Pertama kali saya mendengar tentang model minority stereotype yaitu saat menonton video ini. Mungkin bisa ditonton lebih dulu biar lebih paham apasih model minority stereotype itu. Saya singkat jadi MMS aja ya biar gampang, hehehe.
This video was sooooo me. Apa yang saya rasakan bener-bener sama seperti yang dikatakan Olivia Lai. Feeling bad if made a mistake, feeling bad if I am not the best or even perfect. Sudah lebih dari 19 tahun dan MMS ini masih tertanam dalam diri saya. Namanya juga stereotip, susah diubah.
Dari video di atas, MMS is a stereotype which teaches us to achieve a higher degree of success than the average population. Menjadi yang terbaik intinya. Kalo tidak bisa menjadi yang terbaik, kita akan merasa buruk. Apalagi kalo melakukan kesalahan, rasanya seperti dunia kiamat.
Sejak kecil, dalam diri saya sudah tertanam stereotip ini. Saya merasa harus selalu benar dan menjadi yang terbaik masalah nilai di sekolah. Semasa SD dan SMP saya selalu mencapai posisi terbaik tersebut. Selama itu pula saya tidak aware dengan MMS ini. Karena saya bisa mencapai ekspektasi MMS dengan mudah selama kurun waktu tersebut. Semua berjalan dengan sebagaimana mestinya hingga saya beranjak ke bangku SMA.
Pelajaran saya bertambah (saya bersekolah di MAN, jadi ada tambahan beberapa pelajaran agama), tingkat kesulitan pelajaran SMA sudah pasti naik daripada SMP, dan saat itu pertama kalinya saya masuk ke boarding school (baca Kenapa Memilih Boarding School). Kombinasi lengkap sehingga nilai saya turun pas awal-awal. Tiap kali saya tidak bisa memenuhi ekspektasi untuk selalu mendapatkan nilai terbaik, saya selalu merasa sedih. Sedihnya yang sedih diem-diem tapi dalam durasi cukup lama dan biasanya membuat saya kehilangan motivasi untuk melakukan apapun. Bahkan meskipun nilai saya sudah di angka 9, tetapi ada teman saya yang mendapat nilai lebih tinggi, saya tetep bakal merasakan kesedihan tersebut. Padahal di sisi lain, banyak teman-teman yang lain mendapatkan nilai kurang. Jelas banget kan harusnya saya bersyukur, tetapi saya tetep merasa kecewa pada diri sendiri. Saya terlalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
Selama tiga tahun, saya melatih diri untuk berdamai dengan hal tersebut. Berlatih untuk menekan MMS dalam diri saya. Berlatih untuk mensyukuri apa yang saya dapat dan mengapresiasi diri sendiri. Karena saya tau dampak ketika saya tidak mencapai standar dalam MMS adalah saya menjadi manusia super mager, tidak produktif. Dampak ini yang justru make worse kehidupan saya.
Sekarang di kehidupan kuliah, saya mempelajari sesuatu yang totally different dari pelajaran-pelajaran yang saya dapat selama ini. Saya harus belajar dari nol karena ngoding nggak diajarin pas SMA kan. Ya kecuali orang-orang yang ikut Olimpiade Sains Bidang Komputer. Hal ini kadang membuat saya merasa insecure dan kembali dikuasai oleh MMS. Merasa gagal bila kodenya salah. Merasa gagal bila nggak ngerti apa yang orang-orang bicarakan. Padahal harusnya NORMAL kalo masih salah-salah dan nggak ngerti. Tapi tetep, diri ini kecewanya alay. Huhu. Dan kalo udah gitu jadinya males mau ngapa-ngapain, termasuk memperbaiki kode yang salah tadi. Kalo gini dampaknya, kan kacau jadinya.
Sekarang di kehidupan kuliah, saya mempelajari sesuatu yang totally different dari pelajaran-pelajaran yang saya dapat selama ini. Saya harus belajar dari nol karena ngoding nggak diajarin pas SMA kan. Ya kecuali orang-orang yang ikut Olimpiade Sains Bidang Komputer. Hal ini kadang membuat saya merasa insecure dan kembali dikuasai oleh MMS. Merasa gagal bila kodenya salah. Merasa gagal bila nggak ngerti apa yang orang-orang bicarakan. Padahal harusnya NORMAL kalo masih salah-salah dan nggak ngerti. Tapi tetep, diri ini kecewanya alay. Huhu. Dan kalo udah gitu jadinya males mau ngapa-ngapain, termasuk memperbaiki kode yang salah tadi. Kalo gini dampaknya, kan kacau jadinya.
Aku harus menekan MMS ini ...
Hiks.
Masalah lain MMS menurut video di atas adalah jarang atau hampir tidak pernah bertanya. Saya banget sih. Tapi menurut saya ini cuma perihal cara belajar. Saya merasa tidak terlalu belajar kalo nanya-nanya ke orang, hehehe.
How to ...
Jadi sebenernya saya udah tau beberapa cara untuk menekan MMS. Cuma sekarang-sekarang lagi agak kumat, entahlah. Pokoknya ini yang saya lakukan.
1. Curhat. Ini nyerempet masalah psikologis nggak sih? Perasaan sedih, kecewa, tidak puas, terbebani, apalagi yang berlebihan bisa memicu mental illness (baca Mental Illness: Sekilas dan Pengalaman). Jangan dipendam sendiri, kalo memang perlu didengar, suarakanlah. Atau paling nggak tulislah. Kemaren pas saya lagi 'kumat', saya merasa pengen didengar orang lain. Sebatas didengar saja, karena saya tau solusi untuk menekan MMS ada dalam diri saya sendiri. Akhirnya saya ngobrol dengan salah satu teman sambil membuat draft tulisan ini pas kuliah, duh maafin saya nggak fokus kuliah pak dosen. Hehe. Lumayan relieving.
2. Menanamkan konsep sukses bareng dan saling mendoakan. Sukses bareng itu lebih keren daripada sukses sendirian. Kalo bisa sukses bareng, kenapa nggak? Kata-kata itu sangat ditanamkan ke saya saat SMA dulu. Hal ini membuat saya bisa ikut bahagia jika orang lain mampu mencapai yang terbaik. Bukannya malah kecewa dan sedih pada diri sendiri. Tentang saling mendoakan (baca Diikat Dalam Doa), saya diajari untuk tidak cuma peduli dengan keberhasilan saya, tetapi saya juga harus peduli dengan keberhasilan orang lain, caranya yaitu dengan mendoakan. Keduanya bertolak belakang dengan MMS bukan? Makanya saya merasa MMS yang ada di diri saya berhasil ditekan karena dua konsep itu.
3. Self motivation. Karena ini adalah masalah dari internal pribadi, saya rasa solusinya juga dari diri sendiri. Jangan pernah lelah untuk memotivasi diri sendiri, mengapresiasi diri sendiri, mensyukuri hasil, dan memberikan semangat positif ke diri. It does well on me (baca Mental Illness: Sekilas dan Pengalaman).
3. Self motivation. Karena ini adalah masalah dari internal pribadi, saya rasa solusinya juga dari diri sendiri. Jangan pernah lelah untuk memotivasi diri sendiri, mengapresiasi diri sendiri, mensyukuri hasil, dan memberikan semangat positif ke diri. It does well on me (baca Mental Illness: Sekilas dan Pengalaman).
Daritadi saya cuma bilang menekan, karena nggak selamanya MMS ngasih dampak buruk buat saya. Kadang standar tinggi di MMS membuat saya semakin terpacu untuk menjadi lebih dan lebih baik lagi. Saya menjadi keras dalam berusaha. Untuk mencapai standar tinggi, usahanya harus keras kan.
Yah begitulah isi pikiran saya pas kuliah kemarenan. Ada yang kayak saya?