Satu kalimat.
Indonesia darurat korupsi tolong.
Sebenernya udah gatel banget pengen nulis dari kemaren. Apalah daya ngerjain tugas >>> ngeblog yang notabenenya merupakan ajang saya bersenang-senang.
Buat kalian yang masih have no idea about it, atau bingung kenapa meme Setya Novanto ada dimana-mana, saya sarankan cek kajian dan sikap Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB) di bit.ly/ganyangkoruptor.
There I found lights!
Beneran sumpah. Saya akhir-akhir ini sangat jarang, hampir nggak pernah kali, ngikutin berita-berita di sekitar saya. Udah lupa kapan terakhir kali buka portal berita. Tapi luangkan waktu sejenak buat baca kajian di atas. Menurut saya itu sudah mencakup semua tentang keadaan KPK dan korupsi di negeri kita ini.
Jumlah kasus korupsi di Indonesia itu sama sekali nggak sedikit. Dari kasta ecek-ecek sampe kasta dewan kehormatan ada yang namanya korupsi. Masih inget nggak kasus Bank Century? Itu belum tuntas ternyata. Dan sekarang muncul juga skandal korupsi gede-gedean dan KPK malah dicoba dengan cara dilemahkan kuasanya untuk meng-handle kasus-kasus korupsi.
Pernah denger tentang Panitia Khusus (Pansus) Angket KPK yang dibentuk DPR? Taukah kenapa banyak kalangan terutama mahasiswa yang menolak keras putusan tersebut? Pansus Angket KPK ini bakal menyelidiki KPK. Mengintervensi KPK. UU tentang KPK bakal direvisi. Dan isi revisinya itu intinya bakal membentuk dewan pengawas yang bakal �menyetir� gerak KPK. Plis lah, kalo KPK nggak independen lagi, banyak diganggu sana-sini, gimana bisa semua kasus korupsi, entah di ranah istana, dewan, maupun hakim, bisa terungkap. Saya termasuk pihak yang menolak pula pansus-pansusan ini. Kenapa? Dari yang saya baca, pembentukannya pun sudah melanggar hukum yang berlaku. Efeknya, bisa mematikan cahaya yang menyingkap gelap busuknya korupsi di Indonesia. FYI juga, pada 7 Juli kemaren BEM UI, KM ITB, Gerakan Anti Korupsi, dan Forum Guru Besar melakukan aksi di DPR untuk menolak Pansus Angket KPK. Sekelas guru besar alias para cendekiawan negeri ini sampe ikutan aksi loh. Inti dari aksi ini yaitu menolak dilakukannya hak angket DPR terhadap KPK. Namun sayangnya target untuk mengajak para DPR berdialog terbuka di luar tidak terlaksana. Hal ini karena penolakan dari anggota DPR yang hadir saat itu. Berikut ini videonya:
Videonya hanya menampilkan suasana di dalam gedung. Karena DPR emang nggak mau diajak keluar.
Kalau kalian melihat secara full, situasi saat itu memang sangat panas. Pihak mahasiswa udah nggak sabaran, meanwhile pihak DPR-nya ngomong muter-muter ala-ala politikus. Ngerti kan? Saya juga seorang mahasiswa, jadi saya ngerti kenapa pihak mahasiswa saat itu panas dan nggak sabaran. Jika saya sendiri yang menghadapi anggota dewan, sayanya udah bete duluan kali. Bahasa politikus itu didesain tidak to the point. Njelimet. Ke sana-sini dulu. Dan cenderung pernyataannya moderat. Berikut ini beberapa liputan beritanya:
Videonya hanya menampilkan suasana di dalam gedung. Karena DPR emang nggak mau diajak keluar.
Kalau kalian melihat secara full, situasi saat itu memang sangat panas. Pihak mahasiswa udah nggak sabaran, meanwhile pihak DPR-nya ngomong muter-muter ala-ala politikus. Ngerti kan? Saya juga seorang mahasiswa, jadi saya ngerti kenapa pihak mahasiswa saat itu panas dan nggak sabaran. Jika saya sendiri yang menghadapi anggota dewan, sayanya udah bete duluan kali. Bahasa politikus itu didesain tidak to the point. Njelimet. Ke sana-sini dulu. Dan cenderung pernyataannya moderat. Berikut ini beberapa liputan beritanya:
- https://m.detik.com/news/berita/d-3552129/diterima-di-dpr-audiensi-massa-aksi-dan-pansus-angket-kpk-memanas
- http://m.viva.co.id/berita/politik/932934-pansus-angket-kpk-silat-lidah-dengan-mahasiswa-pendemo
- http://m.suara.com/news/2017/07/07/183630/bem-tak-mau-teken-daftar-hadir-pansus-kpk-ogah-temui-pendemo
- https://tirto.id/iluni-ui-amp-itb-berang-atas-pernyataan-masinton-soal-koruptor-cscg
- http://cnnindonesia.com/politik/20170707185103-32-226418/dua-sikap-akademisi-respons-pansus-angket-kpk-di-dpr
Saya baru sadar juga, ternyata lembaga-lembaga di Indonesia itu nggak sepenuhnya saling bersinergi dalam memberantas korupsi. Contohnya KPK dan kepolisian. Pasti tau kan ungkapan cicak versus buaya yang pernah nge-tren. Sejarahnya dimulai sejak kasus yang melibatkan Susno Duadji dan Antasari Azhar sekitar tahun 2008. Saya samar-samar ingat. Lalu dilanjutkan di tahun 2015, saat itu KPK menangkap salah satu petinggi di kepolisian karena kasus korupsi. Lalu sebagai �balasannya�, pihak kepolisian memperkarakan empat petinggi di KPK.
Ketika KPK mencoba menguak skandal-skandal besar, seakan-akan setiap petingginya selalu dijegal dengan suatu kasus. Berarti kalo mau menjadi petinggi KPK dengan status tetap aman, harus banget punya track record super bersih tanpa abu-abu dan cela. Karena somehow ketika ada pihak yang terusik dengan kegiatan KPK dalam mengusut korupsi, maka kehidupan petinggi di KPK yang bakal jadi sasaran. Entah karena diperkarakan atau dicelakai. Baru-baru ini salah satu penyelidik KPK yang dicelakai adalah Novel Baswedan. Disiram pake air keras pas abis solat Subuh. Kasusnya masih belom selesai. Tersangkanya entah siapa. Tapi Alhamdulillah beliau sekarang sudah pulih lagi.
Saya jadi kepikiran, gimana kalo selama menjadi pejabat di KPK orangnya kebal hukum sementara ya? Sampe masa jabatannya abis gitu. Biar kasus yang sedang ditangani nggak tersendat lalu berujung mangkrak. Sedih juga baca-baca ada kasus gede terbengkalai gara-gara pejabat KPK ditangkap-tangkapin.
Saat ini, kasus korupsi yang sedang jadi trending topic terhangat yaitu kasus korupsi KTP-el. Berawal dari laporan Nazaruddin, terpidana kasus wisma atlet Hambalang kalo kalian inget. Muncullah nama-nama anggota dewan yang diduga terlibat dalam korupsi proyek KTP-el. Salah satunya nama Setya Novanto, ketua DPR. Beliau ini ditetapkan sebagai tersangka, eh tapi malah bisa lolos dari praperadilan. Warganet Indonesia yang sudah Lelah akhirnya memboomingkan tagar #ThePowerofSetyaNovanto. Isinya? Satire at its finest. Makanya sekarang banyak meme-meme bertebaran di dunia maya yang mengungkapkan sindiran kepada Setya Novanto. Coba saja cari tagar #ThePowerofSetyaNovanto. Ungkapannya kocak-kocak, saya aja ngakak kok, hahaha. Emang kreatif ya warganet Indo.
Kasus KTP-el ini merugikan negara sebesar 2,3 triliun (sumber dari kajian dan sikap KM ITB). Triliun dong. Dibeliin dawet Kota Bandung udah banjir kali.
Kelanjutan dari kasus ini entahlah. Tanggal 2 Oktober kemaren, pihak mahasiswa mendatangi gedung KPK untuk meminta pihaknya tetap fokus mengatasi skandal korupsi KTP-el ini serta saling menyatakan komitmen untuk memberantas korupsi. Dan kemungkinan akan ada aksi massa lagi untuk mengecam dibebaskannya Setya Novanto.
Duh.
Nggak ngerti lagi. Godaan di dunia perpolitikan kayaknya emang semenggoda itu. Mengelola dan berinteraksi langsung dengan uang negara bersatuan triliun mungkin bisa merubah seseorang. Saya juga takut terhadap diri saya sendiri. Masihkah saya adalah saya yang sama jika menghadapi uang sebanyak itu? Saya takut sekali jika suatu saat saya berubah ke arah yang salah.
Pemilu mendatang merupakan momen pertama saya untuk menentukan pilihan. Saya jadi bertanya-tanya, siapa ya yang nanti layak untuk dipilih. Aspek apa yang harus saya lihat dari seseorang jika akan saya pilih sebagai anggota dewan. Saya tidak mau pilihan saya berujung ke seorang anggota DPR yang justru memakan uang rakyat. Udah makan uang rakyat, mangkir pula dari pemeriksaan. Ini PR banget sih buat kita semua. Bagaimana suara kita kelak harus dilabuhkan pada pilihan yang tepat.
Ya sudahlah, mari kita saksikan bagaimana kelanjutan drama KTP-el ini. Semoga terselesaikan. Kalo kata salah satu mahasiswa yang ikut aksi, kasian orang yang belom dapet keping KTP-el, nggak bisa daftar ke KUA buat nikah, hahaha.
Bisakah KTP-el ini menjadi babak akhir perkorupsian Indonesia? Atau justru masih ada yang lebih besar lagi? Hm.
Ditulis oleh mahasiswa yang tangan dan mulutnya masih belom bisa merubah apa-apa.