarik perhatian saya. Bukan dalam arti positif sebenarnya. Kenapa? Kajian itu menarik perhatian saya karena tema yang dibawakan adalah tentang peristiwa G30S/PKI. Gerakan pada tanggal 30 September 1965 yang katanya didalangi PKI. Penyampaiannya dengan gaya provokatif abis.

Bukannya saya men-judge buruk gaya seseorang dalam menyampaikan pendapatnya di muka umum. Masalahnya, ini yang dibahas adalah G30S/PKI. Isu sensitif di Indonesia. Peristiwa berdarah penculikan sekaligus pembunuhan para jenderal yang diikuti pembantaian banyak terduga simpatisan PKI. Peristiwa penyumbang gelap dan luka bagi bangsa Indonesia. Dan yang paling utama, masalah ini masih abu-abu. Belum jelas. Entah mana benar, mana salah. Entah siapa dalang di baliknya. Banyak versi ceritanya. Pas saya masih SMA dulu, ada empat versi cerita tentang pelaku di balik G30S/PKI. Bahkan di suatu portal berita ada yang menyebutkan enam. Saya nggak akan membahasnya lebih jauh karena saya sendiri bukan sumber utamanya dan saya takut justru semakin memperkeruh kejelasan G30S/PKI. Namun, saat mendengar kajian kemaren, sang pembicara dengan suara lantang mengatakan �Soekarno sekutu PKI, dalang dari G30S/PKI,� (saya lupa kalimat persisnya). Diucapkan berulang-ulang. Dengan intonasi makin naik. Sungguh memekakkan telinga dan saya muak mendengarnya. Beliau yang tidak akan saya sebut namanya (karena emang lupa sih) berkata seolah-olah isu ini adalah isu yang sudah jelas dan terang benderang perkaranya. Padahal kan belom. Hih. Kalo orang yang nggak tau apa-apa ditambah jarang baca-baca mendengarnya maka sangat mungkin bakal terdoktrin oleh kata-kata beliau. Apalagi tempat kajian ada di area umum, banyak orang lalu lalang, dari mulai bayi hingga dewasa. Sangat mungkin untuk terpengaruh begitu saja tanpa mengetahui bahwa sebenarnya peristiwa ini masih misteri. Sangat mungkin yang tidak bersalah menjadi terlabeli salah dan menanggung beban tuduhan tak bertanggung jawab yang disebarkan oleh pihak-pihak provokatif. Saya sangat menyesalkan hal ini.


Btw, sekarang lagi naik berita tentang pembukaan arsip rahasia Amerika Serikat yang mencatat tentang kronologi G30S/PKI. Silakan dicek di portal-portal berita nasional. Contohnya tirto.id, BBC Indonesia, CNN Indonesia, detiknews. Semoga saja semakin mencerahkan masalah ini.

Ah, aku lelah.

Sejarah kan tergantung penulis sejarahnya ya.

Sekalipun kajian tadi direfer ke ahli sejarah, masih bakal ada cacat cerita di sejarah yang diceritakan. Karena ya tadi, tergantung penulis sejarahnya. Apalagi yang koar-koar nggak pake merefer ke ahli sejarah yang kredibel. Ngaco iya. Eh bukan ngaco sih, lebih ke membenarkan sejarah yang sudah �laris manis� di masyarakat.

Menurut saya, mencari kebenaran sejarah harus banget membuka sudut pandang seluas-luasnya. Kenapa? Buat menghindari �kepentingan� yang �disisipkan� penulis sejarah di produk keluarannya.

Provokatiflah pada tempatnya!

Karena literasi Indonesia masih rendah. Karena lebih banyak orang yang lebih menyukai ngeliat Instagram Story daripada ngeliat tulisan panjang di portal berita nasional.


Karena lebih banyak orang merasa masa bodo sejarah yang penting gue hepi.

Karena nggak semua orang sudi untuk melakukan tabayyun terhadap informasi yang didapat.

Dan karena-karena yang lain.